Oct 06, 2026
Bisnis

Dilema Pasokan Pangan: Mengurai Paradoks Lonjakan Cabai dan Kejatuhan Unggas

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024, indeks harga konsumen (IHK) nasional mencatatkan tekanan yang didominasi oleh kelompok harga bergejolak (volatile food). Di tengah dinamika...

Dilema Pasokan Pangan: Mengurai Paradoks Lonjakan Cabai dan Kejatuhan Unggas

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024, indeks harga konsumen (IHK) nasional mencatatkan tekanan yang didominasi oleh kelompok harga bergejolak (volatile food). Di tengah dinamika makroekonomi domestik yang menghadapi tantangan transmisi moneter global, sektor agrikultur nasional memperlihatkan fenomena disrupsi pasokan yang tidak simetris. Komoditas cabai rawit terpantau mengalami kenaikan harga yang cukup tajam, sementara di kutub yang berlawanan, harga ayam pedaging hidup (live bird) di tingkat peternak justru mengalami penurunan yang mengkhawatirkan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merespons situasi dualisme harga ini dengan merancang kalkulasi kebijakan guna meredam friksi antara stabilitas inflasi dan perlindungan produsen primer.

Anomali Volatile Food: Lonjakan Cabai Berbanding Terbalik dengan Unggas

Secara fundamental, disparitas harga antar-komoditas pangan mencerminkan struktur rantai pasok yang rentan terhadap gejolak eksternal. Harga cabai rawit merah di berbagai pasar ritel perkotaan sempat menyentuh angka Rp85.000 hingga Rp95.000 per kilogram, atau melonjak sekitar 42,8% secara year-on-year (yoy). Lonjakan ini didorong oleh tren penurunan volume panen akibat anomali iklim basah berkepanjangan di sentra-sentra produksi utama, yang memicu pembusukan tanaman dan kegagalan panen dini. Keterbatasan pasokan fisik ini secara langsung memicu akselerasi harga di tingkat pedagang grosir maupun eceran.

Sebaliknya, harga ayam hidup di tingkat peternak rakyat justru tertekan ke kisaran Rp15.000 hingga Rp16.500 per kilogram. Angka realisasi ini berada jauh di bawah batas bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) pemerintah sebesar Rp21.000 per kilogram. Kondisi tersebut memperlihatkan adanya kelebihan pasokan sementara (oversupply) di pasar peternak mandiri, yang diperparah oleh lemahnya daya serap pasar hilir. Rasio konversi pakan (feed conversion ratio) yang membengkak seiring tingginya harga pakan berbahan baku impor makin mempersempit ruang gerak peternak skala kecil.

Dua Perspektif Pasar: Tekanan Konsumen versus Ancaman Kebangkrutan Peternak

Di satu sisi, melambungnya harga cabai menghadirkan sentimen pasar yang kontradiktif. Kendati memberikan peluang margin keuntungan yang lebih tebal bagi segelintir petani yang masih berhasil panen, kondisi ini secara agregat menekan likuiditas rumah tangga berpenghasilan rendah. Cabai, sebagai salah satu penyumbang bobot inflasi bulanan yang cukup besar, berpotensi memicu rambatan ekspektasi inflasi jika dibiarkan tanpa pasokan substitusi. Rumah tangga terpaksa merealokasi portofolio belanja kebutuhan pokok mereka guna mengompensasi lonjakan harga bumbu dapur utama tersebut.

Di sisi lain, anjloknya harga ayam broiler hidup menghadirkan ancaman deflasi sektoral yang destruktif bagi para peternak mandiri. Kejatuhan harga jual hingga berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) yang berkisar Rp19.500 hingga Rp20.500 per kilogram berisiko mengikis modal kerja pelaku usaha peternakan. Jika likuiditas operasional terus tergerus tanpa adanya penyangga harga, proyeksi industri mengindikasikan potensi kebangkrutan massal peternak rakyat. Hal ini pada gilirannya dapat mendorong konsolidasi pasar ke tangan segelintir korporasi terintegrasi, merusak valuasi keadilan berusaha dalam rantai industri perunggasan nasional.

Respons Kebijakan dan Proyeksi Keseimbangan Pasar Pangan

Menanggapi disparitas tersebut, Kementerian Pertanian menggarisbawahi urgensi penataan ulang tata niaga hulu-hilir secara simultan. Respons Mentan menekankan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada operasi pasar jangka pendek, melainkan juga menata instrumen regulasi agar harga di tingkat hulu tetap berada pada rentang keekonomian yang wajar. Untuk meredam kenaikan cabai, fasilitasi logistik dari daerah surplus ke daerah defisit digencarkan guna memotong rantai perantara yang kerap memanfaatkan sentimen kelangkaan.

Adapun untuk mengatasi anjloknya harga ayam ras pedaging, intervensi difokuskan pada manajemen suplai melalui pemangkasan telur tetas dan optimalisasi peran BUMN pangan untuk menyerap karkas ayam beku. Langkah ini dipandang krusial agar tidak terjadi kepanikan pasar yang memicu capital outflow dari sektor agribisnis skala mikro ke sektor non-produktif. Dengan kalibrasi kebijakan yang presisi, proyeksi inflasi pangan diharapkan tetap berada dalam koridor target nasional, sekaligus memastikan keberlanjutan mata pencaharian petani dan peternak di seluruh Nusantara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User