Di Balik Viral Lowongan Gembala Domba di China
Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China per kuartal pertama 2025, tingkat pengangguran kaum muda usia 16 hingga 24 tahun tercatat berada pada angka 18,7 persen, mengalami kenaikan signifikan se...
Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China per kuartal pertama 2025, tingkat pengangguran kaum muda usia 16 hingga 24 tahun tercatat berada pada angka 18,7 persen, mengalami kenaikan signifikan secara year-on-year dari posisi 14,9 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi latar yang tidak bisa diabaikan ketika membedah fenomena viral yang tengah mengguncang lanskap ketenagakerjaan Negeri Tirai Bambu: sebanyak 700 pelamar dari beragam latar belakang pendidikan dan profesional berebut satu lowongan pekerjaan sebagai gembala domba di sebuah peternakan di wilayah pedalaman.
Fenomena ini bukan sekadar anekdot media sosial. Ia merupakan cermin dari tekanan struktural yang tengah mencengkeram pasar tenaga kerja China. Di satu sisi, lonjakan jumlah pelamar untuk pekerjaan yang secara historis dipandang sebagai pekerjaan rendahan menunjukkan betapa sempitnya ruang gerak para pencari kerja muda. Di sisi lain, tingginya animo ini juga mengindikasikan adanya pergeseran preferensi dan ekspektasi di kalangan Generasi Z China yang mulai meragukan janji kemapanan dari sektor-sektor yang selama ini menjadi primadona, seperti teknologi dan keuangan.
Potret Pasar Kerja yang Makin Sempit
Untuk memahami mengapa lowongan gembala domba bisa memicu tsunami lamaran, kita perlu melihat konstelasi ekonomi makro China secara lebih jernih. Pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2024 tercatat sebesar 4,8 persen, melambat dari 5,2 persen di tahun 2023. Perlambatan ini, meskipun secara nominal masih tergolong tinggi dibandingkan negara-negara maju, telah menciptakan efek domino yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Sektor properti yang biasanya menjadi lokomotif penciptaan lapangan kerja tengah mengalami kontraksi berkepanjangan. Sementara itu, industri teknologi yang dahulu menyerap puluhan ribu lulusan baru setiap tahunnya kini justru melakukan efisiensi besar-besaran.
Data dari Kementerian Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial China menunjukkan bahwa rasio lowongan terhadap pencari kerja di kota-kota besar telah menyusut dari 1,45 pada tahun 2021 menjadi hanya 0,89 pada awal 2025. Artinya, untuk setiap 100 pencari kerja, hanya tersedia 89 lowongan. Ini adalah pertama kalinya dalam dua dekade terakhir rasio tersebut jatuh di bawah angka satu. Fundamental ketenagakerjaan yang melemah ini diperparah oleh fakta bahwa China setiap tahunnya meluluskan lebih dari 11 juta sarjana baru yang langsung memasuki pasar kerja yang sudah sangat sesak.
Dua Sisi Fenomena Gembala
Pro: Di satu sisi, tingginya minat terhadap pekerjaan sebagai gembala domba dapat dibaca sebagai sinyal adaptabilitas dan pragmatisme dari angkatan kerja muda China. Alih-alih bertahan dalam ilusi pekerjaan kantoran bergengsi dengan gaji tinggi yang semakin langka, mereka memilih untuk mengambil jalur alternatif yang lebih pasti. Pekerjaan sebagai gembala di peternakan modern China bukan lagi semata-mata pekerjaan tradisional berpenghasilan rendah. Beberapa peternakan skala besar kini menawarkan paket kompensasi yang mencakup gaji pokok antara 8.000 hingga 12.000 yuan per bulan, akomodasi, serta tunjangan kesehatan. Angka ini sebenarnya cukup kompetitif jika dibandingkan dengan gaji awal lulusan baru di kota-kota tier dua dan tiga yang berkisar antara 6.000 hingga 9.000 yuan per bulan.
