Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian per awal 2025, gelombang investasi pusat data berbasis kecerdasan artifisial di Indonesia diproyeksikan tumbuh dua digit year-on-year, seiring kebutuhan komputasi yang melonjak dari layanan cloud, model bahasa besar, dan otomatisasi industri. Namun di balik cerahnya proyeksi tersebut, muncul persoalan fundamental yang jarang dibahas publik: konsumsi air untuk pendinginan server. Setiap megawatt kapasitas komputasi AI menuntut pasokan air bersih dalam volume yang tidak kecil, sehingga ekspansi data center berpotensi menciptakan kompetisi baru antara kebutuhan industri teknologi dan kebutuhan rumah tangga serta pertanian.
Pemerintah melalui Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Wibowo, menegaskan bahwa Indonesia tidak dapat mengabaikan perkembangan AI karena teknologi ini berpotensi menjadi salah satu penentu kekuatan ekonomi masa depan. Karena itu, ia mendapat penugasan untuk mencari solusi atas persoalan konsumsi air yang menyertai pembangunan pusat data. Pernyataan tersebut menandai bahwa isu ini telah naik dari sekadar diskusi teknis menjadi agenda kebijakan lintas sektor.
Skala Kebutuhan Air yang Sering Terlewat dari Perhitungan
Secara teknis, pusat data mendinginkan prosesor dan perangkat jaringan dengan dua cara utama: pendingin udara berbasis refrigeran atau pendingin cairan yang lebih efisien. Metode kedua, yang kian populer untuk beban kerja AI, memakai air sebagai media utama. Rasio pemakaian air efektif atau water usage effectiveness (WUE) menjadi indikator penting; semakin rendah nilainya, semakin efisien fasilitas tersebut. Sejumlah operator global melaporkan WUE di kisaran 1,2 hingga 1,8 liter air per kilowatt-jam konsumsi energi, meskipun angka ini sangat bervariasi bergantung iklim, teknologi pendingin, dan tingkat pemanfaatan server.
Jika satu kampus data center berkapasitas 100 megawatt beroperasi penuh, estimasi konsumsi air hariannya dapat mencapai puluhan ribu meter kubik, setara kebutuhan air bersih sebuah kota kecil. Angka ini belum memperhitungkan konsumsi air tidak langsung dari pembangkit listrik yang memasok energi, terutama pembangkit termal yang juga memakai air untuk pendinginan. Artinya, jejak air dari ekonomi digital jauh lebih besar daripada yang tampak di permukaan.
Pro: Efisiensi Teknologi dan Peluang Ekonomi Baru
Di satu sisi, perkembangan AI membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Investasi data center menarik capital inflow, menciptakan lapangan kerja teknis, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok digital regional. Penerapan AI di sektor manufaktur, logistik, dan jasa keuangan berpotensi menaikkan produktivitas serta efisiensi biaya. Dari kacamata likuiditas global, negara yang mampu menyediakan infrastruktur komputasi andal akan lebih menarik bagi portofolio investor teknologi.
Dari sisi teknologi, inovasi pendinginan terus berkembang: sistem loop tertutup, pemanfaatan air daur ulang, hingga pendinginan imersif yang memangkas kebutuhan air hingga signifikan. Beberapa operator bahkan mengklaim dapat menekan WUE mendekati 0,5 liter per kilowatt-jam. Jika tren ini berlanjut, pertumbuhan kapasitas komputasi tidak harus berbanding lurus dengan konsumsi air. Pendekatan ini memberi ruang bagi Indonesia untuk tumbuh tanpa mengorbankan ketahanan air.
Kontra: Risiko Ketahanan Air dan Beban Daerah
Di sisi lain, risiko yang mengintai tidak bisa diabaikan. Sebagian besar kandidat lokasi data center berada di wilayah dengan infrastruktur listrik dan konektivitas memadai, yang belum tentu kaya sumber air. Beberapa kawasan industri di Jawa dan Batam sudah menunjukkan indikasi tekanan pada akuifer dan pasokan air permukaan. Jika pembangunan tidak dikelola dengan tata ruang yang ketat, konflik air antara industri dan warga dapat meningkat, terutama pada musim kemarau yang dipengaruhi fenomena iklim seperti El Nino.
Analis lingkungan juga mengingatkan bahwa efisiensi teknologi tidak otomatis menyelesaikan persoalan pada tingkat agregat. Efek rebound, yaitu kenaikan total konsumsi akibat bertambahnya kapasitas, sering kali mengalahkan penghematan per unit. Selain itu, air yang dipakai untuk pendinginan umumnya kembali ke lingkungan dalam kondisi lebih hangat, yang dapat memengaruhi ekosistem perairan setempat bila dibuang tanpa pengelolaan memadai.
Jalan Tengah: Regulasi, Standar, dan Insentif
Menanggapi dua perspektif tersebut, langkah yang paling rasional adalah menempatkan efisiensi air sebagai syarat investasi. Pemerintah dapat mewajibkan pelaporan WUE berkala, menerapkan standar minimum daur ulang air, serta memberi insentif fiskal bagi operator yang menggunakan teknologi pendingin rendah air atau sumber air non-konvensional. Penataan lokasi data center juga perlu mempertimbangkan neraca air wilayah, bukan hanya ketersediaan listrik dan serat optik.
"Teknologi AI tidak bisa dihindari, tetapi pertumbuhannya harus terukur dan tidak mengorbankan sumber daya yang menjadi hak publik," kata Dradjad, mencerminkan arah kebijakan yang menyeimbangkan percepatan digital dengan keberlanjutan.
Pada akhirnya, pertanyaan pokoknya bukan apakah Indonesia perlu data center AI, melainkan dengan rasio efisiensi dan tata kelola seperti apa pertumbuhan itu dijalankan. Tanpa kerangka regulasi yang jelas, sentimen pasar akan tetap optimistis pada valuasi jangka pendek, sementara fundamental sumber daya jangka panjang berisiko tergerus. Keseimbangan inilah yang menjadi pekerjaan rumah utama bagi pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat sipil dalam beberapa tahun ke depan.
Comments (0)