Desil 9 dan 10 Bukan Label Sultan, Ini Makna Statistik di Baliknya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan Indonesia per Maret 2024 tercatat sebesar 9,03 persen, sementara rasio Gini—alat ukur ketimpangan dengan rentang 0 hingga 1—berada ...

Aug 22, 2026 - 02:30
0 0
Desil 9 dan 10 Bukan Label Sultan, Ini Makna Statistik di Baliknya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan Indonesia per Maret 2024 tercatat sebesar 9,03 persen, sementara rasio Gini—alat ukur ketimpangan dengan rentang 0 hingga 1—berada pada angka 0,379. Di balik dua indikator makro tersebut, terdapat instrumen statistik yang kerap disalahpahami publik: desil. Ketika daftar nama pada desil 9 dan 10 ramai diperbincangkan di media sosial, banyak pihak menafsirkannya sebagai daftar orang kaya atau “sultan”. Padahal, secara metodologis, desil bukanlah label kelas kekayaan, melainkan posisi relatif sebuah rumah tangga dalam sepuluh kelompok kesejahteraan.

Desil: Posisi Relatif, Bukan Gelar Kekayaan

Dalam statistika, desil adalah pembagian populasi ke dalam sepuluh bagian yang sama besar. Pada konteks kesejahteraan rumah tangga, desil 1 menampung 10 persen rumah tangga dengan kondisi paling bawah, sementara desil 10 menampung 10 persen rumah tangga paling atas. Dengan jumlah hampir 90 juta rumah tangga di Indonesia, satu desil setara dengan sekitar 9 juta rumah tangga—bukan segelintir individu.

Konsekuensinya, berada di desil 9 atau 10 tidak otomatis berarti kaya secara absolut. Seseorang dapat masuk kelompok teratas karena lebih sejahtera dibanding 80 persen rumah tangga lainnya, tetapi tingkat kesejahteraannya secara absolut bisa jauh dari ambang kemakmuran. Istilah “sultan” karena itu keliru secara konseptual: desil mengukur peringkat relatif, bukan status mutlak.

39 Variabel: Mengapa Satu Angka Tidak Cukup

Penempatan rumah tangga pada desil tertentu tidak ditentukan oleh satu indikator tunggal seperti pendapatan. BPS menggunakan 39 variabel yang mencakup pengeluaran konsumsi, kepemilikan aset, kondisi tempat tinggal, akses pendidikan, fasilitas sanitasi, hingga karakteristik sosial-ekonomi lainnya. Seluruh variabel itu diolah menjadi skor komposit yang kemudian memeringkat rumah tangga dari terendah hingga tertinggi.

Pendekatan multi-variabel ini menjawab kelemahan pengukuran berbasis pendapatan semata. Sebagian besar rumah tangga Indonesia bekerja di sektor informal, sehingga pendapatan sulit dicatat secara akurat. Dengan menimbang pengeluaran dan aset, hasil pengukuran menjadi lebih tahan terhadap fluktuasi penghasilan bulanan. Namun, metodologi ini juga memiliki batas: data survei bersifat titik waktu, sehingga posisi desil dapat berubah pada setiap periode pencacahan.

Pro dan Kontra Pembacaan Desil

Di satu sisi, penggunaan desil menghadirkan kejelasan dan objektivitas. Karena berbasis data terukur, desil menjadi dasar yang dapat dipertanggungjawabkan untuk menyalurkan bantuan sosial atau beasiswa, termasuk skema pembiayaan pendidikan yang menyasar kelompok desil rendah. Pendekatan ini menekan potensi salah sasaran dibanding seleksi berbasis subjektivitas.

Di sisi lain, para kritikus mengingatkan bahwa desil adalah potret statis. Rumah tangga dapat berpindah desil akibat perubahan harga, bencana, atau dinamika pasar kerja, sementara keputusan kebijakan kerap mengacu pada data tahun sebelumnya. Ada pula kekhawatiran bahwa variabel survei belum sepenuhnya menangkap kekayaan tersembunyi—aset yang tidak dilaporkan—sehingga peringkat yang dihasilkan bisa melenceng dari realitas lapangan.

“Desil adalah cermin, bukan vonis. Ia menunjukkan posisi relatif sebuah rumah tangga pada titik waktu tertentu dan harus dibaca bersama konteks agar tidak menyesatkan arah kebijakan,” ujar seorang ekonom kepada Beritadua.

Catatan untuk Publik dan Pembuat Kebijakan

Memahami desil sebagai posisi relatif membawa implikasi nyata. Bagi publik, pemahaman ini meredam narasi yang memecah belah—bahwa kelompok atas adalah “sultan” dan kelompok bawah sekadar beban. Faktanya, di dalam desil 10 pun terdapat rumah tangga dengan tingkat kesejahteraan yang sangat beragam, karena satu desil mencakup jutaan unit rumah tangga.

Bagi pembuat kebijakan, desil tetap relevan sebagai instrumen penargetan, tetapi tidak boleh berdiri sendiri. Kombinasi dengan data yang lebih mutakhir, verifikasi lapangan, dan mekanisme pengaduan akan memperkuat akurasi penyaluran. Pada akhirnya, desil adalah alat statistik yang netral: ia hanya bekerja sebaik data yang mengisinya dan sejernih interpretasi yang menyertainya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User