Dukun Gadungan di Jakarta Raup Miliaran Rupiah dengan Modus Kenal Orang Istana
Seorang perempuan yang mengaku sebagai dukun berinisial NH (48) berhasil menipu puluhan korbannya setelah mengklaim memiliki hubungan dekat dengan seorang tokoh kaya raya yang sering keluar-masuk Ista...
Seorang perempuan yang mengaku sebagai dukun berinisial NH (48) berhasil menipu puluhan korbannya setelah mengklaim memiliki hubungan dekat dengan seorang tokoh kaya raya yang sering keluar-masuk Istana Negara. Dalam kurun waktu hampir dua tahun, aksi penipuan ini berhasil mengumpulkan dana fantastis yang ditaksir mencapai Rp 9,2 miliar.
Jaringan Kepercayaan yang Dibangun dengan Cerdik
NH memulai operasinya pada awal 2023 dengan membuka praktik pengobatan alternatif di sebuah ruko di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Dari mulut ke mulut, ia dikenal sebagai dukun yang mampu melipatgandakan uang melalui ritual khusus. Untuk memperkuat kredibilitas, ia kerap menceritakan bahwa kemampuan supranaturalnya berasal dari seorang tokoh papan atas yang disebut-sebut sebagai "orang istana". Ia bahkan menunjukkan foto-foto bersama dengan tamu-tamu undangan yang tampak mapan dalam sejumlah acara sosial, yang kemudian terungkap sebagai hasil rekayasa digital.
Dengan narasi yang terstruktur, NH menawarkan paket ritual bertingkat. Paket dasar untuk pembersihan aura seharga Rp 5 juta, hingga paket istimewa senilai Rp 250 juta yang konon dapat mengakses "jalur ajaib" sang tokoh istana untuk melancarkan rezeki dan karier. Setiap paket dijanjikan memberikan hasil dalam hitungan pekan.
Korban dari Berbagai Kalangan
Tidak hanya menarget masyarakat biasa, NH juga berhasil menarik perhatian sejumlah pengusaha kecil dan profesional muda yang tengah terhimpit masalah finansial. Salah satu korban, sebut saja Dini (35), seorang karyawan swasta, mengaku tertipu hingga Rp 120 juta setelah diiming-imingi bahwa uangnya akan kembali berlipat dua dalam sebulan. "Saya percaya karena dia menunjukkan klien-kliennya yang katanya sudah berhasil. Bahkan ada yang diklaim mendapat proyek pemerintah berkat bantuan dukun itu," ujar Dini saat dihubungi.
Data sementara dari kepolisian mencatat setidaknya 47 korban telah melapor dengan total kerugian bervariasi mulai dari Rp 10 juta hingga di atas Rp 500 juta. Para korban ini terhubung melalui grup WhatsApp tertutup yang dikelola oleh asisten NH, yang kini juga sedang dalam pemeriksaan.
Pengungkapan oleh Aparat
Kasus ini terkuak setelah salah satu korban yang merasa curiga melaporkan NH ke Polres Metro Jakarta Selatan pada awal Maret 2025. Tim penyidik kemudian melakukan penggerebekan di tempat praktik NH dan menemukan sejumlah barang bukti, antara lain alat-alat ritual palsu, puluhan buku tabungan, serta dokumen bukti transfer senilai miliaran rupiah. “Dari pemeriksaan sementara, tersangka tidak memiliki kemampuan supranatural apa pun. Ia murni memanfaatkan kepercayaan dan ketakutan korban,” ujar Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Rengga, dalam keterangan pers.
Polisi juga mengendus adanya aliran dana ke sejumlah rekening lain yang diduga milik jaringan penipuan daring. NH dijerat dengan Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan Pasal 3 UU Tindak Pidana Pencucian Uang dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.
Pengamat: Korban Terjebak pada Figur Otoritas
Fenomena penipuan bermodus dukun yang mengaku dekat dengan lingkaran kekuasaan bukanlah hal baru. Psikolog sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Aditya Pratama, menyebut bahwa dalam situasi ekonomi yang penuh tekanan, orang cenderung mencari jalan pintas dan mudah percaya pada figur yang seolah memiliki otoritas besar. “Klaim koneksi dengan istana menciptakan ilusi akses eksklusif. Ini memanipulasi bias kognitif di mana kita cenderung mempercayai mereka yang terlihat memiliki hubungan dengan sumber daya besar,” jelasnya.
Dr. Aditya menambahkan, penggunaan simbol-simbol kemewahan dan foto rekayasa juga memperkuat citra kesuksesan yang diinginkan korban. “Mereka tidak hanya ditipu secara finansial, tetapi juga secara psikologis karena membeli harapan,” katanya.
Jejak Digital dan Pelajaran Berharga
Tim siber kepolisian menemukan bahwa NH juga aktif di media sosial, menggunakan akun-akun anonim untuk menyebarkan testimoni palsu dan foto-foto hasil editan yang menampilkan dirinya bersama tokoh-tokoh yang mirip pejabat negara. Akun-akun ini telah dihapus, namun polisi meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap tawaran-tawaran serupa yang beredar di platform digital.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa di era informasi yang serba terbuka, verifikasi dan pemikiran kritis tetap menjadi tameng terbaik. Jangan mudah terpikat janji-janji kekayaan instan yang bersandar pada nama besar atau hubungan misterius. Segala bentuk tawaran penggandaan uang atau ritual pelancar rezeki yang mengharuskan transfer dana patut dicurigai sebagai penipuan.
Comments (0)