Danantara dan JBS Gelontorkan US$2,5 Miliar Bangun Bisnis Protein Asia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III 2025, konsumsi daging sapi per kapita Indonesia berada di kisaran 2,6 kilogram per tahun, masih jauh di bawah rata-rata konsumsi sejumlah n...

Aug 10, 2026 - 08:23
0 0
Danantara dan JBS Gelontorkan US$2,5 Miliar Bangun Bisnis Protein Asia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III 2025, konsumsi daging sapi per kapita Indonesia berada di kisaran 2,6 kilogram per tahun, masih jauh di bawah rata-rata konsumsi sejumlah negara Asia Timur yang menembus 10 kilogram per kapita. Kesenjangan pasokan inilah yang menjadi latar belakang langkah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan pangan global JBS NV. Keduanya sepakat membentuk usaha patungan atau joint venture dengan nilai investasi mencapai US$2,5 miliar, setara sekitar Rp40,7 triliun dengan asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS, untuk menggarap pasar protein hewani di kawasan Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru.

Struktur Investasi dan Cakupan Wilayah

Kolaborasi ini dirancang untuk membangun rantai pasok protein yang terintegrasi, mulai dari pembibitan, penggemukan ternak, pemrosesan, hingga distribusi produk daging bernilai tambah. Kawasan Asia Tenggara menjadi fokus utama mengingat populasinya yang mencapai 680 juta jiwa dengan kelas menengah yang terus mengalami pertumbuhan. Sementara itu, Australia dan Selandia Baru diproyeksikan menjadi basis produksi sekaligus sumber pasokan, mengingat keunggulan kedua negara dalam industri peternakan berbasis padang rumput yang telah mapan secara fundamental.

Bagi Danantara, yang mengelola aset negara dengan portofolio lintas sektor, ekspansi ke bisnis protein merupakan langkah diversifikasi strategis. Sektor pangan dinilai memiliki permintaan yang relatif tahan terhadap siklus ekonomi, berbeda dengan komoditas tambang yang cenderung fluktuatif mengikuti sentimen pasar global.

Di Satu Sisi: Peluang Ketahanan Pangan dan Nilai Tambah

Di satu sisi, investasi ini berpotensi memperkuat ketahanan pangan nasional. Data Kementerian Pertanian menunjukkan Indonesia masih mengimpor sekitar 40 persen kebutuhan daging sapi domestik. Dengan kapasitas produksi yang dibangun melalui usaha patungan, ketergantungan impor berpeluang ditekan secara bertahap dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Selain itu, kemitraan dengan JBS—salah satu produsen protein terbesar dunia dengan pendapatan tahunan di atas US$70 miliar—membuka akses terhadap transfer teknologi, standar keamanan pangan internasional, serta jaringan pasar ekspor. Tren permintaan protein hewani di Asia diproyeksikan tumbuh 3-4 persen per tahun hingga 2030 seiring kenaikan pendapatan per kapita, sehingga valuasi jangka panjang sektor ini tergolong menarik.

Investasi semacam ini dapat menjadi katalis modernisasi industri peternakan domestik, asalkan disertai keberpihakan nyata terhadap peternak lokal, ujar seorang pengamat agribisnis di Jakarta.

Di Sisi Lain: Risiko Eksekusi dan Persaingan dengan Peternak Rakyat

Namun, di sisi lain, sejumlah risiko patut dicermati. Pertama, skala investasi yang besar menuntut tata kelola yang ketat. Pengalaman sejumlah proyek pangan raksasa di dalam negeri menunjukkan hasil yang tidak selalu sejalan dengan proyeksi awal. Kedua, masuknya pemain global berkapasitas besar berpotensi menekan peternak rakyat yang selama ini memasok sebagian besar kebutuhan daging lokal, apabila skema kemitraan tidak dirancang secara inklusif.

Ketiga, terdapat eksposur terhadap fluktuasi nilai tukar. Investasi berdenominasi dolar AS membuat arus kas proyek sensitif terhadap pelemahan rupiah. Bank Indonesia mencatat rupiah bergerak di kisaran Rp16.000 hingga Rp16.500 per dolar AS dalam beberapa bulan terakhir; depresiasi lebih lanjut akan mengerek biaya impor pakan ternak dan peralatan produksi. Risiko capital outflow dari pasar negara berkembang—yakni keluarnya dana asing akibat ketidakpastian global—juga dapat memengaruhi likuiditas pendanaan proyek jangka panjang.

Proyeksi dan Implikasi bagi Ekonomi Nasional

Secara makroekonomi, penanaman modal di sektor pangan dapat menopang pertumbuhan ekonomi yang menurut BPS berada di level sekitar 5 persen year-on-year. Jika terealisasi penuh, proyek ini berpotensi menyerap ribuan tenaga kerja serta menambah penerimaan devisa dari ekspor produk olahan daging, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok pangan regional.

Kendati demikian, keberhasilan akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas eksekusi, kejelasan pembagian peran antara Danantara dan JBS, serta dukungan regulasi yang konsisten. Pelaku pasar kini menanti rincian struktur kepemilikan, lokasi fasilitas produksi, dan jadwal realisasi investasi. Fundamental permintaan protein di kawasan memang menjanjikan, tetapi rasio keuntungan proyek baru akan teruji setelah operasional berjalan. Keseimbangan antara ambisi ekspansi dan perlindungan pelaku usaha domestik menjadi kunci agar investasi triliunan rupiah ini memberi manfaat optimal bagi perekonomian nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User