Aug 25, 2026
Bisnis

Destry Damayanti Pimpin BI: Antara Stabilitas dan Ekspektasi Baru

Kursi Gubernur Bank Indonesia resmi beralih sementara ke tangan Destry Damayanti, setelah Perry Warjiyo menyatakan pengunduran diri lebih awal dari periode jabatan yang seharusnya berakhir pada 2028. ...

Destry Damayanti Pimpin BI: Antara Stabilitas dan Ekspektasi Baru

Kursi Gubernur Bank Indonesia resmi beralih sementara ke tangan Destry Damayanti, setelah Perry Warjiyo menyatakan pengunduran diri lebih awal dari periode jabatan yang seharusnya berakhir pada 2028. Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat dan penetapan Presiden menempatkan perempuan pertama yang menjabat Senior Deputy Governor ini sebagai pejabat sementara, memimpin otoritas moneter di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya mereda. Berdasarkan data Bank Indonesia per kuartal I 2025, cadangan devisa tercatat sebesar 148,7 miliar dolar AS, menurun dari posisi akhir tahun lalu yang berada di level 152,3 miliar. Angka ini mencerminkan intervensi rutin untuk menjaga stabilitas rupiah yang masih dibayangi sentimen kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Transisi di Tengah Gejolak Eksternal

Momen pergantian kepemimpinan selalu menjadi ujian bagi kredibilitas institusi. Berdasarkan catatan Bloomberg, pada pekan pengumuman, rupiah sempat mengalami pelemahan intraday sebesar 0,35% ke posisi Rp15.860 per dolar AS, sebelum kembali menguat tipis setelah pernyataan Destry dalam konferensi pers pertamanya. Di satu sisi, pasar merespons positif rekam jejak Destry yang dikenal sebagai teknokrat dengan pengalaman lebih dari dua dekade di bidang moneter, perbankan, dan sistem pembayaran. Di sisi lain, muncul kekhawatiran akan adanya jeda pengambilan keputusan strategis—seperti perubahan BI Rate atau kebijakan makroprudensial—yang bisa menunda respons terhadap inflasi inti yang masih berada di 2,8% year-on-year per Mei 2025. Angka ini sesungguhnya masih dalam kisaran target BI sebesar 2,5±1%, namun tren kenaikan harga pangan global memberikan tekanan baru.

Profil Destry: Teknokrat dengan Jejak Stabilitas

Destry bukan wajah baru di kompleks Bank Indonesia. Sebelum menjadi deputi senior pada 2022, ia memimpin departemen kebijakan makroprudensial dan pernah mengepalai Lembaga Penjamin Simpanan. Kalangan pasar modal mengenalnya sebagai figur yang konsisten mengedepankan kebijakan berbasis data. Dalam riset yang dirilis Mandiri Sekuritas, disebutkan bahwa selama Destry menjabat sebagai deputi, volatilitas nilai tukar efektif rupiah terhadap mitra dagang utama cenderung lebih rendah 12% dibandingkan periode sebelumnya, sekalipun ada faktor pandemi yang turut mempengaruhi. Proyeksi analis memperkirakan bahwa pejabat gubernur baru akan melanjutkan kerangka kebijakan bauran—kombinasi moneter, fiskal, dan reformasi struktural—yang telah dijalankan pendahulunya. Namun, sentimen pasar menuntut lebih dari sekadar kontinuitas. Beberapa fund manager asing mengharapkan pelonggaran giro wajib minimum sebagai stimulus sektor riil, terutama karena pertumbuhan kredit perbankan pada April 2025 hanya mencatat 9,1% secara tahunan, jauh dari target optimistis 12%.

Dua Sisi Ekspektasi: Optimisme dan Keraguan

Pro: Kalangan pelaku pasar obligasi menyambut positif transisi ini. Yield obligasi pemerintah seri 10 tahun justru turun 5 basis poin pada hari pengumuman, menandakan bahwa investor institusional memandang risiko politik dan kebijakan tetap terkendali. Head of Fixed Income Research dari CIMB Niaga, dalam wawancara eksklusif, menyatakan bahwa “Destry memiliki jaringan internasional yang kuat serta pemahaman mendalam soal spillover kebijakan moneter global, sehingga Bank Indonesia berpotensi mengurangi ketergantungan pada intervensi valas yang menguras cadangan devisa.” Kontra: Namun, sejumlah pengamat dari lembaga pemeringkat mengingatkan bahwa independensi BI bisa diuji. Sejarah mencatat bahwa transisi mendadak sering memicu spekulasi terkait tekanan politik, apalagi menjelang tahun pemilu. Kekhawatiran itu tercermin dalam data premi risiko investasi (CDS 5 tahun) yang naik tipis ke level 78 bps, dibandingkan rata-rata 75 bps sebulan sebelumnya. Di samping itu, agenda reformasi sektor keuangan yang memerlukan keputusan gubernur definitif berpotensi tertunda.

Prospek Kebijakan dan Agenda Mendesak

Ke depan, setidaknya tiga pekerjaan rumah besar menanti Destry. Pertama, menjaga agar inflasi inti tidak lolos dari batas atas target sekaligus mengantisipasi imported inflation apabila rupiah kembali tertekan. Kedua, melanjutkan digitalisasi sistem pembayaran dan persiapan rupiah digital, yang kini memasuki tahap uji coba teknis. Ketiga, menjaga keseimbangan antara menjaga stabilitas eksternal dan menyediakan likuiditas yang cukup untuk pembiayaan fiskal. Dalam jangka pendek, pelaku pasar akan mencermati setiap pernyataan dan isyarat dari rapat dewan gubernur bulanan. Apabila pejabat gubernur mampu menunjukkan kejelasan arah kebijakan, bukan tidak mungkin capital inflow akan kembali, mengingat fundamental ekonomi Indonesia dengan pertumbuhan PDB kuartal pertama 5,1% masih relatif solid. Namun jika muncul inkonsistensi, capital outflow yang pada Mei 2025 sudah mencapai Rp4,2 triliun dari pasar saham bisa berlanjut. Pada akhirnya, transisi ini menjadi momen pembuktian bahwa Bank Indonesia tetap menjadi benteng stabilitas, sekaligus membuka peluang penyegaran strategi di bawah kepemimpinan baru yang definitif nantinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User