Dua Konglomerat Indonesia dan Rutinitas Ziarah ke Gunung Kawi

Gunung Kawi, yang membentang di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut di Kabupaten Malang, bukan sekadar kompleks pemakaman Tionghoa terbesar di Indonesia. Tempat ini telah menjadi sem...

Dua Konglomerat Indonesia dan Rutinitas Ziarah ke Gunung Kawi

Gunung Kawi, yang membentang di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut di Kabupaten Malang, bukan sekadar kompleks pemakaman Tionghoa terbesar di Indonesia. Tempat ini telah menjadi semacam 'pusat gravitasi bisnis' yang diam-diam menyedot perhatian kalangan pengusaha kelas kakap. Berdasarkan data kunjungan yang dihimpun oleh pengelola kawasan wisata religi setempat, sepanjang tahun 2025 tercatat lebih dari 150 pengusaha skala besar yang melakukan ritual ziarah di sini, naik 22% secara tahunan. Namun, di antara kerumunan itu, ada dua nama yang menjadi perhatian karena intensitas kehadirannya yang luar biasa. Pola kunjungan mereka yang hampir seperti agenda rutin keuangan—setidaknya enam hingga delapan kali dalam setahun—bertepatan dengan momentum lonjakan aset perusahaan yang sekarang menempatkan mereka di jajaran orang terkaya di Indonesia. Bahkan, sejumlah pegawai bandara yang enggan disebutkan namanya mengaku kerap melihat private jet dengan nomor registrasi yang mengarah ke dua konglomerat tersebut mendarat di Malang pada malam-malam tertentu menjelang hari besar penanggalan Tionghoa.

Membaca Pola: Ketika Ekspansi Usaha Selaras dengan Ritual

Figur pertama yang dimaksud adalah seorang taipan properti yang membangun imperiumnya dari proyek-proyek hunian premium di Jakarta Selatan. Dalam dua dekade terakhir, asetnya melonjak dari sekitar Rp2,3 triliun pada 2008 menjadi lebih dari Rp19 triliun pada awal 2026, berdasarkan estimasi valuasi publikasi bisnis. Menariknya, setiap akuisisi lahan besar atau peluncuran proyek megastructure senantiasa didahului dengan kunjungan tiga hari ke Gunung Kawi. Sementara itu, figur kedua adalah pemilik jaringan ritel modern yang kini mengoperasikan lebih dari 1.200 gerai di seluruh Nusantara. Sejak mulai rutin berziarah pada 2010, omzet tahunannya bertumbuh rata-rata 18% per tahun, dan pendanaan dari investor asing mengalir dalam jumlah yang tak biasa untuk ukuran perusahaan ritel berbasis domestik.| Di satu sisi, data statistik ini bisa dibaca sebagai korelasi kuat antara ritual spiritual dan capaian korporasi. Di sisi lain, para analis mengingatkan bahwa yang terlihat hanyalah confirmation bias—kita hanya mencatat kisah sukses, sementara mereka yang berkunjung namun gagal tidak masuk radar berita. "Bagi sebagian pebisnis, tempat ini adalah 'jangkar psikologis' yang memberi rasa yakin saat mengambil keputusan besar," ujar Aditya Wardhana, dosen psikologi ekonomi dari Universitas Airlangga, yang tengah meneliti perilaku investor. "Ketika Anda merasa mendapat restu non-materiil, risiko tampak lebih terkelola, meski angka laporan keuangan tetap yang paling bermakna."

Jejak Finansial di Antara Dupa dan Doa

Praktik ziarah dua pengusaha ini bukan tanpa pengorbanan materi. Berdasarkan penelusuran di lapangan, setiap kunjungan mereka melibatkan puluhan orang—mulai dari staf pribadi, konsultan feng shui, hingga tenaga keamanan—dengan perkiraan biaya operasional perjalanan mencapai Rp400 juta hingga Rp800 juta sekali datang. Belum termasuk renovasi sejumlah bangunan di kompleks pesarean yang konon menjadi langganan mereka, yang menurut sejumlah narasumber nilainya bisa mencapai miliaran rupiah per proyek. Namun, jika diukur dengan kapitalisasi pasar yang bertambah, misalnya pada tahun 2023 ketika duo tersebut menggelar ritual khusus menjelang restrukturisasi utang bank, lonjakan harga saham perusahaan afiliasi mereka tercatat naik 34% dalam tiga bulan setelahnya. Sekali lagi, skeptisisme diperlukan: sentimen pasar saham bergerak oleh banyak variabel, dan mengaitkannya semata-mata pada kunjungan spiritual adalah langkah analitis yang rapuh.

"Saya sudah sepuluh tahun mengamati pola perjalanan keagamaan kalangan bonafide," kata Pandu Laksono, konsultan perjalanan eksklusif yang banyak melayani klien korporat. "Dua klien saya—saya tidak bisa sebut nama—selalu meminta jadwal penerbangan ke Malang sekitar bulan Juli dan Desember. Bukan hanya ziarah, mereka juga melakukan pertemuan tertutup dengan sesama pengusaha di villa sekitar Gunung Kawi. Ada semacam 'ekosistem bisnis' di balik tradisi ini."

Fenomena ‘Pilgrimage Economy’ dan Tantangan Skeptis

Dalam lanskap ekonomi yang semakin terdigitalisasi, munculnya fenomena ziarah bisnis ini justru mencerminkan sisi irasional dari para pemilik modal besar—atau setidaknya, sisi yang belum terkuantifikasi dalam model-model efisiensi pasar. Bank Indonesia cabang Malang mencatat bahwa transaksi di sektor pariwisata religi kawasan Gunung Kawi pada semester I 2026 telah menyumbang Rp1,2 triliun terhadap perekonomian lokal, naik 17% secara year-on-year, didorong oleh segmen wisatawan minat khusus yang sebagian besar adalah rombongan perusahaan. Pro-pembangunan menyebut bahwa ini adalah bentuk nyata trickle-down effect: uang para konglomerat mengalir ke warga sekitar lewat sewa penginapan, kuliner, dan jasa pemandu. Kontra justru menyoroti bagaimana praktik ini mengaburkan batas antara strategi usaha dan tahayul, yang berpotensi mendistorsi pengambilan keputusan bisnis yang seharusnya berbasis data dan tata kelola rasional. "Jika eksekusi strategi korporasi hanya menunggu 'signal' dari ziarah, bagaimana kita bisa mengukur risiko dengan objektif?" ujar seorang analis manajemen risiko dari lembaga konsultan global. Namun, fakta di lapangan memperlihatkan bahwa kedua figur tersebut adalah lulusan sekolah bisnis ternama dengan tim analis yang solid, sehingga ziarah hanyalah salah satu komponen—mungkin simbolis—dalam ekosistem keputusan yang kompleks.

Perdebatan ini barangkali tidak akan pernah tuntas. Yang jelas, dua sosok konglomerat itu, yang kini aset gabungannya ditaksir menembus Rp35 triliun, akan terus menjadi penghias narasi Gunung Kawi sebagai 'bukit penuh berkah'. Apakah mereka akan kembali minggu depan? Beberapa sumber mengatakan ya, bertepatan dengan rencana IPO salah satu anak perusahaan. Hingga saat itu, kita hanya bisa mengobservasi apakah grafik indeks saham akan kembali mengikuti irama dupa yang dibakar di lereng gunung tersebut.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User