Danantara Kebut 26 Proyek Hilirisasi, Target 38 Ribu Pekerja
Pertumbuhan sektor manufaktur dan industri pengolahan nonmigas terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan IV-2025, kontribu...
Pertumbuhan sektor manufaktur dan industri pengolahan nonmigas terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan IV-2025, kontribusi sektor industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 19,8 persen, naik tipis dari 19,5 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kendati demikian, serapan tenaga kerja di sektor formal masih menjadi pekerjaan rumah besar, dengan tingkat pengangguran terbuka di angka 5,1 persen atau setara 7,9 juta orang. Dalam konteks inilah, keberadaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) kian strategis.
Danantara kini tengah memacu pengembangan 26 proyek hilirisasi di berbagai wilayah Indonesia. Total nilai investasi yang digelontorkan mencapai Rp225 triliun, dengan target penciptaan hampir 38 ribu lapangan kerja baru. Proyek-proyek tersebut mencakup sektor pertambangan mineral, perikanan, perkebunan, hingga energi terbarukan, yang semuanya diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sebelum diekspor atau dipasarkan di dalam negeri. Langkah ini sejalan dengan masterplan hilirisasi nasional yang telah dicanangkan pemerintah sejak beberapa tahun silam.
Potensi Akselerasi Ekonomi Domestik
Di satu sisi, investasi sebesar ini dipandang sebagai katalisator kuat bagi pertumbuhan ekonomi, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini bergantung pada ekspor bahan mentah. Dengan adanya fasilitas pengolahan, harga jual komoditas bisa berlipat ganda. Sebagai gambaran, ekspor nikel olahan Indonesia pada 2025 diperkirakan menembus US$30 miliar, naik tajam dari hanya US$6 miliar pada 2018 saat ekspor bijih mentah masih dominan. Pola serupa diharapkan terjadi pada bauksit, tembaga, dan hasil laut melalui 26 proyek tersebut. Efek berganda (multiplier effect) terhadap sektor jasa pendukung, logistik, dan UMKM lokal juga diprediksi signifikan. Jika setiap proyek rata-rata menyerap 1.400 tenaga kerja, maka total potensi serapan bisa melampaui angka 38 ribu seiring dengan beroperasinya pabrik-pabrik baru.
Lebih lanjut, hilirisasi dipercaya mampu memperkuat fundamental neraca perdagangan. Dengan mengurangi ketergantungan pada impor barang setengah jadi, Indonesia dapat menekan defisit transaksi berjalan dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Analis senior Beritadua, Guntur Wibisono, menilai langkah Danantara sebagai strategi yang tepat di tengah ketidakpastian global.
"Hilirisasi adalah game-changer. Investasi Rp225 triliun ini bukan hanya soal angka, tetapi fondasi bagi transformasi ekonomi dari berbasis sumber daya menjadi berbasis industri,"ujarnya.
Risiko dan Catatan Kritis di Balik Optimisme
Di sisi lain, sejumlah pengamat menyuarakan kekhawatiran akan risiko implementasi. Dari segi pendanaan, portofolio investasi sebesar Rp225 triliun menuntut manajemen likuiditas yang prima. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia yang saat ini berada di level 6,25 persen dapat mengerek biaya pinjaman dan menekan margin keuntungan proyek. Selain itu, capital outflow akibat kebijakan moneter ketat di negara maju masih menjadi ancaman bagi pembiayaan berbasis valas. Tidak sedikit proyek hilirisasi yang sebelumnya mangkrak karena perubahan harga komoditas global; misalnya, penurunan harga nikel sebesar 12 persen year-on-year pada kuartal I-2026 sempat memicu kekhawatiran terhadap valuasi smelter baru.
Aspek lingkungan dan sosial juga menjadi sorotan. Beberapa proyek hilirisasi di masa lalu menuai protes karena deforestasi dan pencemaran air. Lembaga swadaya masyarakat menekankan pentingnya analisis dampak lingkungan yang ketat dan keterlibatan masyarakat adat. Dari perspektif tenaga kerja, 38 ribu lapangan kerja yang dijanjikan perlu dilihat kualitasnya: apakah bersifat padat karya dengan upah layak ataukah padat modal yang justru minim penyerapan. Tanpa pengawasan, proyek padat modal bisa berujung pada kesenjangan sosial di daerah operasi.
Sementara itu, konsistensi kebijakan pemerintah menjadi kunci. Perubahan regulasi di tengah jalan, seperti yang pernah terjadi pada kewajiban pembangunan smelter, dapat menggoyahkan kepercayaan investor. Danantara perlu memastikan bahwa ke-26 proyek ini tidak sekadar seremoni peletakan batu pertama, melainkan benar-benar berjalan sesuai jadwal dan menghasilkan output sesuai yang direncanakan.
Proyeksi dan Penutup
Dengan mempertimbangkan kedua sisi, proyek hilirisasi Danantara senilai Rp225 triliun ibarat pedang bermata dua. Diperlukan tata kelola investasi yang transparan, efisiensi anggaran, serta sinergi antara kementerian teknis, pemerintah daerah, dan pelaku usaha. Jika berhasil, 26 proyek ini bukan hanya akan menciptakan 38 ribu lapangan kerja, melainkan juga memperkokoh posisi Indonesia sebagai negara industri berbasis sumber daya yang berdaya saing global. Sebaliknya, kegagalan dalam eksekusi dan mitigasi risiko akan menjadi preseden buruk bagi kepercayaan pasar. Tahun 2026 akan menjadi masa krusial untuk membuktikan komitmen tersebut.
Baca juga:
Comments (0)