Oct 15, 2026
Bisnis

Danantara Dorong BUMN Utamakan Layanan Publik, Jasa Marga Merespons

Berdasarkan data Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan laporan kinerja Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara per kuartal terkini, arah pengelolaan perusahaan pelat merah mengalami perges...

Danantara Dorong BUMN Utamakan Layanan Publik, Jasa Marga Merespons

Berdasarkan data Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan laporan kinerja Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara per kuartal terkini, arah pengelolaan perusahaan pelat merah mengalami pergeseran signifikan. Danantara selaku pengelola investasi negara mendorong seluruh BUMN untuk tidak sekadar mengejar laba, tetapi juga memperkuat fungsi pelayanan publik. Kebijakan ini menjadi sinyal penting bagi perusahaan infrastruktur seperti PT Jasa Marga (Persero) Tbk yang selama ini bergerak di sektor jalan tol.

Langkah tersebut bukan tanpa alasan. Total aset BUMN secara konsolidasi tercatat mencapai lebih dari Rp9.000 triliun, dengan kontribusi terhadap penerimaan negara melalui dividen, pajak, dan PNBP. Namun, rasio pelayanan publik terhadap total investasi dinilai belum optimal. Danantara menilai fundamental BUMN harus dibangun di atas dua pilar sekaligus: profitabilitas dan manfaat sosial.

Dua Sisi Kebijakan: Antara Laba dan Layanan

Di satu sisi, dorongan ini relevan dengan kebutuhan masyarakat. Banyak layanan BUMN yang bersifat strategis, seperti listrik, air, transportasi, dan konektivitas jalan tol. Jika orientasi perusahaan hanya pada keuntungan jangka pendek, kualitas layanan bisa terabaikan. Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terhadap layanan BUMN pada 2023 tercatat di kisaran 78,5 dari skala 100, masih menyisakan ruang perbaikan.

Di sisi lain, kebijakan yang menekankan aspek pelayanan berpotensi menekan margin dan menurunkan valuasi perusahaan. Dalam konteks pasar modal, sentimen investor terhadap saham BUMN dapat terpengaruh bila proyeksi laba direvisi turun. Padahal, BUMN terbuka seperti Jasa Marga memiliki kewajiban menjaga imbal hasil bagi pemegang saham, termasuk publik.

"BUMN harus hadir sebagai instrumen negara yang menggerakkan ekonomi sekaligus menjamin akses layanan dasar. Keseimbangan ini yang kami dorong," demikian pesan yang disampaikan dalam forum koordinasi pengelolaan BUMN.

Respons Jasa Marga atas Arahan Baru

Menanggapi arahan tersebut, manajemen Jasa Marga menyatakan komitmennya untuk menyelaraskan target kinerja dengan misi pelayanan publik. Perseroan mencatat pendapatan usaha pada 2023 sebesar Rp15,4 triliun, tumbuh sekitar 9,2 persen year-on-year. Laba bersih tahun buku tersebut mencapai Rp4,2 triliun, naik dari tahun sebelumnya.

Dari sisi operasional, Jasa Marga mengelola lebih dari 1.200 kilometer jalan tol di berbagai ruas utama. Volume lalu lintas harian rata-rata mencapai jutaan kendaraan, menjadikannya tulang punggung konektivitas logistik nasional. Peningkatan kapasitas, pemeliharaan, dan digitalisasi transaksi menjadi prioritas agar layanan tetap prima.

Perseroan juga menyoroti pentingnya menjaga likuiditas dan struktur permodalan di tengah ekspansi. Rasio utang terhadap ekuitas dijaga pada level yang terukur, sementara belanja modal dialokasikan untuk ruas yang memiliki tingkat internal rate of return (IRR) memadai. Dengan begitu, aspek pelayanan tidak mengorbankan kesehatan finansial.

Implikasi bagi Portofolio dan Pasar

Bagi investor, kebijakan ini menghadirkan dua perspektif. Pro: BUMN yang lebih responsif terhadap publik berpotensi memperoleh dukungan regulasi, stabilitas pendapatan, dan legitimasi sosial yang memperkuat valuasi jangka panjang. Kontra: penekanan pada layanan bisa memperlambat pertumbuhan laba, memicu capital outflow dari saham berkapitalisasi besar, dan menekan indeks sektoral.

Pengamat menilai kunci keberhasilan terletak pada tata kelola dan transparansi indikator kinerja. Jika target pelayanan dirumuskan secara terukur, misalnya waktu tempuh, kualitas jalan, dan indeks kepuasan, maka fungsi publik dan profitabilitas dapat berjalan seiring.

Ke depan, tren ini akan diuji oleh kondisi makro: suku bunga, inflasi, dan daya beli masyarakat. Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 5 persen menjadi modal penting. Selama fundamental terjaga dan sentimen pasar positif, sinergi antara misi sosial dan kinerja korporasi bukanlah hal yang mustahil diwujudkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User