Defisit Dagang Dua Bulan, Mendag: Bukan karena Ekspor Melemah

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis awal Februari 2026, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut, yaitu Desember 2025 dan Januari 2026. Defi...

Aug 07, 2026 - 13:45
0 0
Defisit Dagang Dua Bulan, Mendag: Bukan karena Ekspor Melemah

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis awal Februari 2026, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut, yaitu Desember 2025 dan Januari 2026. Defisit tersebut tercatat sebesar 1,2 miliar dolar AS pada Desember 2025 dan 0,8 miliar dolar AS pada Januari 2026. Angka ini berbalik dari surplus 2,3 miliar dolar AS pada November 2025. Menteri Perdagangan Budi Santoso, dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (5/2/2026), menegaskan bahwa defisit ini bukan disebabkan oleh pelemahan ekspor, melainkan oleh lonjakan impor, terutama bahan baku dan barang modal untuk industri dalam negeri.

Penyebab Defisit: Impor Melonjak, Bukan Ekspor Turun

Menurut Mendag Budi Santoso, ekspor Indonesia pada Januari 2026 justru mengalami kenaikan year-on-year sebesar 4,2 persen, mencapai 21,5 miliar dolar AS. Sementara itu, impor melonjak lebih tinggi, yaitu 12,7 persen year-on-year menjadi 22,3 miliar dolar AS. "Jadi, defisit ini bukan karena ekspor kita turun. Ekspor kita tumbuh, tapi impor tumbuh lebih cepat. Ini sinyal bahwa aktivitas industri dan konsumsi domestik sedang menggeliat," ujarnya. Data BPS menunjukkan bahwa impor bahan baku penolong naik 15,3 persen, sementara impor barang modal naik 18,9 persen. Kedua kategori ini mencakup 78 persen dari total impor, mengindikasikan permintaan input produksi yang kuat dari sektor manufaktur.

Di sisi lain, beberapa analis mengingatkan bahwa defisit yang berkelanjutan dapat menekan nilai tukar rupiah dan mengurangi cadangan devisa. Namun, Mendag membantah kekhawatiran tersebut dengan menyebutkan bahwa cadangan devisa Indonesia masih berada di level aman, yaitu 145 miliar dolar AS per akhir Januari 2026, cukup untuk membiayai 6,5 bulan impor dan 7,1 bulan impor plus pembayaran utang luar negeri. "Fundamental kita kuat. Defisit ini bersifat siklikal, bukan struktural," tegasnya.

Pro dan Kontra: Sentimen Pasar vs Kebutuhan Industri

Di satu sisi, defisit dua bulan berturut-turut memang memicu sentimen negatif di pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi 0,8 persen dalam sepekan terakhir, sementara nilai tukar rupiah melemah tipis ke level Rp15.900 per dolar AS. Beberapa ekonom dari lembaga riset swasta memproyeksikan bahwa jika defisit berlanjut hingga kuartal pertama 2026, akan terjadi capital outflow dari pasar obligasi domestik, yang berpotensi menaikkan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) hingga 25 basis poin.

Di sisi lain, ekonom dari Pusat Kajian Ekonomi Makro Universitas Indonesia, Dr. Faisal Rahman, menilai bahwa lonjakan impor barang modal justru merupakan sinyal positif untuk pertumbuhan jangka panjang. "Impor mesin dan peralatan industri menunjukkan bahwa perusahaan sedang berekspansi. Ini akan meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing ekspor di masa depan. Jadi, defisit jangka pendek bisa menjadi investasi untuk surplus jangka panjang," jelasnya. Ia mencontohkan tren serupa yang terjadi pada 2022, ketika defisit akibat impor bahan baku diikuti oleh lonjakan ekspor manufaktur setahun kemudian.

Proyeksi dan Langkah Pemerintah

Pemerintah, melalui Kementerian Perdagangan, berencana mempercepat realisasi perjanjian dagang bilateral dengan beberapa negara mitra, seperti Uni Emirat Arab dan Brasil, untuk membuka pasar ekspor baru. Selain itu, Mendag menyebutkan bahwa pemerintah akan memantau impor barang konsumsi yang bukan kebutuhan pokok, seperti produk elektronik dan kosmetik, untuk memastikan tidak ada lonjakan yang tidak wajar. "Kami tidak akan memberlakukan larangan, tapi kami akan memperketat pengawasan melalui instrumen non-tarif," katanya.

Berdasarkan proyeksi internal Kementerian Perdagangan, neraca perdagangan diperkirakan akan kembali surplus pada Maret 2026 seiring dengan normalisasi impor setelah periode libur akhir tahun dan perayaan keagamaan. Namun, proyeksi ini bergantung pada stabilitas harga komoditas global, terutama minyak mentah dan batu bara, yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Jika harga minyak mentah turun di bawah 70 dolar AS per barel, surplus tersebut bisa tertunda. Dengan demikian, meskipun Mendag optimistis, risiko eksternal tetap menjadi faktor yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User