Dari Dapur Rumahan, Sahate Menembus Pasar Global lewat Digitalisasi UMKM
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per semester I 2026, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi penopang utama perekonomian nasional dengan kontribusi sekitar 61 persen ...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per semester I 2026, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi penopang utama perekonomian nasional dengan kontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja dalam negeri. Meski porsinya besar, sumbangan UMKM terhadap nilai ekspor nasional baru berkisar 15 persen—sebuah kesenjangan yang menjadi pekerjaan rumah bersama antara pelaku usaha, pemerintah, dan industri perbankan. Di celah itulah lahir kisah Lince Sulastri, pendiri Sahate, yang membuktikan bahwa camilan sehat berbahan dasar beras mampu menembus pasar global meski berawal dari dapur rumahahan.
Dari Dapur Rumahan ke Pasar Global
Sahate lahir dari kegelisahan sederhana: bagaimana menghadirkan camilan yang tidak hanya lezat, tetapi juga aman bagi konsumen yang sensitif terhadap gluten. Gluten, protein yang umum ditemukan pada gandum, menjadi pantangan bagi sebagian orang, termasuk penderita celiac dan mereka yang menjalani pola makan bebas gluten. Lince menjawab kebutuhan itu dengan mengolah beras—bahan pangan yang produksinya di dalam negeri mencapai lebih dari 31 juta ton per tahun menurut catatan BPS—menjadi produk camilan sehat yang nilai tambahnya jauh lebih tinggi dibandingkan penjualan beras dalam bentuk mentah.
Perjalanan ini tidak linier. Sebagai usaha yang lahir dari skala rumahan, Sahate sempat menghadapi persoalan klasik UMKM: keterbatasan modal, manajemen keuangan yang sederhana, dan jangkauan pemasaran yang sempit. Pada tahap inilah dukungan ekosistem menjadi penentu. Melalui LinkUMKM BRI, Lince tidak hanya memperoleh akses pembiayaan, tetapi juga pendampingan pengembangan usaha, mulai dari pengelolaan keuangan, strategi pemasaran, hingga perluasan pasar. Dalam istilah teknis, program ini membantu menaikkan kelas UMKM dari ekonomi informal menuju usaha yang lebih terstruktur dan bankable.
Dua Sisi Digitalisasi UMKM
Di satu sisi, keterlibatan perbankan dalam pendampingan UMKM terbukti memperkuat fundamental usaha. Pelaku usaha yang terdigitalisasi cenderung memiliki pembukuan yang lebih rapi, sehingga lebih mudah mengakses kredit dengan suku bunga yang wajar dan memanfaatkan instrumen likuiditas saat dibutuhkan. Digitalisasi juga memperpendek rantai distribusi: produk seperti Sahate dapat dipasarkan lintas pulau bahkan lintas negara tanpa mengandalkan perantara berlapis, yang pada akhirnya menekan biaya dan meningkatkan margin keuntungan.
Di sisi lain, pintu digital membawa tantangan baru yang tidak bisa diremehkan. Persaingan di pasar global menuntut standar mutu yang ketat, mulai dari sertifikasi keamanan pangan, label halal, hingga kemasan yang memenuhi regulasi negara tujuan. Belum lagi fluktuasi biaya logistik internasional dan risiko nilai tukar yang dapat menggerus margin eksportir kecil. Ini adalah persoalan manajemen risiko yang harus dikelola hati-hati agar ekspansi tidak berujung pada kondisi capital outflow—dalam arti keuntungan yang tergerus oleh biaya di luar kendali pelaku usaha.
Peluang Besar di Tengah Tren Camilan Sehat
Fundamental pasar sesungguhnya berpihak pada produk seperti Sahate. Tren konsumsi global bergerak menuju makanan sehat, dan segmen gluten-free diperkirakan tumbuh pada laju sekitar 10 persen per tahun secara year-on-year dalam beberapa tahun terakhir. Dengan populasi yang besar dan budaya pangan berbasis beras, Indonesia memiliki keunggulan bahan baku yang tidak dimiliki banyak negara. Sentimen pasar menilai produk lokal berbasis bahan baku domestik semakin kompetitif, terutama ketika rantai pasok global tengah diuji.
Pro: peluang pasar terbuka lebar, bahan baku melimpah, dan dukungan ekosistem perbankan semakin nyata. Kontra: persaingan produk serupa dari negara lain semakin ketat, biaya sertifikasi internasional cukup tinggi, dan skala produksi UMKM masih kalah jauh dibandingkan produsen besar. Keseimbangan antara keduanya menentukan apakah cerita sukses seperti Sahate menjadi pengecualian atau menjadi pola yang berulang.
Proyeksi dan Pekerjaan Rumah Bersama
Ke depan, proyeksi industri makanan ringan sehat di Indonesia tetap positif, ditopang oleh daya beli kelas menengah yang tumbuh dan kesadaran gizi yang meningkat. Namun, untuk memperbesar porsi ekspor UMKM dari kisaran 15 persen menuju target yang lebih ambisius, diperlukan kerja sama tiga pihak: pelaku usaha yang berani berbenah, perbankan yang memperluas pendampingan di luar sekadar penyaluran kredit, dan pemerintah yang mempermudah akses sertifikasi serta perjanjian dagang.
Kisah Lince Sulastri dan Sahate menjadi ilustrasi bahwa pertumbuhan ekonomi yang inklusif tidak selalu dimulai dari korporasi besar. Ia dimulai dari dapur rumahan, dari keberanian mencoba, dan dari kemauan belajar memanfaatkan instrumen yang tersedia. Yang perlu dipastikan selanjutnya adalah keberlanjutan: apakah ekosistem yang ada cukup kuat untuk melahirkan lebih banyak pelaku usaha baru di seluruh Indonesia. Jawabannya akan menentukan apakah digitalisasi UMKM benar-benar menjadi mesin pertumbuhan, atau sekadar wacana yang berhenti di atas kertas.
Comments (0)