Densus 88 Sita Belasan Barang Bukti dari Rumah Terduga Pelaku Ledakan Dadaha

Ledakan keras yang mengguncang Kompleks Olahraga Dadaha di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Jumat malam (7/3/2025) langsung memicu respons cepat aparat k

Densus 88 Sita Belasan Barang Bukti dari Rumah Terduga Pelaku Ledakan Dadaha

Ledakan keras yang mengguncang Kompleks Olahraga Dadaha di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Jumat malam (7/3/2025) langsung memicu respons cepat aparat keamanan. Insiden yang berlangsung sekitar pukul 21.30 WIB itu merusak sebagian fasilitas tribun dan menimbulkan kepanikan di kalangan warga yang tengah beraktivitas di sekitar area olahraga. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kerusakan material ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

Tak butuh waktu lama, Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror langsung turun tangan. Setelah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan sejumlah barang bukti awal, tim mengarahkan penyelidikan pada seorang terduga pelaku yang diduga merakit dan menyimpan bahan peledak di rumahnya.

Rumah Terduga Digeledah, Belasan Barang Bukti Disita

Pada Minggu dini hari (9/3/2025), personel Densus 88 bergerak ke sebuah rumah sederhana di kawasan padat penduduk, tak jauh dari kompleks olahraga. Rumah itu diduga milik terduga pelaku berinisial AR (29). Penggeledahan berlangsung ketat dengan pengamanan penuh dari aparat kepolisian setempat.

Dari dalam rumah, petugas menyita belasan barang yang diduga berkaitan langsung dengan perakitan bahan peledak rakitan. Beberapa di antaranya adalah 5 jeriken berisi cairan asam nitrat dan aseton, sekantong serbuk putih yang diduga amonium nitrat, rangkaian elektronik dengan detonator rakitan, serta sejumlah pipa besi dan paku yang telah dimodifikasi. Selain itu, ditemukan pula beberapa buku dan catatan bertuliskan tangan yang diduga memuat instruksi perakitan bom.

"Kami telah mengamankan barang bukti yang cukup kuat untuk melanjutkan penyidikan. Bahan-bahan yang ditemukan identik dengan sisa ledakan di Dadaha. Ini menunjukkan keterkaitan langsung antara tersangka dan peristiwa tersebut," ujar Komisaris Besar Polisi Aswin Siregar, Kabag Penum Divisi Humas Polri, dalam jumpa pers di Mabes Polri, Senin (10/3/2025).

Jejak Digital dan Dugaan Radikalisme

Penyidik juga menemukan sejumlah bukti digital dari telepon genggam dan laptop terduga. Data awal menunjukkan bahwa AR aktif dalam sejumlah forum daring yang kerap menyebarkan konten radikal dan tutorial perakitan bom. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) turut dilibatkan untuk menelusuri aliran dana yang diduga digunakan membeli bahan kimia tersebut.

AR, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan, diduga mengalami proses radikalisasi melalui media sosial dalam dua tahun terakhir. Lingkungannya yang tertutup dan minim interaksi dengan komunitas sekitar membuat aparat sulit mendeteksi pergerakannya lebih awal.

Respons Warga dan Penguatan Keamanan

Peristiwa ini sontak membuat warga Dadaha dan sekitarnya cemas. Sejumlah warga yang tinggal tak jauh dari rumah terduga mengaku tidak menyangka jika tetangga mereka bisa terlibat aksi teror. "Dia orangnya pendiam, jarang bergaul. Kalau lewat cuma senyum tipis. Kami kaget ada penggeledahan besar-besaran," kata Yati (45), tetangga AR.

Pascainsiden, kepolisian memperkuat patroli di area publik dan fasilitas olahraga. Kapolres Tasikmalaya, AKBP Roni Faisal, meminta masyarakat untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan. Pihaknya juga membuka posko pengaduan bagi warga yang mencurigai aktivitas tidak wajar di lingkungannya.

"Kami pastikan situasi sudah terkendali. Terduga pelaku sudah diamankan dan kini dalam pemeriksaan intensif. Masyarakat jangan panik, tetapi jika menemukan hal mencurigakan segera laporkan ke kantor polisi terdekat," imbau AKBP Roni.

Ancaman "Lone Wolf" di Daerah

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Sapto Priyanto, menilai kasus ini menunjukkan bahwa ancaman lone wolf atau pelaku tunggal masih nyata di Indonesia, termasuk di daerah yang selama ini dianggap aman. "Pelaku tidak selalu terafiliasi jaringan besar. Mereka bisa belajar secara mandiri dari internet. Ini yang membuat deteksi menjadi sangat sulit," jelasnya.

Menurutnya, keberhasilan Densus 88 mengungkap kasus ini dalam waktu singkat patut diapresiasi, namun perlu diimbangi dengan penguatan program deradikalisasi di tingkat akar rumput. Keterlibatan tokoh agama, pendidik, dan pemerintah daerah menjadi kunci untuk mencegah regenerasi sel teror serupa.

Hingga berita ini diturunkan, Densus 88 masih terus mendalami kemungkinan adanya jaringan lain yang terlibat. Hasil pemeriksaan intensif terhadap AR diharapkan bisa membuka tabir motif sebenarnya di balik ledakan yang menggetarkan Dadaha tersebut.

[SOCIAL_TWEET]: Densus 88 amankan belasan barang bukti dari rumah terduga pelaku ledakan di Kompleks Olahraga Dadaha, Tasikmalaya. Bahan kimia, detonator rakitan, dan buku instruksi bom disita. Terduga AR (29) diduga terpapar radikal via medsos. #Densus88 #Tasikmalaya #Terorisme #BomRakitan[SOCIAL_TG]: 💥 Ledakan di Kompleks Olahraga Dadaha, Tasikmalaya. Densus 88 langsung sita bahan kimia & detonator dari rumah terduga. Pelaku diduga lone wolf. Info lengkap di sini! 👇

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User