Danantara Bidik Empat BUMN IPO dalam Setahun, Pelindo dan Pegadaian Masuk Radar

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per akhir Mei 2025, kapitalisasi pasar saham domestik berada di kisaran Rp11.800 triliun, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif pada...

Aug 11, 2026 - 15:41
0 0
Danantara Bidik Empat BUMN IPO dalam Setahun, Pelindo dan Pegadaian Masuk Radar

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per akhir Mei 2025, kapitalisasi pasar saham domestik berada di kisaran Rp11.800 triliun, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif pada level 6.800–7.000. Di tengah dinamika tersebut, Danantara Indonesia selaku badan pengelola investasi BUMN menyiapkan langkah strategis: membawa empat perusahaan pelat merah melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) dalam kurun enam hingga dua belas bulan ke depan. Dua nama yang disebut masuk daftar prioritas adalah PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dan PT Pegadaian.

Empat BUMN dalam Antrean Penawaran Perdana

Rencana ini menandai babak baru pengelolaan aset negara setelah Danantara mengonsolidasikan kepemilikan saham pemerintah di puluhan BUMN. IPO, secara sederhana, adalah proses ketika perusahaan menjual sebagian sahamnya kepada publik untuk pertama kali di bursa efek. Bagi negara, mekanisme ini berfungsi ganda: membuka ruang pendanaan segar bagi korporasi sekaligus meningkatkan tata kelola melalui pengawasan pasar yang lebih ketat.

Pelindo, operator pelabuhan hasil konsolidasi empat entitas pada 2021, mengelola puluhan pelabuhan dengan arus peti kemas di atas 17 juta TEUs per tahun. Sementara Pegadaian, yang kini berada di bawah holding ultra mikro bersama BRI dan PNM, membukukan laba bersih di atas Rp3 triliun pada 2024 dengan jumlah nasabah menembus 20 juta. Kedua entitas dinilai memiliki fundamental yang relatif matang untuk menyambut status perusahaan terbuka.

Di Satu Sisi: Momentum Pendalaman Pasar Modal

Di satu sisi, rencana ini berpotensi menjadi katalis positif bagi pendalaman pasar modal Indonesia. Rasio kapitalisasi pasar saham terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional saat ini berkisar 50 persen, masih di bawah Malaysia yang menembus 90 persen. Kehadiran emiten BUMN berkapitalisasi besar dapat memperdalam likuiditas — yakni kemudahan investor membeli dan menjual saham tanpa menggerakkan harga secara signifikan.

"IPO BUMN yang dikelola dengan valuasi wajar dan transparansi tinggi akan memperkuat sentimen pasar, menarik investor institusi asing, sekaligus memberi alternatif portofolio bagi investor ritel domestik," ujar seorang ekonom pasar modal dari salah satu universitas negeri di Jakarta.

Dari sisi korporasi, dana hasil IPO dapat dimanfaatkan Pelindo untuk membiayai pengembangan infrastruktur pelabuhan tanpa menambah beban utang, sehingga rasio utang terhadap ekuitas tetap terjaga. Bagi Pegadaian, status terbuka berpotensi memperkuat permodalan untuk ekspansi segmen gadai dan pembiayaan mikro yang tumbuh dua digit secara year-on-year.

Di Sisi Lain: Risiko Valuasi dan Arus Modal Asing

Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan tantangan yang tidak ringan. Tren capital outflow — keluarnya dana asing dari pasar domestik — masih membayangi sepanjang 2025, seiring ketidakpastian arah suku bunga global dan kebijakan fiskal domestik. Data BEI menunjukkan investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) triliunan rupiah pada beberapa bulan terakhir, yang berpotensi menekan daya serap IPO berukuran jumbo.

Persoalan valuasi juga menjadi sorotan. Jika harga penawaran dipatok terlalu tinggi demi memaksimalkan penerimaan negara, saham berisiko tertekan setelah melantai, seperti dialami sejumlah IPO besar dalam beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, valuasi terlalu rendah menuai kritik karena dianggap melepas aset negara di bawah harga wajar. Keseimbangan keduanya menuntut kedisiplinan penjamin emisi dan komunikasi yang baik kepada calon investor.

Selain itu, struktur kepemilikan perlu kejelasan. Pegadaian, misalnya, saat ini merupakan anak usaha BRI dalam holding ultra mikro, sehingga skema pelepasan sahamnya ke publik mesti dirancang cermat agar tidak bertabrakan dengan kepentingan pemegang saham BRI maupun sinergi holding yang telah berjalan.

Proyeksi Enam hingga Dua Belas Bulan ke Depan

Menilik rekam jejak, rata-rata nilai penawaran IPO di BEI sepanjang 2024 berada di kisaran Rp200 miliar hingga Rp300 miliar per emiten. Kehadiran empat BUMN berukuran besar dalam satu tahun kalender akan menjadi ujian nyata bagi daya serap pasar, terutama dari sisi investor domestik yang kontribusinya kini mencapai sekitar 55 persen dari total nilai transaksi harian.

Pro: apabila tereksekusi mulus, gelombang IPO ini dapat mengerek kapitalisasi pasar, memperkuat fundamental tata kelola BUMN, dan memberi sinyal positif terhadap komitmen reformasi ekonomi. Kontra: kegagalan mencapai target serapan justru dapat membalikkan sentimen pasar dan menimbulkan pertanyaan atas kesiapan Danantara mengelola portofolio bernilai triliunan rupiah.

Pada akhirnya, keberhasilan rencana ini akan ditentukan oleh tiga variabel: stabilitas makroekonomi domestik, arah kebijakan moneter global, serta kualitas keterbukaan informasi yang disajikan kepada publik. Pelaku pasar kini menanti detail resmi mengenai dua BUMN lain yang melengkapi daftar empat perusahaan tersebut, beserta porsi saham yang akan dilepas ke publik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User