Danantara Ditawari Saham Bandara Madinah, Peluang dan Risikonya

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir 2024, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$155,7 miliar, sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi sepanjang 2024 sebesar 5,...

Aug 07, 2026 - 01:52
0 0
Danantara Ditawari Saham Bandara Madinah, Peluang dan Risikonya

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir 2024, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$155,7 miliar, sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi sepanjang 2024 sebesar 5,03% secara year-on-year. Di tengah fundamental makroekonomi yang relatif terjaga tersebut, kabar masuknya tawaran investasi strategis dari kawasan Timur Tengah menjadi perhatian pelaku pasar. Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara dilaporkan menerima tawaran untuk mengempit sebagian saham bandara di Madinah, Arab Saudi.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani menyampaikan bahwa tawaran tersebut datang langsung dari pemerintah Arab Saudi. Hingga berita ini disusun, nilai transaksi maupun porsi kepemilikan yang ditawarkan belum diumumkan secara resmi. Kendati demikian, rencana ini menandai potensi babak baru ekspansi portofolio sovereign wealth fund, yakni dana kekayaan negara yang dikelola untuk investasi jangka panjang, ke pasar global.

Konteks Ekspansi Portofolio Danantara

Danantara yang diluncurkan pada Februari 2025 mengonsolidasikan aset sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) dengan target dana kelolaan atau assets under management (AUM) mencapai lebih dari US$980 miliar dalam jangka panjang. Sejak awal pembentukannya, lembaga ini disebut menyiapkan investasi awal sekitar US$20 miliar untuk membiayai proyek-proyek strategis, baik di dalam maupun luar negeri.

Dari sisi calon mitra, Arab Saudi tengah gencar membuka kepemilikan aset infrastrukturnya dalam kerangka Visi 2030, termasuk sektor bandara. Bandara internasional di Madinah merupakan gerbang utama jamaah haji dan umrah dengan kapasitas sekitar 8 juta penumpang per tahun serta rencana perluasan hingga belasan juta penumpang. Bagi Indonesia, pengirim jamaah haji terbesar dunia dengan kuota sekitar 221 ribu orang per tahun, aset tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan arus penumpang asal Tanah Air yang terus mengalami kenaikan.

Di Satu Sisi: Nilai Strategis dan Arus Kas Stabil

Pro: aset bandara di kota suci menawarkan arus kas yang relatif stabil karena permintaan perjalanan religi cenderung tahan terhadap siklus ekonomi. Tren jamaah umrah Indonesia yang pernah menembus lebih dari 1 juta orang per tahun menunjukkan basis permintaan yang besar dan berulang. Selain itu, kepemilikan saham di infrastruktur Arab Saudi berpotensi memperdalam hubungan ekonomi kedua negara yang nilai perdagangan bilateralnya berada di kisaran US$6 miliar hingga US$7 miliar per tahun. Diversifikasi portofolio ke aset berdenominasi dolar AS juga dapat berfungsi sebagai lindung nilai (hedging) alami terhadap fluktuasi rupiah, sejalan dengan ambisi Saudi menargetkan ratusan juta penumpang udara pada 2030.

'Pemerintah Arab Saudi menyampaikan tawaran yang sangat menarik. Kami akan mempelajarinya secara mendalam dengan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik,' ujar Rosan Roeslani.

Di Sisi Lain: Risiko Valuasi dan Likuiditas

Kontra: sejumlah pengamat mengingatkan risiko valuasi, yakni kemungkinan harga aset dipatok terlalu tinggi dibanding fundamental pendapatannya. Aset infrastruktur juga bersifat tidak likuid, artinya dana yang tertanam sulit ditarik cepat bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Ada pula kekhawatiran penempatan dana ke luar negeri dapat memicu tekanan capital outflow, yaitu keluarnya modal dari dalam negeri, pada saat Indonesia membutuhkan pembiayaan pembangunan domestik. Rasio imbal hasil terhadap risiko perlu dikalkulasi cermat, termasuk memperhitungkan risiko geopolitik kawasan yang dapat memengaruhi sentimen pasar.

Aspek tata kelola juga menjadi sorotan. Tanpa uji tuntas (due diligence) yang transparan, investasi lintas negara berisiko menimbulkan pertanyaan publik, terutama karena Danantara mengelola aset negara yang diamanatkan untuk mendukung kesejahteraan rakyat.

Proyeksi dan Sentimen Pasar

Ke depan, pasar akan mencermati tiga hal: nilai transaksi, struktur kepemilikan, dan skema tata kelola pasca-investasi. Bila dikelola transparan dengan valuasi wajar, langkah ini berpotensi memperkuat fundamental Danantara sebagai pengelola aset negara kelas dunia. Sebaliknya, bila harga terlalu premium atau pembiayaannya membebani likuiditas, sentimen pasar terhadap surat berharga serta indeks saham terkait BUMN bisa mengalami penurunan. Proyeksi dampak akhirnya baru dapat diukur secara akurat setelah rincian resmi diumumkan kepada publik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User