Oct 04, 2026
Bisnis

Ekonomi Kreatif Batik di Tengah Ekspansi Digital

Berdasarkan data BPS per Juni 2025, sektor ekonomi kreatif (kegiatan ekonomi yang berbasis pada kreativitas, keterampilan dan bakat individu untuk menciptakan nilai tambah) mengalami kenaikan kontribu...

Ekonomi Kreatif Batik di Tengah Ekspansi Digital

Berdasarkan data BPS per Juni 2025, sektor ekonomi kreatif (kegiatan ekonomi yang berbasis pada kreativitas, keterampilan dan bakat individu untuk menciptakan nilai tambah) mengalami kenaikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar 7,30% secara year-on-year. Kenaikan ini turut didorong oleh sub-sektor fesyen dan kriya, yang secara bertahap menjadi salah satu penggerak bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di dalam negeri. Fenomena ini menjadi landasan penting untuk melihat pergeseran pola konsumsi masyarakat, khususnya terhadap produk budaya seperti batik yang kini tidak hanya berfungsi sebagai pakaian adat, namun juga sebagai bagian dari tren fesyen sehari-hari.

Tren Konsumsi Domestik yang Berubah

Di satu sisi, perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu faktor yang memperkuat fundamental (kondisi dasar suatu sektor atau perekonomian yang dapat mempengaruhi kinerja jangka panjang) dari sektor fesyen lokal. Berdasarkan data BPS per Maret 2025, pengeluaran rumah tangga untuk kelompok pakaian dan alas kaki mengalami kenaikan sebesar 6,72% secara year-on-year. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya indeks (ukuran statistik yang digunakan untuk mengukur perubahan suatu variabel dari waktu ke waktu) kepercayaan konsumen yang berada di level 123,1 pada kuartal II tahun 2025, yang mengindikasikan adanya sentimen pasar (pandangan kolektif pelaku pasar terhadap prospek ekonomi atau suatu sektor) yang cukup optimis terhadap daya beli domestik. Melalui pemanfaatan platform digital, produk-produk khas daerah seperti batik dapat menjangkau konsumen di luar wilayah produksinya, sehingga membuka akses pasar yang sebelumnya terbatas bagi para perajin. Hal ini turut memperluas portofolio (kumpulan aset atau produk yang dimiliki oleh suatu pelaku usaha) penjualan bagi UMKM, khususnya bagi mereka yang berada di daerah dengan tingkat likuiditas (kemampuan untuk mengubah aset menjadi uang tunai dengan cepat tanpa mengalami kerugian besar) usaha yang masih terbatas.

Di sisi lain, perlu diperhatikan bahwa daya beli domestik tidak sepenuhnya merata. Berdasarkan data Bank Indonesia per Juli 2025, rasio (perbandingan antara dua angka atau nilai untuk melihat hubungan tertentu) utang rumah tangga terhadap pendapatan disposabel (pendapatan yang tersisa setelah pajak) masih berada pada level 16,8%, dengan beban bunga yang cenderung meningkat akibat suku bunga kebijakan sebesar 5,25%. Kondisi ini dapat membatasi ruang belanja untuk barang non-esensial, termasuk produk fesyen. Selain itu, kenaikan harga bahan baku tekstil dan pewarna alami turut menekan margin keuntungan perajin, sehingga meski terjadi kenaikan volume penjualan, tidak serta merta diikuti oleh kenaikan pendapatan yang proporsional bagi pelaku usaha.

Proyeksi Ekspansi ke Pasar Global

Di satu sisi, ekspansi produk batik ke pasar global dapat menjadi katalis pertumbuhan bagi sektor ekonomi kreatif. Berdasarkan data BPS per semester I tahun 2025, nilai ekspor produk kriya dan kerajinan Indonesia mengalami kenaikan sebesar 8,91% secara year-on-year, dengan negara tujuan utama seperti Amerika Serikat, Jepang, Singapura dan Australia. Tren (pergerakan atau arah perubahan suatu variabel dalam jangka waktu tertentu) ini sejalan dengan meningkatnya permintaan global terhadap produk fesyen yang berkelanjutan dan memiliki nilai budaya. Dengan adanya dorongan untuk memasarkan produk lokal melalui jalur digital, para perajin berpotensi untuk meningkatkan valuasi (penilaian terhadap nilai suatu produk, aset atau usaha) produk mereka, serta menciptakan lapangan kerja baru di daerah penghasil batik. Hal ini dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar domestik, sekaligus memperkuat fundamental ekspor non-komoditas Indonesia.

Di sisi lain, ekspansi ke pasar global tidak terlepas dari tantangan makroekonomi. Berdasarkan data Bank Indonesia per Agustus 2025, tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih terjadi, yang dapat meningkatkan biaya impor bahan pendukung serta biaya logistik. Selain itu, fenomena capital outflow (arus keluar modal asing dari suatu negara) yang sempat meningkat pada periode tertentu dapat mempengaruhi likuiditas valuta asing, sehingga berdampak terhadap biaya pengiriman dan transaksi lintas negara bagi pelaku UMKM. Tidak hanya itu, persaingan dengan produk serupa dari negara lain, serta biaya untuk memenuhi standar kualitas, sertifikasi dan pengemasan ekspor, dapat menjadi hambatan yang signifikan. Berdasarkan proyeksi (perkiraan atas kondisi yang akan terjadi berdasarkan data dan analisis) dari beberapa lembaga terkait, biaya logistik Indonesia masih berada di atas rata-rata negara ASEAN, yang dapat menekan daya saing harga produk kriya.

Menjaga Keseimbangan Pertumbuhan

Di satu sisi, sinergi antara pelaku usaha, platform digital dan dukungan kebijakan dapat memperkuat daya tahan sektor ini. Peningkatan kapasitas produksi, pelatihan desain, serta pemanfaatan data penjualan untuk menyesuaikan stok dapat membantu para perajin dalam mengelola risiko. Dengan memanfaatkan tren konsumsi yang ada, sektor ini berpotensi untuk terus mengalami kenaikan skala usaha, tanpa harus bergantung pada satu segmen pasar saja.

Di sisi lain, keberlanjutan pertumbuhan perlu diimbangi dengan perlindungan terhadap pelaku usaha di hulu. Tanpa adanya penguatan posisi tawar perajin terhadap biaya bahan baku, serta tanpa upaya untuk menekan biaya logistik, maka kenaikan volume penjualan tidak akan berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan. Oleh karena itu, penting untuk melihat sektor ini secara berimbang, dimana pertumbuhan yang terjadi haruslah inklusif, terukur dan berlandaskan pada fundamental yang kuat, agar dapat bertahan di tengah fluktuasi sentimen pasar maupun tekanan makroekonomi global.

"Penguatan ekonomi kreatif harus berorientasi pada nilai tambah, bukan hanya volume. Pemberdayaan perajin, efisiensi rantai pasok dan akses pasar yang adil merupakan kunci untuk menjadikan kreativitas sebagai pilar pertumbuhan yang berkelanjutan."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User