Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat per kuartal III 2026, perekonomian kawasan Lombok menunjukkan akselerasi yang signifikan seiring persiapan gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026. Sektor akomodasi, penyediaan makan minum, serta perdagangan ritel mencatat pertumbuhan year-on-year sebesar 7,8 persen, jauh melampaui rata-rata nasional yang berada di kisaran 5,0 persen pada periode yang sama. Angka ini menjadi indikasi awal bahwa event berskala internasional mampu menjadi katalis ekonomi lokal, bukan sekadar perhelatan olahraga semata.
Dalam kerangka ekonomi, sport tourism dipahami sebagai aktivitas wisata yang dikaitkan dengan penyelenggaraan event olahraga. Efeknya berlapis: mulai dari belanja wisatawan, okupansi hotel, konsumsi kuliner, hingga permintaan jasa pendukung seperti transportasi dan penyewaan peralatan. Pemerintah daerah mencatat tambahan sekitar 12.000 kunjungan wisatawan pada periode persiapan, dengan rata-rata lama tinggal (length of stay) meningkat dari 2,4 hari menjadi 3,1 hari dibandingkan tahun sebelumnya.
Sisi Positif: Multiplier Effect bagi UMKM dan Tenaga Kerja
Di satu sisi, dampak positif gelaran ini terlihat nyata pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dinas Koperasi dan UKM setempat melaporkan peningkatan omzet UMKM kuliner dan suvenir di sekitar kawasan sirkuit hingga 45 persen dibandingkan bulan biasa. Serapan tenaga kerja temporer juga melonjak, dengan sekitar 3.500 pekerjaan musiman tercipta, mulai dari petugas kebersihan, pemandu, hingga kru logistik.
"Event internasional seperti ini menciptakan permintaan agregat yang cepat dan terkonsentrasi. Selama rantai pasok lokal dilibatkan, efek bergandanya bisa dua hingga tiga kali lipat belanja awal," ujar seorang ekonom pariwisata dari universitas negeri di Mataram.
Dari sisi fiskal, penerimaan daerah dari pajak hotel, restoran, serta retribusi parkir dan hiburan diperkirakan naik Rp18 miliar pada kuartal menjelang event. Angka ini memberi ruang fiskal bagi pemerintah daerah untuk membiayai infrastruktur penunjang jangka panjang, seperti perbaikan jalan akses dan fasilitas publik.
Sisi Lain: Risiko Inflasi dan Ketimpangan Manfaat
Di sisi lain, lonjakan permintaan yang tiba-tiba berpotensi memicu tekanan inflasi lokal. Bank Indonesia mencatat inflasi kota Mataram pada bulan persiapan mencapai 4,2 persen year-on-year, lebih tinggi dari rata-rata nasional 3,1 persen. Kenaikan harga terutama terjadi pada kelompok makanan jadi dan sewa akomodasi, yang bisa menggerus daya beli warga setempat yang tidak memperoleh pendapatan tambahan dari event tersebut.
Kritik lain menyoroti ketimpangan distribusi manfaat. Pelaku usaha besar dan jaringan hotel nasional cenderung menikmati porsi terbesar dari belanja wisatawan, sementara UMKM kerap terkendala akses permodalan dan sertifikasi. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, euforia event bisa bersifat sementara dan meninggalkan kapasitas menganggur (idle capacity) pasca-perhelatan, sebagaimana terjadi pada beberapa event internasional sebelumnya di kawasan lain.
Proyeksi dan Sentimen Pasar Jangka Menengah
Ke depan, proyeksi pertumbuhan ekonomi NTB tahun 2026 dipatok pada kisaran 6,2 hingga 6,8 persen, dengan asumsi event berjalan sesuai jadwal dan tidak ada gangguan eksternal. Namun, keberlanjutan dampak bergantung pada tiga faktor fundamental: pertama, keberlanjutan konektivitas udara dan darat; kedua, kapasitas sumber daya manusia lokal; dan ketiga, diversifikasi produk wisata agar tidak bergantung pada satu event.
Dari kacamata sentimen pasar, gelaran ini turut memperkuat minat investor pada sektor properti dan hospitality di Lombok. Valuasi lahan di radius lima kilometer dari sirkuit dilaporkan naik 20 hingga 30 persen dalam dua tahun terakhir. Meski demikian, likuiditas pasar properti lokal masih tipis, sehingga kenaikan valuasi belum sepenuhnya tercermin dalam transaksi riil.
Kesimpulannya, Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 menawarkan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, ia menjadi motor penggerak ekonomi lokal dan ajang promosi sport tourism. Di sisi lain, tanpa tata kelola yang inklusif dan kebijakan stabilisasi harga, manfaatnya bisa tidak merata dan berumur pendek. Kunci terletak pada kemampuan daerah mengubah momentum menjadi kapasitas ekonomi yang berkelanjutan.
Comments (0)