Berdasarkan penilaian Bank Indonesia yang diumumkan pada September 2026, fundamental ekonomi domestik dinilai masih memiliki ruang untuk tumbuh meski suku bunga acuan berada di level yang relatif tinggi. Keputusan menjaga suku bunga pada posisi tersebut merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas rupiah sekaligus menekan laju inflasi, di tengah sentimen pasar global yang masih rapuh akibat ekspektasi kebijakan moneter negara maju yang belum menurun.
Secara makro, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada paruh pertama 2026 tercatat bergerak di kisaran 4,9 persen year-on-year, sedikit melambat dibandingkan capaian 5,1 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pelambatan tersebut tidak terlepas dari dampak suku bunga tinggi yang menekan kredit konsumsi dan investasi, terutama pada segmen rumah tangga berpendapatan menengah. Namun demikian, konsumsi domestik yang menyumbang sekitar 55 persen terhadap produk domestik bruto masih menjadi penopang utama.
Dua Sisi Dampak Suku Bunga Tinggi
Di satu sisi, suku bunga tinggi berfungsi sebagai jangkar bagi nilai tukar rupiah. Dengan selisih suku bunga yang kompetitif terhadap pasar emerging market, aliran modal asing atau capital outflow dapat diredam. Data pasar menunjukkan bahwa pada kuartal II 2026, surplus transaksi modal masih tercatat positif meski lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, inflasi inti yang bergerak di kisaran 2,8 persen — mendekati target 2,5 persen ± 1 persen — mengindikasikan bahwa kebijakan moneternya mulai memberikan hasil.
Di sisi lain, biaya pinjaman yang lebih mahal memberatkan dunia usaha. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan di sektor usaha kecil dan menengah mengalami kenaikan menjadi 3,2 persen per Juni 2026, dari sebelumnya 2,9 persen. Pelaku industri menilai bahwa bunga kredit korporasi yang menembus 10-12 persen memperlambat ekspansi usaha dan menahan rencana penambahan tenaga kerja. Dampaknya terasa pada indeks kepercayaan bisnis yang melemah pada tiga bulan berturut-turut.
Likuiditas dan Preferensi Aset
Di pasar keuangan, likuiditas perbankan masih terjaga berkat dukungan operasi moneter dari Bank Indonesia. Giro wajib minimum diarahkan agar bank tetap memiliki ruang untuk menyalurkan kredit produktif, meski pada kenyataannya permintaan kredit belum sepenuhnya pulih. Investor asing cenderung memilih instrumen surat berharga negara jangka pendek yang memberikan imbal hasil kompetitif dengan risiko nilai tukar yang lebih terkendali. Sebagai gambaran, rasio penjualan asing terhadap total transaksi SBN harian sempat menyentuh 25 persen pada Juli 2026 sebelum mereda ke kisaran 15 persen.
Di pasar saham, valuasi indeks gabungan tercatat bergerak di level 14 kali price-to-earnings ratio, sedikit di bawah rata-rata lima tahun sebesar 15 kali. Kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang masih ragu-ragu, namun sekaligus menunjukkan bahwa harga saham tertentu sudah mulai mencerminkan risiko suku bunga tinggi secara lebih realistis. Bagi investor dengan horizon panjang, perbedaan antara valuasi saat ini dan rata-rata historis menjadi bahan pertimbangan tersendiri dalam menyusun strategi portofolio.
Proyeksi ke Depan
Proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2026 secara konsensus bergerak di kisaran 4,8-5,0 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 5,0 persen. Bank Indonesia memproyeksikan bahwa jika inflasi terkendali dan global tidak mengalami goncangan signifikan, ruang penurunan suku bunga dapat terbuka pada kuartal IV 2026 atau awal 2027.
Pro: terkendalinya inflasi, arus modal yang masih stabil, dan konsumsi domestik yang tangguh memberikan dasar bahwa ekonomi tidak akan masuk ke fase stagnasi meski kebijakan moneter tetap ketat dalam beberapa bulan ke depan.
Kontra: risiko dari luar negeri seperti pelemahan permintaan global, volatilitas harga komoditas, dan potensi perubahan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat dapat memicu tekanan baru pada nilai tukar dan mengurangi ruang gerak kebijakan dalam negeri.
Pada akhirnya, keseimbangan antara menjaga stabilitas makro dan mendorong pertumbuhan menjadi tantangan utama bagi otoritas moneter. Kondisi suku bunga tinggi memang memberikan perlindungan terhadap gejolak eksternal, namun keberlanjutannya perlu dievaluasi agar tidak menggerus daya saing dunia usaha dalam jangka panjang. Pelaku pasar akan memantau rilis data inflasi dan neraca pembayaran berikutnya sebagai indikasi arah kebijakan yang akan ditempuh.
Comments (0)