Ekonomi Hijau Jadi Prioritas: Bappenas Tegaskan Arah Pembangunan

Berdasarkan pernyataan resmi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas pada pekan ini, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan bahwa ekonomi hijau merupakan prioritas ...

Aug 07, 2026 - 15:35
0 0
Ekonomi Hijau Jadi Prioritas: Bappenas Tegaskan Arah Pembangunan

Berdasarkan pernyataan resmi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas pada pekan ini, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan bahwa ekonomi hijau merupakan prioritas utama dalam kerangka pembangunan nasional Indonesia. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan global terhadap isu perubahan iklim dan transisi energi, sekaligus menjadi sinyal kuat bagi pasar dan investor bahwa arah kebijakan fiskal dan investasi pemerintah akan semakin berpihak pada sektor-sektor berkelanjutan.

Data Makro dan Konteks Global: Mengapa Ekonomi Hijau Mendesak

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan III-2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,95 persen year-on-year (yoy), sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 5,05 persen. Di sisi lain, emisi gas rumah kaca (GRK) nasional terus meningkat, dengan proyeksi mencapai 1,2 miliar ton CO2 equivalent pada 2030 jika tidak ada intervensi signifikan. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa aliran modal asing ke instrumen berkelanjutan (green bonds) mengalami kenaikan 12 persen sepanjang tahun 2024, menunjukkan minat investor global yang kuat terhadap proyek ramah lingkungan. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan besar: rasio belanja riset terhadap PDB hanya sekitar 0,3 persen, jauh di bawah Thailand (1 persen) dan Vietnam (0,5 persen), sehingga inovasi teknologi hijau domestik masih terbatas.

Di satu sisi, penegasan prioritas ekonomi hijau oleh Bappenas dapat mempercepat realisasi target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia untuk menurunkan emisi 31,89 persen dengan upaya sendiri pada 2030. Di sisi lain, tanpa dukungan pendanaan yang memadai dan transfer teknologi dari negara maju, transisi ini berisiko membebani anggaran negara. Proyeksi Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa kebutuhan investasi hijau mencapai Rp 3.500 triliun hingga 2030, namun realisasi baru sekitar 15 persen dari angka tersebut. Kontra dari kebijakan ini adalah potensi perlambatan di sektor industri padat karbon seperti batu bara dan kelapa sawit, yang masih menyumbang 12 persen dari PDB dan menyerap jutaan tenaga kerja. Jika tidak dikelola hati-hati, transisi bisa memicu gejolak sosial ekonomi di daerah-daerah penghasil komoditas tersebut.

Strategi Implementasi: Dari Rencana ke Aksi Nyata

Bappenas telah menyusun peta jalan ekonomi hijau yang terintegrasi dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Fokus utama meliputi pengembangan energi terbarukan, efisiensi energi, pengelolaan limbah, serta pertanian berkelanjutan. Pemerintah menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) mencapai 23 persen pada 2025, namun realisasi per Desember 2024 baru sekitar 13,5 persen, menurut data Kementerian ESDM. Dalam hal ini, Bappenas mendorong percepatan melalui skema public-private partnership (PPP) dan insentif fiskal seperti tax holiday untuk proyek hijau.

Pro dari strategi ini adalah potensi penciptaan lapangan kerja baru yang signifikan. Studi International Labour Organization (ILO) memperkirakan transisi ekonomi hijau dapat menciptakan 4,5 juta pekerjaan baru di Indonesia hingga 2030, terutama di sektor energi surya, angin, dan pengelolaan sampah. Namun, kontra yang perlu dicermati adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM). Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, hanya 8 persen tenaga kerja Indonesia yang memiliki keterampilan di bidang teknologi hijau. Tanpa program reskilling yang masif, kebijakan ini justru akan memperlebar kesenjangan keterampilan dan meningkatkan angka pengangguran di sektor konvensional. Selain itu, infrastruktur listrik di luar Jawa masih lemah, dengan rasio elektrifikasi di Papua baru 85 persen, sehingga distribusi energi terbarukan menjadi tidak merata.

Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan

Sentimen pasar terhadap kebijakan ini cenderung positif, tercermin dari indeks harga saham sektor energi terbarukan di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengalami kenaikan 7,2 persen sejak awal tahun 2025, lebih tinggi dibandingkan indeks komposit yang hanya tumbuh 3,5 persen. Namun, analis mencatat bahwa valuasi saham hijau masih fluktuatif karena ketergantungan pada kebijakan subsidi dan regulasi. Likuiditas domestik juga menjadi tantangan; rasio kredit hijau terhadap total kredit perbankan baru mencapai 3 persen, menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jauh di bawah target 10 persen pada 2025.

"Ekonomi hijau bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal daya saing ekonomi jangka panjang. Jika kita terlambat, kita akan kehilangan peluang pasar global yang bernilai triliunan dolar," ujar salah satu ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dalam wawancara dengan media nasional.

Proyeksi ke depan, Bappenas menargetkan pertumbuhan ekonomi hijau berkontribusi hingga 7 persen terhadap PDB pada 2030, dengan penurunan intensitas emisi sebesar 40 persen dibandingkan 2020. Namun, skenario ini hanya tercapai jika ada konsistensi kebijakan lintas pemerintah dan dukungan penuh dari parlemen. Kontra dari proyeksi ini adalah risiko capital outflow jika kebijakan fiskal tidak kredibel. Fluktuasi nilai tukar rupiah yang masih rentan terhadap sentimen global, seperti kebijakan suku bunga The Fed, dapat mengurangi daya tarik investasi hijau jangka panjang. Oleh karena itu, koordinasi antara Bappenas, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan menjadi krusial untuk menjaga stabilitas makroekonomi sambil mendorong transformasi struktural.

Sebagai penutup, penegasan Bappenas bahwa ekonomi hijau adalah prioritas utama bukan sekadar wacana, melainkan peta jalan yang membutuhkan eksekusi disiplin. Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya alam dan bonus demografi, tetapi tantangan pendanaan, teknologi, dan SDM tetap menganga. Dengan pendekatan dua sisi—memanfaatkan peluang pasar global dan mengelola risiko domestik—kebijakan ini dapat menjadi fondasi pertumbuhan berkelanjutan yang inklusif, asalkan semua pemangku kepentingan bergerak selaras.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User