Oct 13, 2026
Bisnis

El Nino Ancam Pasokan, Harga Cabai dan Ayam di Bawah Tekanan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan pantauan Badan Pangan Nasional per awal Oktober, tiga komoditas pangan strategis—cabai rawit, cabai merah, dan daging ayam—menunjukkan sinyal tekan...

El Nino Ancam Pasokan, Harga Cabai dan Ayam di Bawah Tekanan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan pantauan Badan Pangan Nasional per awal Oktober, tiga komoditas pangan strategis—cabai rawit, cabai merah, dan daging ayam—menunjukkan sinyal tekanan harga yang menguat seiring mengeringnya sejumlah sentra produksi. Fenomena El Nino, yang ditandai anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan memicu kemarau panjang di Indonesia, disebut sebagai faktor utama yang mengganggu siklus tanam dan pasokan. Pemerintah menyatakan sedang meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan harga pada tiga komoditas tersebut.

Mengapa El Nino Mengganggu Pasokan Pangan?

El Nino adalah fenomena iklim global yang membuat curah hujan di Indonesia turun di bawah normal. Bagi sektor pertanian, kondisi ini memperpendek masa tanam, menurunkan produktivitas, dan meningkatkan risiko gagal panen. Cabai merupakan tanaman yang sangat sensitif terhadap kekurangan air—kekeringan membuat buah rontok sebelum matang dan menurunkan hasil panen per hektare. Sementara itu, daging ayam tertekan dari dua sisi: kenaikan biaya pakan berbasis jagung yang juga terdampak kekeringan, serta penurunan bobot panen akibat stres panas pada ternak.

Menurut proyeksi Kementerian Pertanian, produksi jagung nasional berpotensi turun 5–7 persen pada periode puncak kemarau dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir. Karena jagung menyumbang sekitar 50–60 persen komposisi pakan ayam ras, penurunan ini langsung berdampak pada struktur biaya peternak. Data historis menunjukkan pola serupa pada El Nino 2015 dan 2019, ketika harga cabai merah di beberapa pasar induk melonjak hingga 40–70 persen dalam rentang tiga bulan.

Pro: Tekanan Harga Bersifat Musiman dan Terukur

Di satu sisi, analis menilai lonjakan harga pangan akibat El Nino masih berada dalam koridor musiman yang bisa diantisipasi. Sentimen pasar terhadap komoditas hortikultura memang cenderung volatil, namun fundamentalnya tidak berubah drastis. Beberapa argumen yang mendukung pandangan ini:

Pertama, pemerintah memiliki instrumen intervensi seperti operasi pasar, Gerakan Pangan Murah, dan penyaluran cadangan pangan. Kedua, infrastruktur irigasi dan pompanisasi yang dibangun dalam beberapa tahun terakhir memberi bantalan pada sentra produksi utama di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Ketiga, pergerakan harga cabai ke depan cenderung kembali normal pada musim hujan, sehingga kenaikan bersifat sementara.

“El Nino kali ini perlu diwaspadai, tetapi tidak perlu dipersepsikan sebagai krisis pangan. Yang penting adalah kecepatan respons distribusi dan ketersediaan data pasokan harian,” ujar seorang ekonom pertanian dari lembaga riset independen.

Kontra: Rantai Pasok Rentan dan Inflasi Pangan Bisa Meluas

Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa risiko tidak bisa diremehkan. Volatilitas harga cabai dan daging ayam memiliki bobot signifikan dalam keranjang inflasi pangan bergejolak (volatile food). Jika keduanya naik bersamaan, indeks harga pangan bisa menekan daya beli rumah tangga, terutama kelompok masyarakat berpendapatan rendah yang porsi belanjanya didominasi bahan pangan.

Beberapa kekhawatiran yang mengemuka:

Pertama, struktur pasar cabai didominasi petani kecil dengan akses penyimpanan dan pendingin terbatas, sehingga fluktuasi pasokan cepat merambat ke harga eceran. Kedua, ketergantungan pada impor pakan dan bahan baku tertentu membuat harga domestik rentan terhadap sentimen pasar global. Ketiga, jika kemarau berkepanjangan, biaya logistik dan distribusi ikut naik karena jalur air menyusut dan biaya pendinginan meningkat.

Secara year-on-year, inflasi pangan bergejolak memang menunjukkan tren yang perlu dicermati. Rasio harga cabai terhadap harga beras—indikator tidak resmi untuk mengukur tekanan hortikultura—juga cenderung melebar pada periode kemarau. Belum lagi potensi capital outflow dari pasar keuangan yang dapat memperlemah rupiah, yang pada akhirnya menaikkan harga barang impor termasuk input pertanian.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Dari kacamata analis, valuasi risiko El Nino terhadap pangan lebih bersifat distribusional ketimbang struktural. Artinya, yang menentukan bukan semata ada atau tidaknya kemarau, melainkan seberapa cepat likuiditas pasokan terjaga di tingkat daerah. Pemerintah daerah yang memiliki data stok dan proyeksi panen yang akurat akan lebih mampu menstabilkan harga dibandingkan yang bergantung pada respons reaktif.

Bagi pelaku usaha dan rumah tangga, mencermati proyeksi iklim serta indeks harga pangan bulanan menjadi langkah bijak dalam mengelola anggaran. Portofolio belanja pangan sebaiknya disesuaikan dengan siklus pasokan—misalnya memanfaatkan periode panen raya untuk kebutuhan konsumsi jangka menengah. Sementara itu, diversifikasi sumber protein dan sayuran lokal dapat mengurangi dampak kenaikan harga komoditas tertentu.

Kesimpulannya, El Nino memang menambah tekanan pada harga cabai dan daging ayam. Namun, seberapa besar dampaknya bergantung pada koordinasi kebijakan, kesiapan infrastruktur, dan kecepatan informasi pasar. Tanpa itu, kenaikan harga yang awalnya musiman bisa berubah menjadi ekspektasi inflasi yang lebih lengket dan merugikan semua pihak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User