Ekonomi Tumbuh 5,29 Persen, Sektor Industri dan Pertanian Diwaspadai
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada triwulan II 2025 tercatat tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Capaian ini me...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada triwulan II 2025 tercatat tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Capaian ini melampaui pertumbuhan triwulan I 2025 yang berada di level 4,87 persen yoy dan lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan sepanjang 2024 yang sebesar 5,03 persen. Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah menilai capaian tersebut layak disyukuri, namun ia mengingatkan agar pemerintah tidak abai terhadap tekanan yang masih membayangi sektor industri dan pertanian.
Apresiasi terhadap Capaian Pertumbuhan
Di satu sisi, angka 5,29 persen menunjukkan fundamental ekonomi domestik yang relatif tangguh di tengah ketidakpastian global. Konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 53 hingga 54 persen terhadap PDB masih menjadi motor utama, ditopang inflasi yang terkendali di kisaran 1,9 persen yoy per Juni 2025 — berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen. Investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB), yakni penanaman modal untuk aset produktif seperti bangunan dan mesin, juga menunjukkan tren membaik.
Dari sisi kebijakan moneter, pelonggaran suku bunga acuan (BI Rate) ke level 5,25 persen memberikan ruang bagi perbankan untuk menurunkan bunga kredit, sehingga likuiditas di sektor riil berpotensi meningkat. Sentimen pasar terhadap aset domestik pun relatif terjaga, tercermin dari arus modal asing yang kembali masuk ke pasar surat berharga negara (SBN) pada periode yang sama.
"Pertumbuhan di atas lima persen patut disyukuri, tetapi kita tidak boleh berpuas diri. Ada sinyal dari sektor industri dan pertanian yang harus diwaspadai agar momentum ini tidak kehilangan pijakan," ujar Said Abdullah.
Kewaspadaan di Sektor Industri Manufaktur
Di sisi lain, kinerja industri pengolahan masih menyimpan pekerjaan rumah. Indeks manufaktur (Purchasing Managers' Index/PMI) Indonesia sempat berada di bawah level 50 pada beberapa bulan terakhir — angka di bawah 50 mengindikasikan kontraksi atau penyusutan aktivitas pabrik. Padahal, sektor ini menyumbang sekitar 18 hingga 19 persen terhadap PDB dan menjadi penyerap tenaga kerja formal dalam skala besar.
Tekanan datang dari berbagai arah: permintaan global yang melemah akibat perlambatan ekonomi Tiongkok, membanjirnya produk impor berharga murah di pasar domestik, serta biaya produksi yang tinggi. Risiko capital outflow — keluarnya modal asing dari suatu negara — yang sewaktu-waktu dapat terjadi juga berpotensi menekan nilai tukar rupiah yang bergerak di kisaran Rp16.000 hingga Rp16.300 per dolar AS, sehingga ongkos impor bahan baku industri kian mahal.
Sektor Pertanian Belum Sepenuhnya Pulih
Sektor pertanian, yang memangku sekitar 12 persen PDB dan menyerap hampir 28 persen tenaga kerja nasional, juga menunjukkan laju pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan sektor lainnya. Gangguan cuaca, kenaikan harga pupuk, serta fluktuasi harga komoditas pangan menjadi faktor penahan. Bila dibiarkan, kondisi ini berisiko menggerus daya beli masyarakat perdesaan yang merupakan basis konsumsi penting bagi perekonomian nasional.
Pro: pertumbuhan 5,29 persen membuka ruang bagi pemerintah untuk menjaga momentum melalui belanja negara yang tepat sasaran, termasuk program padat karya dan dukungan langsung terhadap petani. Kontra: bila tekanan pada industri dan pertanian berlanjut, kualitas pertumbuhan bisa timpang — angka agregat tampak tinggi, tetapi penciptaan lapangan kerja dan kesejahteraan di sektor riil justru tertinggal.
Proyeksi dan Arah Kebijakan ke Depan
Sejumlah lembaga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 berada di rentang 4,8 hingga 5,2 persen. Untuk menjaga tren positif, konsistensi bauran kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci: realisasi belanja APBN perlu dipercepat, sementara ruang pelonggaran moneter tetap bergantung pada stabilitas rupiah dan arus modal asing.
Bagi pelaku pasar dan dunia usaha, data triwulan II ini menegaskan bahwa fundamental domestik masih menjadi jangkar utama perekonomian. Namun, kewaspadaan terhadap sektor industri dan pertanian — sebagaimana diingatkan Banggar DPR — relevan untuk memastikan pertumbuhan tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan. Ke depan, valuasi pasar dan kinerja portofolio investasi akan banyak dipengaruhi oleh kemampuan pemerintah menjawab tantangan struktural tersebut.
Comments (0)