Dari Dapur Rumahan, Sahate Menembus Pasar Global Bersama Dukungan BRI

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2024, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berkontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap ...

Aug 09, 2026 - 07:27
0 0
Dari Dapur Rumahan, Sahate Menembus Pasar Global Bersama Dukungan BRI

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2024, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berkontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja Indonesia. Di tengah tren konsumsi sehat yang mengalami kenaikan signifikan pascapandemi, pelaku usaha pangan olahan berbasis bahan lokal menunjukkan fundamental yang semakin kuat. Salah satu contohnya adalah Sahate, camilan sehat bebas gluten berbahan dasar beras yang dirintis Lince Sulastri dari dapur rumahan hingga berhasil menembus pasar ekspor.

Sahate lahir dari kegelisahan Lince atas keterbatasan pilihan camilan sehat bagi konsumen yang sensitif terhadap gluten — protein yang terdapat pada gandum dan dapat memicu gangguan pencernaan pada sebagian orang. Dengan memanfaatkan beras, komoditas pangan utama Indonesia, ia mengolahnya menjadi camilan renyah yang tidak hanya aman dikonsumsi penderita intoleransi gluten, tetapi juga memiliki nilai tambah ekonomis. Perjalanan usaha ini tidak berjalan instan; skala produksi rumahan menghadapi kendala klasik UMKM: keterbatasan modal, manajemen usaha yang belum terstruktur, dan akses pasar yang sempit.

LinkUMKM BRI dan Transformasi Kapasitas Usaha

Perubahan signifikan terjadi ketika Lince bergabung dengan LinkUMKM, platform pemberdayaan yang dikembangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Melalui program ini, ia memperoleh pelatihan manajemen bisnis, strategi pemasaran digital, hingga pendampingan standardisasi produk agar memenuhi syarat ekspor. Data perseroan mencatat, BRI telah memberdayakan jutaan pelaku UMKM melalui berbagai inisiatif, dengan portofolio kredit segmen mikro dan kecil mencapai lebih dari Rp1.100 triliun per kuartal ketiga 2024, mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya secara year-on-year.

Dari sisi likuiditas — yakni kemampuan usaha memenuhi kebutuhan dana operasional — akses pembiayaan perbankan menjadi kunci bagi UMKM seperti Sahate untuk menaikkan kapasitas produksi. Sentimen pasar terhadap produk pangan sehat juga sedang positif: sejumlah lembaga riset memperkirakan pasar makanan bebas gluten global tumbuh dengan rasio tahunan gabungan (CAGR) sekitar 8 hingga 10 persen hingga akhir dekade ini.

Analisis Dua Sisi: Peluang dan Tantangan Ekspor UMKM

Di satu sisi, kisah Sahate merefleksikan kekuatan fundamental ekonomi kerakyatan. Produk berbasis beras memiliki keunggulan komparatif karena bahan baku melimpah di dalam negeri, sehingga rantai pasok relatif tahan terhadap gejolak impor. Keberhasilan menembus pasar global juga berpotensi memperbaiki rasio ekspor produk olahan bernilai tambah tinggi, bukan sekadar komoditas mentah. Proyeksi sejumlah analis memperkirakan kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional — yang saat ini masih sekitar 15 persen — dapat mengalami kenaikan bertahap jika program pemberdayaan berjalan berkelanjutan.

Di sisi lain, tantangan struktural tidak bisa diabaikan. Daya saing UMKM Indonesia di pasar global masih terbebani biaya logistik yang mencapai sekitar 23 persen dari PDB, lebih tinggi dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Selain itu, standar sertifikasi internasional, konsistensi kualitas produksi skala besar, dan fluktuasi nilai tukar rupiah menjadi variabel risiko. Tekanan capital outflow — keluarnya dana asing dari pasar domestik — yang memicu pelemahan rupiah dapat menguntungkan eksportir dari sisi harga jual, tetapi sekaligus menaikkan biaya bahan penolong impor seperti kemasan dan mesin produksi.

"Pemberdayaan UMKM tidak cukup hanya dengan penyaluran kredit. Pendampingan menyeluruh — mulai dari tata kelola, standardisasi mutu, hingga akses pasar — yang menentukan apakah sebuah usaha rumahan mampu naik kelas dan berkelanjutan," ujar seorang pengamat ekonomi UMKM dari lembaga riset independen di Jakarta.

Proyeksi dan Catatan bagi Ekosistem UMKM

Ke depan, tren digitalisasi dan kurasi produk lokal diperkirakan memperluas jangkauan UMKM ke konsumen global. Indeks kepercayaan pelaku usaha mikro dan kecil yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan optimisme yang relatif stabil sepanjang 2024, meski tetap di bawah level prapandemi pada sejumlah subsektor. Bagi pelaku usaha seperti Lince, valuasi usaha — penilaian kelayakan ekonomi sebuah bisnis — akan semakin ditentukan oleh kemampuan membangun merek, bukan sekadar volume produksi.

Kisah Sahate pada akhirnya menegaskan satu hal: dengan fondasi produk yang kuat, dukungan kelembagaan yang tepat, dan literasi bisnis yang memadai, usaha yang bermula dari dapur rumahan bukan mustahil bersaing di panggung dunia. Namun keberlanjutannya akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, efisiensi rantai pasok, dan kemampuan pelaku usaha membaca dinamika pasar global secara rasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User