Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III 2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 4,95 persen secara year-on-year, sementara Bank Indonesia memproyeksikan kisaran 4,7–5,5 persen untuk 2025. Di tengah angka tersebut, ekonom senior Dradjad Wibowo mempertanyakan asumsi Bank Dunia yang memperkirakan laju ekspansi ekonomi nasional hanya menyentuh 5,2 persen pada 2026 dan 2027. Menurutnya, proyeksi lembaga multilateral itu perlu diuji dengan realitas fundamental domestik, bukan sekadar mengikuti tren global yang tengah diliputi ketidakpastian.
Proyeksi Bank Dunia dan Konteks Global
Bank Dunia menempatkan Indonesia pada posisi pertumbuhan moderat, sejalan dengan perlambatan ekonomi dunia yang dipicu ketegangan geopolitik, pelemahan permintaan dari Tiongkok, serta kebijakan suku bunga tinggi di negara maju. Dalam laporan terbarunya, lembaga itu menyoroti risiko capital outflow dan tekanan pada likuiditas global yang dapat membatasi ruang gerak negara berkembang. Angka 5,2 persen sejatinya berada di bawah target pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang mencanangkan pertumbuhan 6,0–7,0 persen pada periode yang sama.
Di satu sisi, proyeksi tersebut mencerminkan kehati-hatian. Rasio utang terhadap PDB yang berada di kisaran 39 persen, defisit anggaran yang dijaga di bawah 3 persen, serta inflasi yang terkendali di 2,5–3,0 persen menjadi bantalan penting. Di sisi lain, angka 5,2 persen dianggap terlalu konservatif bila melihat potensi konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 53 persen PDB dan investasi yang masih tumbuh dua digit di sektor hilirisasi.
"Proyeksi itu bukan wahyu. Waktu yang akan membuktikan apakah asumsi Bank Dunia tepat atau justru meleset," tegas Dradjad dalam sebuah diskusi ekonomi belum lama ini.
Fundamental Domestik sebagai Penentu
Dradjad menekankan bahwa ekonomi Indonesia memiliki karakter yang berbeda dari negara berkembang lain. Cadangan devisa per akhir 2024 berada di posisi 155 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai 6,3 bulan impor. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia bertahan di zona optimistis, di atas level 125. Sementara itu, realisasi investasi kuartal IV 2024 menembus Rp1.650 triliun sepanjang tahun, dengan kontribusi terbesar dari sektor pengolahan nikel dan kendaraan listrik.
Namun, sentimen pasar tidak bisa diabaikan. Ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat, perlambatan ekonomi Eropa, dan fluktuasi harga komoditas menjadi variabel yang sulit diprediksi. Nilai tukar rupiah yang bergerak di kisaran Rp15.800–16.200 per dolar AS sepanjang 2024 menunjukkan volatilitas yang masih membayangi portofolio investor asing. Capital inflow ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) sempat menurun 12 persen secara kuartalan ketika gejolak global memuncak.
Dua Skenario yang Saling Berhadapan
Pro: proyeksi 5,2 persen memberi ruang bagi pemerintah untuk fokus pada kualitas pertumbuhan, bukan sekadar kuantitas. Dengan asumsi tersebut, inflasi dapat dijaga rendah, defisit transaksi berjalan tetap di bawah 2 persen PDB, dan nilai tukar lebih stabil. Ini penting agar fundamental ekonomi tidak rapuh saat guncangan eksternal datang.
Kontra: angka itu berpotensi menjadi self-fulfilling prophecy bila pelaku pasar kehilangan optimisme. Jika investasi melambat dan konsumsi tertahan, target penerimaan pajak yang dipatok Rp1.900 triliun pada 2025 bisa meleset. Dradjad menilai pemerintah perlu mendorong reformasi struktural, terutama di sektor tenaga kerja dan perizinan, agar tren pertumbuhan tidak terjebak di level lima persen.
Yang Harus Dicermati ke Depan
Valuasi pasar saham Indonesia yang berada di kisaran 14–15 kali price-to-earnings ratio masih tergolong murah dibandingkan kawasan ASEAN. Ini bisa menjadi magnet bagi dana asing, asalkan stabilitas politik dan hukum terjaga. Likuiditas perbankan juga terpantau longgar dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sekitar 84 persen, memberi ruang ekspansi kredit yang lebih agresif.
Pada akhirnya, perdebatan soal proyeksi bukanlah soal benar atau salah satu lembaga, melainkan bagaimana respons kebijakan dibangun. Dradjad menutup dengan pesan bahwa waktu akan menjadi hakim terbaik. Jika fundamental dijaga dan reformasi berjalan, bukan tidak mungkin realisasi pertumbuhan melampaui ramalan Bank Dunia. Sebaliknya, bila sentimen pasar memburuk dan capital outflow berlanjut, angka 5,2 persen justru bisa menjadi batas atas yang sulit dilewati.
Comments (0)