Destry Damayanti Laporkan Kondisi Moneter Terkini kepada Prabowo
Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin, 27 Juli 2026. Pertemuan yang berlangsung se...
Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin, 27 Juli 2026. Pertemuan yang berlangsung selama hampir dua jam itu membahas berbagai dinamika ekonomi domestik dan global yang tengah memengaruhi stabilitas sistem keuangan nasional. Kehadiran Destry menjadi krusial di tengah masa transisi kepemimpinan di bank sentral, sekaligus menegaskan pentingnya komunikasi intensif antara otoritas moneter dan pemerintah.
Membaca Peta Inflasi dan Arah Suku Bunga
Dalam pemaparannya, Destry menyodorkan data terkini yang menunjukkan tingkat inflasi inti Indonesia berada di kisaran 2,8 persen secara tahunan (year-on-year) per Juni 2026. Angka ini sedikit melandai dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 2,95 persen, sejalan dengan mulai meredanya tekanan harga pangan global. Meski demikian, Bank Indonesia tetap mencermati risiko dari sisi harga energi dan potensi kenaikan tarif listrik yang direncanakan pemerintah pada paruh kedua tahun ini. Destry juga melaporkan bahwa BI 7-Day Reverse Repo Rate saat ini dipertahankan pada level 5,75 persen, sebuah level yang dinilai cukup untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa mengorbankan momentum pemulihan kredit perbankan.
Di satu sisi, posisi suku bunga yang relatif tinggi mampu menahan aliran modal keluar (capital outflow) dan menopang daya tarik imbal hasil obligasi pemerintah di mata investor asing. Namun di sisi lain, kalangan dunia usaha menyuarakan kekhawatiran bahwa biaya pinjaman yang belum turun signifikan akan menghambat ekspansi sektor manufaktur dan usaha kecil menengah. Destry mengakui adanya tensi tersebut dan menekankan bahwa bank sentral akan terus mengkalibrasi kebijakan berdasarkan tiga pilar utama: stabilitas harga, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Sinergi di Tengah Ketidakpastian Global
Pertemuan itu juga menjadi ajang untuk memperkuat koordinasi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter BI. Presiden Prabowo menyoroti pentingnya langkah antisipatif menghadapi perlambatan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang utama, seperti Tiongkok dan kawasan Eropa, yang berpotensi menekan kinerja ekspor nasional. Data ekspor nonmigas Indonesia pada kuartal I-2026 memang terkontraksi 1,2 persen secara kuartalan, meskipun secara tahunan masih tumbuh 3,4 persen. Destry memaparkan bahwa cadangan devisa Indonesia per akhir Juni 2026 tercatat sebesar USD 139,5 miliar, setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau di atas standar kecukupan internasional. Angka ini menjadi bumper penting bagi rupiah yang bergerak di kisaran Rp15.450–Rp15.650 per dolar AS dalam beberapa pekan terakhir.
Kedua pihak juga membahas bauran instrumen yang bisa digunakan untuk menjaga likuiditas di pasar obligasi, termasuk perpanjangan tenor Surat Berharga Negara (SBN) dan penguatan peran Bank Indonesia dalam pembelian SBN di pasar sekunder sesuai koridor yang berlaku. Sinergi ini bukan hal baru, namun di bawah arahan Presiden Prabowo, koordinasi akan diintensifkan melalui forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang beranggotakan BI, OJK, LPS, dan Kementerian Keuangan.
Proyeksi dan Komitmen Bank Sentral
Destry turut menyampaikan proyeksi terbaru BI yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berada di rentang 5,0–5,4 persen, ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan peningkatan realisasi belanja infrastruktur pemerintah. Meski demikian, ia mengingatkan agar kewaspadaan tetap dijaga karena ketidakpastian kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, masih membayangi. Apabila the Fed kembali menaikkan suku bunga acuan, tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan domestik akan meningkat.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo mengapresiasi langkah BI yang dinilai responsif terhadap gejolak eksternal, sembari mendorong agar penyaluran kredit perbankan ke sektor prioritas, seperti pertanian, energi terbarukan, dan perumahan rakyat, terus diakselerasi. Data OJK menunjukkan penyaluran kredit perbankan tumbuh 8,9 persen secara tahunan per Mei 2026, dengan kontribusi terbesar dari segmen kredit konsumsi dan modal kerja. Destry optimistis target pertumbuhan kredit tahun ini sebesar 10–12 persen dapat tercapai sepanjang stabilitas makroekonomi terjaga.
Kunjungan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa masa jabatan Pejabat Sementara Gubernur BI tidak sekadar bersifat transisional, melainkan tetap menjalankan fungsi strategis pengelolaan moneter secara penuh. Komitmen untuk menjaga independensi bank sentral, sebagaimana diamanatkan undang-undang, kembali ditegaskan oleh kedua pihak. Pertemuan ditutup dengan kesepakatan untuk melanjutkan dialog rutin, bukan hanya dalam format resmi KSSK, tetapi juga pertemuan bilateral setiap triwulan guna merespons cepat setiap perubahan fundamental ekonomi yang memerlukan sinergi langsung antara pemerintah dan Bank Indonesia.
Comments (0)