Berdasarkan data BPS per Agustus 2026, pertumbuhan sektor konstruksi nasional tercatat hanya sekitar 4,1 persen year-on-year, di bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5,2 persen. Sementara itu, data OJK memperlihatkan rasio utang terhadap ekuitas (DER) sejumlah BUMN konstruksi masih jauh di atas ambang sehat 100 persen, dengan beberapa emiten menyentuh kisaran 200 hingga 300 persen. Dalam lanskap itulah Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, membuka tirai soal kondisi BUMN Karya: tekanan utang yang mereka hadapi hari ini, kata dia, bukan peristiwa mendadak, melainkan buah dari strategi ekspansi yang melampaui kompetensi inti perusahaan.
Secara sederhana, BUMN Karya merujuk pada jajaran konstruksi negara seperti PT PP, Waskita Karya, Adhi Karya, dan Wijaya Karya. Selama satu dekade terakhir, grup ini mengalami kenaikan pendapatan yang pesat pada masa boom infrastruktur, namun juga mengalami penurunan tajam ketika belanja modal pemerintah melambat. Ketergantungan pada proyek pemerintah membuat arus kas mereka sangat sensitif terhadap siklus anggaran negara.
Ekspansi di Luar Konstruksi: Peluang atau Jebakan?
Di satu sisi, diversifikasi portofolio bisnis adalah langkah yang logis. Perusahaan konstruksi yang hanya mengandalkan proyek infrastruktur akan rentan setiap kali pemerintah menahan belanja. Ekspansi ke properti, energi terbarukan, operasi dan pemeliharaan, hingga jasa konsultansi secara teori dapat menyeimbangkan pendapatan dan mengurangi risiko siklikal.
Di sisi lain, ekspansi menuntut modal dan kapabilitas baru. Sejumlah BUMN Karya justru melangkah ke bisnis non-konstruksi ketika likuiditas sedang ketat, sehingga pendanaannya bergantung pada utang, bukan laba. Ketika proyeksi pendapatan dari bisnis baru tidak tercapai, beban bunga tetap berjalan, rasio leverage memburuk, dan fundamental perusahaan terkikis. Pola inilah yang digambarkan Oskaria sebagai akar persoalan sebelum grup ini akhirnya terlilit utang.
"Konsolidasi dan transformasi adalah kunci perbaikan. Perusahaan perlu kembali ke kompetensi inti, memperbaiki tata kelola, lalu baru berbicara soal pertumbuhan," ujar Dony Oskaria mengenai arah pemulihan BUMN Karya.
Konsolidasi: Menyehatkan Dulu, Bertumbuh Kemudian
Menurut Oskaria, prioritas saat ini adalah konsolidasi. Dalam praktiknya, langkah ini mencakup restrukturisasi utang, efisiensi biaya operasional, pelepasan aset non-inti, hingga rasionalisasi anak usaha yang tumpang tindih. Tujuannya sederhana: menurunkan rasio utang, memulihkan likuiditas, dan mengembalikan kepercayaan mitra kerja maupun kreditur terhadap kesehatan neraca perusahaan.
Ada angka yang bisa dijadikan tolok ukur. DER sehat untuk industri konstruksi umumnya berada di bawah 100 persen, sementara sejumlah emiten BUMN Karya masih berada di level dua hingga tiga kali lipatnya. Dalam praktik pasar modal, perbaikan setiap 50 poin DER biasanya berdampak langsung pada sentimen pasar, kinerja indeks sektor infrastruktur, dan valuasi saham terkait.
Transformasi: Dari Kontraktor Menuju Perusahaan Infrastruktur
Selain konsolidasi, Danantara mendorong transformasi model bisnis. Alih-alih menjadi kontraktor yang bergantung pada nilai kontrak, BUMN Karya didorong bergeser ke bisnis berbasis aset — seperti jalan tol, bandara, air bersih, dan pembangkit energi — yang menghasilkan arus kas jangka panjang. Model serupa telah membuktikan efektivitasnya di sejumlah negara Asia, di mana kontraktor besar berevolusi menjadi pengelola infrastruktur.
Pro: arus kas lebih stabil, valuasi lebih baik, dan ketergantungan pada anggaran negara menurun. Kontra: transisi membutuhkan waktu panjang, modal besar, dan disiplin eksekusi yang tinggi — tiga hal yang justru paling sulit bagi perusahaan yang sedang merapikan neracanya.
Antara Optimisme dan Skeptisisme Pasar
Di satu sisi, sentimen pasar terhadap rencana konsolidasi cenderung positif. Penggabungan peran dalam satu payung di bawah Danantara dinilai dapat mengurangi persaingan tidak sehat antar-BUMN, menekan biaya, dan memperkuat daya tawar terhadap kreditur. Beberapa analis menilai pendekatan ini menyerupai model konsolidasi yang pernah berhasil diterapkan pada industri perminyakan dan perbankan nasional.
Di sisi lain, skeptisisme tidak bisa diabaikan. Investor asing masih mengawasi potensi capital outflow apabila perbaikan kinerja berjalan lambat, sementara sebagian utang luar negeri emiten jatuh tempo dalam beberapa tahun ke depan. Tanpa eksekusi yang terukur dan transparan, program transformasi berisiko berhenti di atas kertas.
Ke depan, proyeksi pemulihan BUMN Karya akan sangat bergantung pada dua variabel: kecepatan restrukturisasi utang dan kualitas belanja infrastruktur pemerintah. Jika konsolidasi berjalan sesuai rencana dan pertumbuhan sektor konstruksi kembali di atas 5 persen, fundamental grup ini berpotensi membaik dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Namun jika tren penurunan belanja modal berlanjut, jalan pemulihan bisa lebih panjang dari yang diharapkan. Bagi pembaca awam, satu hal penting untuk dicatat: utang bukan akar masalah, melainkan gejala — dan gejala itu, menurut Danantara, bermula dari ambisi ekspansi yang melampaui kemampuan perusahaan.
Comments (0)