Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyerap sekitar 97 persen dari total tenaga kerja nasional, atau setara dengan 119,6 juta orang. Di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menerpa berbagai sektor formal sepanjang 2023-2024, sebagian pekerja beralih menjadi pelaku usaha mandiri. Salah satu kisah yang mencuat ke permukaan adalah seorang pria bernama Udin, mantan pekerja yang kehilangan mata pencahariannya, lalu membangun usaha bakso keliling di Jakarta. Dari aktivitas viral di platform TikTok, usahanya kini mencatat omzet harian hingga Rp5 juta.
Kisah semacam ini bukan sekadar narasi personal. Ia mencerminkan tren makro yang lebih besar: pergeseran tenaga kerja dari sektor formal ke sektor informal, serta meningkatnya peran ekonomi digital dalam menopang likuiditas rumah tangga. Namun, di balik cerita sukses tersebut, terdapat dua sisi yang perlu dianalisis secara berimbang.
Di Satu Sisi: UMKM sebagai Katup Penyelamat Ekonomi
Di satu sisi, pertumbuhan UMKM berbasis kuliner menunjukkan resiliensi ekonomi rakyat. Kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai sekitar 61 persen per 2023, menurut data Kementerian Koperasi dan UKM. Sektor makanan dan minuman menjadi salah satu motor utama, dengan pertumbuhan year-on-year (YoY) sektor akomodasi dan makan minum sebesar 5,01 persen pada kuartal IV 2023.
Model bisnis seperti yang dijalankan Udin—berjualan bakso keliling dengan memanfaatkan viralitas media sosial—memiliki struktur biaya rendah. Tanpa sewa ruko, modal awal relatif kecil, dan rotasi stok cepat. Ini menciptakan apa yang dalam terminologi ekonomi disebut sebagai low-barrier entry business, yaitu jenis usaha yang mudah dimasuki oleh pelaku baru. Ketika lapangan kerja formal menyusut, sektor ini menjadi penyangga sosial yang efektif.
Kemampuan memanfaatkan platform digital juga menjadi faktor pengungkit. Algoritma TikTok memungkinkan konten sederhana tentang proses masak atau interaksi dengan pembeli menjangkau audiens luas tanpa biaya iklan besar. Dalam konteks ini, sentimen pasar terhadap produk lokal dapat terbentuk secara organik. Omzet Rp5 juta per hari, jika dikonversi, setara dengan Rp150 juta per bulan—sebuah angka yang melampaui pendapatan banyak pekerja kantoran di kelas menengah bawah.
Di Sisi Lain: Kerentanan Struktural dan Ilusi Formalitas
Di sisi lain, keberhasilan Udin tidak boleh digeneralisasi. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa dari total UMKM, hanya sekitar 15-20 persen yang mampu naik kelas menjadi usaha menengah. Sisanya stagnan atau bahkan gulung tikar dalam waktu kurang dari tiga tahun. Likuiditas usaha mikro sangat rentan terhadap gejolak harga bahan baku, kenaikan harga gas elpiji, serta fluktuasi daya beli masyarakat.
Selain itu, status informal membuat pelaku usaha seperti Udin tidak memiliki jaminan sosial ketenagakerjaan, akses kredit perbankan yang memadai, maupun perlindungan hukum yang setara dengan pekerja formal. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan masih berkisar 19-20 persen per awal 2024, jauh dari target pemerintah sebesar 30 persen. Artinya, meski omzet terlihat besar, valuasi usaha sulit diukur dan portofolio keuangan pribadi tetap rentan terhadap guncangan eksternal.
Fenomena viral juga memiliki risiko keberlanjutan. Tren algoritma dapat berubah, dan lonjakan permintaan yang didorong rasa penasaran sesaat sering kali tidak diikuti loyalitas pelanggan. Dalam bahasa pasar, ini adalah hype-driven demand yang tidak selalu mencerminkan fundamental bisnis yang kuat.
Proyeksi dan Implikasi Kebijakan
Ke depan, proyeksi pertumbuhan UMKM kuliner akan sangat bergantung pada tiga faktor: stabilitas inflasi pangan, akses pembiayaan, dan literasi digital. Bank Indonesia mencatat inflasi pangan bergejolak (volatile food) masih menjadi penyumbang utama inflasi umum, yang per Maret 2024 berada di kisaran 3,05 persen YoY. Jika harga bahan baku tidak stabil, margin keuntungan pelaku usaha mikro akan tergerus.
Dari perspektif kebijakan, kisah Udin seharusnya menjadi pemicu untuk memperkuat ekosistem UMKM, bukan hanya meromantisasi peralihan dari pekerja formal ke informal. Diperlukan insentif fiskal, pendampingan manajemen keuangan, serta integrasi data antara platform digital dan lembaga pembiayaan. Tanpa itu, narasi sukses individual akan tetap menjadi pengecualian, bukan aturan.
Pada akhirnya, kisah bakso viral ini adalah cermin dua wajah ekonomi Indonesia: kreativitas dan ketangguhan di satu sisi, serta kerentanan struktural dan keterbatasan jaring pengaman di sisi lain. Keseimbangan antara keduanya akan menentukan apakah tren ini berlanjut sebagai penggerak ekonomi atau sekadar gelembung yang menunggu waktu untuk meletus.
Comments (0)