Dari Pekerja Migran ke Pengusaha Olahan Laut: Kisah Rosyidah dan C'milzea

Setelah belasan tahun mengadu nasib sebagai pekerja migran di luar negeri, Rosyidah memutuskan pulang ke tanah air dengan tekad membangun kemandirian ekonomi. Perempuan asal pesisir Jawa Tengah itu me...

Jul 27, 2026 - 23:22
0 0
Dari Pekerja Migran ke Pengusaha Olahan Laut: Kisah Rosyidah dan C'milzea

Setelah belasan tahun mengadu nasib sebagai pekerja migran di luar negeri, Rosyidah memutuskan pulang ke tanah air dengan tekad membangun kemandirian ekonomi. Perempuan asal pesisir Jawa Tengah itu melihat potensi besar dari hasil laut yang selama ini kurang dioptimalkan di daerahnya. Dari sinilah lahir C'milzea, sebuah usaha mikro pengolahan aneka produk laut yang perlahan menjelma menjadi mesin penggerak ekonomi keluarga sekaligus inspirasi bagi mantan pekerja migran lainnya.

Rosyidah bukanlah sosok yang asing dengan kerja keras. Selama lebih dari satu dekade, ia menghabiskan waktunya bekerja di sektor domestik di Timur Tengah. Pengalaman itu memberinya bekal disiplin, pengelolaan keuangan dasar, serta pemahaman tentang selera pasar internasional. Namun pulang kampung tidak serta-merta mudah. Modal terbatas dan jaringan pasar yang minim menjadi tembok awal yang harus ia robohkan.

Kembali ke Tanah Air dengan Mimpi Baru

Ide memulai C'milzea muncul ketika Rosyidah mengamati melimpahnya hasil tangkapan nelayan lokal yang kerap dijual dengan harga rendah atau bahkan terbuang saat musim panen. “Saya melihat ikan-ikan kecil, cumi, dan udang yang tidak termanfaatkan secara maksimal. Padahal jika diolah dengan baik, nilai jualnya bisa naik berkali-kali lipat,” kenangnya. Ia mulai bereksperimen di dapur rumah, membuat keripik cumi renyah, abon ikan tuna, stik udang, dan sambal roa kemasan. Respons dari tetangga dan kerabat sangat positif, namun untuk naik kelas, ia butuh lebih dari sekadar semangat.

Titik balik terjadi ketika Rosyidah mendengar program BRI Peduli yang menyasar pemberdayaan pelaku usaha ultra-mikro, terutama mereka yang baru memulai atau berasal dari kelompok rentan. Setelah melalui proses seleksi, ia menerima bantuan modal kerja ringan yang langsung ia gunakan untuk membeli alat pengering, mesin pengemas, dan bahan baku dalam jumlah lebih stabil. “Pinjaman dari BRI Peduli itu seperti oksigen bagi usaha saya yang baru merangkak. Syaratnya mudah dan tanpa agunan memberatkan,” ujarnya.

Dukungan BRI Peduli yang Mengubah Segalanya

Bantuan finansial dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI itu bukan sekadar uang. Rosyidah juga mendapatkan pendampingan usaha dari fasilitator yang mengajarinya manajemen stok, pencatatan keuangan sederhana, serta strategi pemasaran digital. Perlahan, produk C'milzea mulai menembus pasar yang lebih luas. Dari yang semula hanya dititip di warung-warung kecil, kini camilan laut buatannya tersedia di beberapa toko oleh-oleh dan marketplace lokal.

Salah satu kunci keberhasilan C'milzea adalah diversifikasi produk. Rosyidah tidak hanya mengandalkan satu jenis olahan. Ia menciptakan varian rasa pedas manis dan original untuk setiap produk, menggunakan kemasan standing pouch yang menarik, serta menyertakan label halal. Omset bulanannya kini mencapai Rp25 juta hingga Rp30 juta, naik lebih dari 400 persen dibandingkan tahun pertama berdiri. Pendapatan tersebut tidak hanya menghidupi keluarganya, tetapi juga memberi penghidupan bagi delapan orang tetangga yang bekerja sebagai tenaga produksi dan pengemasan.

Kisah Rosyidah membuktikan bahwa migrasi pulang tidak harus identik dengan ketidakberdayaan ekonomi. Dengan dukungan permodalan dan pelatihan yang tepat sasaran, para purna pekerja migran mampu menjadi motor penggerak ekonomi desa. Data Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menunjukkan lebih dari 70 persen mantan pekerja migran kesulitan memperoleh pekerjaan layak setelah kembali. Program seperti BRI Peduli menjadi jembatan penting untuk mentransformasi remitan menjadi aset produktif berkelanjutan.

Ekspansi Pasar dan Dampak Sosial

Saat ini, C'milzea tengah mempersiapkan ekspansi ke pasar regional. Rosyidah sedang menjajaki kerja sama dengan distributor oleh-oleh di Semarang dan Yogyakarta, dua kota dengan trafik wisatawan tinggi. Ia juga aktif mengikuti pameran UMKM yang difasilitasi oleh BRI, sehingga jejaringnya semakin luas. “Dulu saya hanya berpikir bagaimana caranya bertahan, sekarang saya justru berpikir bagaimana berkembang lebih besar,” tutur perempuan tiga anak itu.

Dari sisi dampak, kehadiran C'milzea juga mengerek harga jual hasil tangkapan nelayan lokal. Rosyidah kini menjadi satu-satunya offtaker bagi enam kelompok nelayan kecil di desanya, dengan komitmen pembelian rutin dua kali seminggu. Hal ini memberikan kepastian pendapatan bagi para nelayan yang sebelumnya bergantung pada tengkulak. Menurutnya, ini adalah bentuk ekonomi sirkular yang nyata: uang dari pembeli produk olahan kembali ke tangan nelayan, lalu berputar di desa.

Bagi BRI, pemberdayaan seperti yang dialami Rosyidah sejalan dengan misi perusahaan untuk menjadi agen pembangunan. Hingga akhir 2025, BRI Peduli telah menyalurkan bantuan modal dan pelatihan kepada lebih dari 15.000 pengusaha ultra-mikro di sektor pertanian, perikanan, dan kerajinan, dengan tingkat keberhasilan usaha mencapai 82 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa inklusi keuangan yang diiringi literasi bisnis mampu menciptakan wirausaha tangguh dari kelompok yang selama ini termarginalkan.

Perjalanan Rosyidah dan C'milzea adalah bukti bahwa pulang kampung bukanlah akhir dari perjuangan. Dengan ketekunan dan akses terhadap dukungan yang tepat, purna pekerja migran dapat menulis ulang narasi kehidupan mereka: bukan lagi sebagai pencari kerja, melainkan sebagai pencipta lapangan kerja. Senyum Rosyidah saat memamerkan berbagai produk di etalase kecilnya menyiratkan optimisme bahwa laut Indonesia masih menyimpan ribuan cerita sukses yang menunggu untuk digarap.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User