Irvine, California — Festival musik perdana Olivia Rodrigo, Daisy Chain Fields, menuai pujian luas atas konsepnya yang berani: lineup seluruhnya perempuan serta fokus filantropi pada hak reproduksi dan pemberantasan kekerasan berbasis gender. Namun di balik gemerlap panggung dan sorotan positif itu, dua vendor mengaku mengalami kondisi kerja yang buruk dan hingga kini masih menunggu pembayaran atas jasa mereka.
Pengakuan tersebut muncul sekitar satu bulan setelah festival digelar di Great Park, Irvine, California. Sejumlah vendor memang memuji pengalaman bekerja di acara tersebut, tetapi dua lainnya menyatakan hal sebaliknya. Mereka mengklaim telah memenuhi kewajiban menyediakan layanan, namun hak mereka sebagai mitra kerja belum sepenuhnya dipenuhi pihak penyelenggara.
Kasus ini menjadi cermin problem klasik di industri festival musik: ketika sorotan publik tertuju pada aksi panggung dan pesan sosial, nasib pekerja di balik layar — dari penyedia makanan, merchandise, hingga jasa teknis — kerap luput dari perhatian. Padahal, merekalah yang menjaga roda operasional acara tetap berjalan selama berhari-hari.
Kronologi dan Sorotan Masalah
Berdasarkan informasi yang dihimpun, berikut rangkaian persoalan yang mencuat:
- 29 Agustus 2026 — Festival Daisy Chain Fields digelar di Great Park, Irvine, dengan penampilan sejumlah musisi perempuan, termasuk Santigold, di hadapan ribuan penonton.
- Selama acara berlangsung — Dua vendor mengaku menghadapi kondisi kerja yang tidak ideal, meski rincian keluhan belum diungkap secara menyeluruh.
- Satu bulan setelah festival — Kedua vendor menyatakan pembayaran atas jasa mereka belum juga diterima.
- Respons penyelenggara — Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak festival mengenai tuduhan tersebut.
Meski nilai kontrak dan identitas kedua vendor belum dipublikasikan, isu ini menimbulkan pertanyaan serius soal tata kelola keuangan acara berskala besar. Festival yang mengusung narasi pemberdayaan dan keadilan sosial idealnya juga menerapkan prinsip yang sama dalam hubungan kerja dengan seluruh mitranya.
“Kami sudah menuntaskan pekerjaan kami, tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan soal pembayaran,” ujar salah satu vendor, yang identitasnya dirahasiakan.
Situasi ini berpotensi mencoreng citra Daisy Chain Fields, terutama karena festival ini dibangun di atas nilai-nilai etis. Publik yang mendukung acara karena pesan sosialnya tentu berharap nilai tersebut tercermin pula pada cara penyelenggara memperlakukan vendor kecil dan pekerja lepas.
Dampak dan Perhatian Publik
Jika tuduhan ini terbukti, dampaknya bisa berlapis. Vendor berskala kecil biasanya memiliki margin tipis dan sangat bergantung pada pembayaran tepat waktu untuk menjaga arus kas. Keterlambatan satu bulan saja bisa mengganggu operasional mereka, termasuk membayar karyawan dan memasok bahan baku.
Selain itu, reputasi festival di masa depan turut dipertaruhkan. Olivia Rodrigo sebagai figur utama acara memiliki pengaruh besar, dan penggemar cenderung menuntut konsistensi antara pesan di atas panggung dengan praktik di belakang panggung. Tekanan publik dapat mendorong penyelenggara untuk segera menyelesaikan kewajibannya secara transparan.
Sampai saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai total tunggakan maupun jadwal penyelesaiannya. Yang jelas, kasus ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah festival tidak diukur hanya dari jumlah penonton dan sorotan media, tetapi juga dari bagaimana seluruh rantai kerja di dalamnya diperlakukan secara adil.
Comments (0)