Kontra: Namun demikian, di sisi lain, fenomena ini juga mengungkapkan adanya ketidakcocokan keterampilan atau skill mismatch yang kronis dalam pasar tenaga kerja China. Banyak dari 700 pelamar tersebut dilaporkan memiliki gelar sarjana, bahkan beberapa di antaranya berasal dari universitas-universitas elite seperti Tsinghua dan Peking. Ketika lulusan teknik dan ekonomi harus bersaing memperebutkan pekerjaan yang secara teknis tidak memerlukan pendidikan tinggi, ada sesuatu yang fundamental yang sedang tidak beres dalam sistem. Ini mengindikasikan bahwa investasi besar-besaran China dalam pendidikan tinggi selama dua dekade terakhir belum sepenuhnya terkonversi menjadi lapangan kerja yang sesuai dengan kualifikasi lulusan. Terjadi apa yang oleh para ekonom disebut sebagai krisis overkualifikasi struktural, sebuah kondisi di mana pasokan tenaga kerja berpendidikan tinggi jauh melampaui permintaan riil di pasar.
Pergeseran Sentimen dan Implikasi Jangka Panjang
Sentimen di kalangan pencari kerja muda China telah bergeser secara fundamental. Jika satu dekade lalu narasi dominan adalah bekerja keras di kota besar dan meraih kesuksesan finansial, kini narasi yang mengemuka cenderung bernuansa mencari kehidupan yang lebih bermakna dengan menjauhi tekanan kota. Fenomena ini memiliki nama dalam bahasa Mandarin: tangping atau “berbaring datar”, sebuah gerakan penolakan terhadap budaya kerja berlebihan yang selama ini menjadi ciri khas ekonomi China. Melamar menjadi gembala domba, dalam konteks ini, adalah manifestasi konkret dari tangping: menerima pekerjaan yang lebih sederhana dengan tekanan yang lebih rendah, ketimbang terjebak dalam siklus kerja 60 jam seminggu di perusahaan rintisan yang sewaktu-waktu bisa bangkrut.
Dari perspektif kebijakan, pemerintah China menghadapi dilema yang tidak sederhana. Di satu sisi, Beijing perlu mendorong penciptaan lapangan kerja berkualitas tinggi untuk menampung gelombang lulusan baru. Di sisi lain, transisi ekonomi China dari model pertumbuhan berbasis investasi dan ekspor menuju model berbasis konsumsi domestik dan inovasi justru menuntut efisiensi yang sering kali berarti pengurangan tenaga kerja di sektor-sektor tradisional. Proyeksi dari Akademi Ilmu Sosial China menunjukkan bahwa kesenjangan antara jumlah lulusan baru dan lapangan kerja yang sesuai kualifikasi akan terus melebar setidaknya hingga tahun 2027, dengan perkiraan surplus tenaga kerja terdidik mencapai 15 juta orang per tahun.
Valuasi dari fenomena ini tidak bisa dilakukan secara hitam-putih. Tidak ada yang salah dengan memilih menjadi gembala domba jika itu adalah keputusan sadar yang diambil berdasarkan kalkulasi rasional tentang kualitas hidup. Namun, jika pilihan tersebut diambil semata-mata karena tidak adanya alternatif yang lebih baik, maka kita sedang menyaksikan alarm bahaya dari salah satu ekonomi terbesar dunia, sebuah peringatan bahwa mesin pertumbuhan yang selama ini diandalkan untuk menciptakan kemakmuran mulai kehabisan bahan bakar dalam hal penciptaan kesempatan yang setara bagi generasi mudanya.
Fenomena 700 pelamar untuk satu posisi gembala domba pada akhirnya adalah kanari di tambang batu bara. Ia adalah sinyal awal dari masalah struktural yang jauh lebih dalam di pasar tenaga kerja China, masalah yang tidak akan terselesaikan hanya dengan satu atau dua paket stimulus ekonomi, melainkan membutuhkan perombakan fundamental dalam cara ekonomi terbesar kedua di dunia ini menciptakan, mendistribusikan, dan menghargai pekerjaan.
Comments (0)