Aug 24, 2026
Bisnis

Destry Damayanti: Stabilitas Rupiah Prioritas Utama BI

Lanskap moneter Indonesia mengalami transisi penting. Perry Warjiyo, yang telah memimpin Bank Indonesia (BI) sejak 2018, secara mengejutkan mengajukan pengunduran diri efektif 20 Mei 2025. Pengganti s...

Destry Damayanti: Stabilitas Rupiah Prioritas Utama BI

Lanskap moneter Indonesia mengalami transisi penting. Perry Warjiyo, yang telah memimpin Bank Indonesia (BI) sejak 2018, secara mengejutkan mengajukan pengunduran diri efektif 20 Mei 2025. Pengganti sementara adalah Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti, yang kini menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur BI. Penunjukan ini menandai pertama kalinya seorang perempuan menduduki pucuk tertinggi bank sentral, meski untuk sementara.

Destry, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan doktor dari Universitas Melbourne, bukanlah figur baru di dunia moneter. Sebelum menjabat sebagai Deputi Gubernur BI pada 2019, ia pernah memimpin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) selama dua periode. Pengalamannya di bidang stabilitas keuangan menjadi bekal krusial di tengah tekanan global yang memukul mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dalam pernyataan perdananya sebagai Plt Gubernur, Destry langsung menyampaikan pesan tegas. “Nilai tukar prioritas kita,” ujarnya singkat namun penuh makna, mengisyaratkan bahwa BI tidak akan ragu mengerahkan seluruh instrumen untuk menjaga kestabilan rupiah.

Transisi yang Penuh Spekulasi

Pengunduran diri Perry Warjiyo yang masih memiliki sisa masa jabatan hingga 2028 memunculkan berbagai dugaan. Beberapa analis menduga ada tekanan politik, namun BI membantahnya. Gubernur yang dikenal dengan kebijakan akomodatifnya itu hanya menyatakan ingin memberikan kesempatan regenerasi. Proses transisi pun berlangsung cepat, dengan Menteri Keuangan dan Dewan Gubernur BI segera menunjuk Destry untuk mengisi kekosongan.

Destry sendiri dinilai sebagai sosok moderat yang mampu merangkul berbagai kepentingan. Di internal BI, ia dikenal sebagai teknokrat yang tenang namun tegas. Rekam jejaknya dalam menjaga stabilitas LPS saat krisis 2008 lalu menjadi referensi kepercayaan pasar. Kini, dengan posisi barunya, ia dihadapkan pada ujian berat: menjaga rupiah dari gejolak eksternal sambil memastikan pemulihan ekonomi domestik tetap berjalan.

Rupiah di Pusaran Tekanan Global

Kondisi rupiah memang sedang tidak baik-baik saja. Berdasarkan data Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menembus level Rp16.500 per dolar pada awal Mei 2025, terendah sejak April 2020. Pelemahan ini dipicu oleh penguatan dolar AS yang agresif pasca-kebijakan hawkish The Fed, serta eskalasi ketegangan geopolitik yang memicu capital outflow dari pasar negara berkembang. Sepanjang kuartal I-2025 saja, asing mencatatkan penjualan bersih di pasar obligasi Indonesia senilai Rp42,3 triliun.

Untuk meredam volatilitas, BI di bawah arahan Destry diperkirakan akan mempertahankan pendekatan triple intervention: di pasar valas spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini telah menguras cadangan devisa Indonesia yang per April 2025 tercatat sebesar USD129,8 miliar, turun USD4,2 miliar dari posisi akhir 2024.

Di sisi lain, Destry juga menyadari bahwa intervensi saja tidak cukup. Ia mendorong bauran kebijakan antara moneter dan fiskal. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, ia mengkritisi perlunya insentif bagi eksportir untuk membawa pulang devisa hasil ekspor (DHE) serta percepatan hilirisasi yang dapat mengurangi ketergantungan impor. Kebijakan tersebut, menurutnya, dapat menciptakan fundamental nilai tukar yang lebih solid.

Tantangan Inflasi dan Pertumbuhan

Meski tekanan eksternal besar, inflasi domestik relatif terkendali. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan per April 2025 berada di level 2,8% (year-on-year), masih dalam kisaran target BI 1,5-3,5%. Hal ini memberikan ruang bagi Destry untuk tidak terburu-buru mengerek suku bunga acuan BI-Rate yang saat ini bertahan di 6,25%. Namun, ia tetap harus waspada terhadap imported inflation akibat pelemahan rupiah yang dapat mengerek harga barang impor, terutama pangan dan energi.

Pasar merespons positif penunjukan Destry. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,47% pada hari pengumuman, dan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun stabil di kisaran 7,1%. Investor memandang Destry sebagai figur kredibel yang dapat menjaga kesinambungan kebijakan. Namun, pekerjaan rumah sesungguhnya baru dimulai: menjaga keseimbangan antara stabilitas eksternal dan pemulihan ekonomi domestik yang konsumsi rumah tangganya mulai melambat.

Harapan ke Depan

Transisi kepemimpinan di BI ini menjadi momen krusial bagi perekonomian Indonesia. Dengan pengalaman dan ketenangannya, Destry diyakini mampu mengarungi masa sulit ini. Fokusnya pada stabilitas rupiah menunjukkan bahwa BI tidak akan menyerah pada tekanan pasar, sekaligus membuka ruang bagi reformasi kebijakan yang lebih terintegrasi. Kini, semua mata tertuju pada langkah selanjutnya dari perempuan pertama di pucuk pimpinan Bank Indonesia tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User