Aug 28, 2026
Bisnis

Danantara Ungkap Utang Tinggi dan Masalah Data BUMN Farmasi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal II 2026, industri pengolahan nasional tumbuh di kisaran lima persen, dengan subsektor farmasi bergerak moderat seiring daya beli masyarakat yan...

Danantara Ungkap Utang Tinggi dan Masalah Data BUMN Farmasi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal II 2026, industri pengolahan nasional tumbuh di kisaran lima persen, dengan subsektor farmasi bergerak moderat seiring daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Namun, di balik tren makro yang relatif stabil itu, pengelolaan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor farmasi menyimpan catatan yang jauh dari membanggakan. Danantara, induk investasi negara yang mengelola portofolio BUMN dengan total aset sekitar Rp1,4 kuadriliun, membuka sejumlah persoalan mendasar: beban utang yang membengkak hingga praktik pencatatan data yang tidak akurat di Kimia Farma Apotek. Pengungkapan tersebut langsung memengaruhi sentimen pasar dan menekan saham emiten farmasi milik negara di indeks bursa dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Utang Tinggi yang Menggerus Fundamental

Di satu sisi, utang korporasi merupakan instrumen wajar untuk membiayai ekspansi pabrik, jaringan distribusi, dan pengembangan obat generik. Di sisi lain, utang yang menumpuk tanpa dukungan arus kas yang sehat justru menggerus likuiditas perusahaan. Kondisi inilah yang kini dialami BUMN farmasi. Kewajiban konsolidasi Kimia Farma berada di kisaran Rp15 triliun, sementara laba bersihnya mengalami penurunan tajam, dari sekitar Rp763 miliar pada 2022 menjadi hanya Rp72 miliar pada 2023, atau terkoreksi lebih dari 90 persen year-on-year. Tekanan itu berlanjut hingga 2024 ketika kinerja perusahaan tercatat kembali melemah.

Rasio utang terhadap ekuitas yang terus mengalami kenaikan membuat valuasi emiten farmasi BUMN di bursa tampak murah. Sayangnya, diskon valuasi tersebut bukan sekadar peluang beli, melainkan cermin keraguan investor terhadap kapasitas perusahaan dalam membayar kewajibannya. Ditambah lagi, arus capital outflow dari saham-saham BUMN yang terjadi sepanjang periode terakhir membuat ruang gerak perusahaan untuk menggalang pendanaan baru semakin sempit. Biaya dana yang mahal pada akhirnya membebani laba dan memperlambat proyeksi pemulihan kinerja.

Borok Data Palsu di Kimia Farma Apotek

Persoalan tidak berhenti pada neraca. Praktik manipulasi data pernah terkuak di Kimia Farma Apotek, anak usaha Kimia Farma yang bergerak di bidang ritel obat. Hasil audit yang diumumkan pada 2022 menemukan pendapatan periode 2020 sampai 2021 dibengkakkan hingga Rp122,7 miliar, sehingga laba yang dilaporkan kepada publik tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya. Sejumlah pejabat perusahaan kemudian terseret ke jalur hukum, dan kasus ini menjadi salah satu persoalan tata kelola paling mengguncang sektor farmasi nasional dalam satu dekade terakhir.

Di satu sisi, pengungkapan kasus tersebut menunjukkan mekanisme audit dan pengawasan masih berfungsi, sekaligus menjadi pengingat bahwa transparansi adalah harga mati bagi perusahaan publik. Di sisi lain, luka kepercayaan tidak mudah sembuh. Bagi investor, insiden semacam ini menaikkan premi risiko terhadap seluruh portofolio BUMN farmasi, bukan hanya satu emiten. Tata kelola yang rapuh di satu anak usaha dapat mewarnai persepsi pasar terhadap grup usaha secara keseluruhan, dan efek domino itu sulit dihapus hanya dengan permintaan maaf korporasi.

Restrukturisasi: Harapan di Tengah Keraguan

Menanggapi temuan tersebut, pimpinan Danantara menegaskan bahwa upaya restrukturisasi sedang berjalan. Langkah yang diprioritaskan mencakup penataan ulang utang, efisiensi biaya operasional, konsolidasi portofolio anak usaha, serta penguatan pengawasan internal agar praktik pencatatan yang tidak akurat tidak terulang. Pemerintah juga berharap BUMN farmasi memainkan peran lebih besar dalam ketahanan obat nasional, mengingat pasar farmasi dalam negeri diperkirakan menembus Rp130 triliun per tahun dan terus mengalami kenaikan seiring pertumbuhan penduduk serta perluasan program jaminan kesehatan.

"Restrukturisasi hanya akan efektif jika disertai perbaikan tata kelola secara menyeluruh. Tanpa itu, utang lama akan segera digantikan utang baru, dan borok lama akan kembali terbuka," ujar seorang ekonom pasar modal yang mengkaji sektor kesehatan.

Di satu sisi, kehadiran Danantara sebagai induk yang lebih disiplin membuka harapan baru. Pendekatan berbasis portofolio memungkinkan sinergi antar-BUMN, mulai dari pengadaan bahan baku bersama hingga rasionalisasi jalur distribusi, yang pada gilirannya memperbaiki rasio profitabilitas. Sejumlah proyeksi bahkan menargetkan pemulihan laba mulai terlihat pada 2027. Namun di sisi lain, pengamat mengingatkan bahwa restrukturisasi BUMN berskala besar lazimnya memakan waktu dua hingga tiga tahun, dengan risiko sosial berupa efisiensi tenaga kerja yang harus dikelola secara hati-hati.

Pada akhirnya, keberanian membuka borok adalah langkah awal yang patut diapresiasi, tetapi pasar tidak akan puas dengan pengakuan semata. Yang dinantikan investor adalah bukti eksekusi: rasio utang yang menurun, laba yang pulih, dan tata kelola yang bersih. Selama indikator itu belum terbukti, sentimen terhadap BUMN farmasi kemungkinan besar akan tetap rentan berganti-ganti, mengikuti gelombang berita dan fundamental perusahaan yang sesungguhnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User