Oct 04, 2026
Bisnis

Dampak Ekonomi Touring Mandalika Menuju GP 2026

Berdasarkan data BPS per triwulan II 2025, sektor pariwisata Indonesia mengalami kenaikan sebesar 15,2% year-on-year, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 4,1% atau...

Dampak Ekonomi Touring Mandalika Menuju GP 2026

Berdasarkan data BPS per triwulan II 2025, sektor pariwisata Indonesia mengalami kenaikan sebesar 15,2% year-on-year, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 4,1% atau setara dengan Rp1.073 triliun. Pertumbuhan ini menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga fundamental perekonomian di tengah tren perlambatan konsumsi domestik. Salah satu bentuk aktivitas yang turut berkontribusi terhadap geliat sektor ini adalah kegiatan komunitas otomotif, seperti touring massal yang digelar dalam rangka menyambut pelaksanaan Grand Prix Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat.

Kegiatan ini melibatkan pergerakan 120 anggota komunitas touring yang tidak hanya berorientasi pada hiburan, namun juga mengusung misi edukasi energi serta penguatan jaringan komunitas otomotif. Meski terkesan sebagai aktivitas sosial, pergerakan skala menengah ini membawa implikasi ekonomi yang perlu dikaji secara berimbang. Oleh karena itu, penting untuk menilai dampaknya dari dua perspektif yang saling bertolak belakang.

Di satu sisi: Potensi Stimulus Ekonomi Regional

Di satu sisi, kegiatan touring ini berpotensi memberikan stimulus terhadap perekonomian daerah, khususnya di wilayah Lombok dan sekitarnya. Hal ini berkaitan erat dengan efek pengganda (multiplier effect), yakni proses di mana satu unit pengeluaran akan menciptakan pendapatan berulang bagi pelaku ekonomi lain. Berdasarkan proyeksi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, setiap kunjungan wisatawan domestik rata-rata menghabiskan dana sebesar Rp1,8 juta per orang per perjalanan. Apabila seluruh peserta touring mengeluarkan nilai serupa, maka potensi belanja langsung bisa mencapai Rp216 juta dalam satu siklus perjalanan.

Belanja tersebut umumnya akan terserap ke berbagai sektor padat karya, seperti akomodasi, kuliner, warung kelontong, bengkel, jasa transportasi lokal, hingga penjual suvenir. Kondisi ini dapat membantu menjaga likuiditas (kemampuan pelaku usaha untuk memenuhi kewajiban jangka pendek) pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Data BPS tahun 2024 menunjukkan bahwa UMKM menyumbang 61,1% terhadap PDB nasional dan menyerap 97% tenaga kerja di sektor swasta. Dengan demikian, pergerakan konsumsi semacam ini dapat memperkuat basis ekonomi kerakyatan.

Selain itu, aktivitas ini turut memperkuat sentimen pasar terhadap sektor pariwisata Mandalika yang masih dalam fase pemulihan pasca-pandemi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi NTB per Desember 2024, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Kabupaten Lombok Tengah mengalami kenaikan sebesar 12,7% year-on-year. Tren peningkatan okupansi ini menjadi indikator bahwa valuasi (penilaian atas potensi ekonomi suatu sektor) kawasan Mandalika terus membaik seiring dengan bertambahnya event berskala nasional maupun internasional. Kegiatan komunitas otomotif ini dapat menjadi katalis untuk menjaga momentum tersebut menjelang puncak event GP 2026.

Di sisi lain: Beban Energi dan Distorsi Konsumsi

Di sisi lain, perlu diperhatikan pula konsekuensi ekonomi dari mobilitas berskala massal ini. Salah satu aspek yang krusial adalah konsumsi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM). Berdasarkan data Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia 2024, sektor transportasi darat menyumbang 45,2% dari total konsumsi BBM nasional, menjadikannya pengguna terbesar dibandingkan sektor industri maupun rumah tangga. Pergerakan 120 kendaraan dalam satu rombongan berpotensi meningkatkan permintaan BBM jenis tertentu secara terpusat, yang pada akhirnya menambah tekanan terhadap rasio (perbandingan antar indikator ekonomi) konsumsi impor energi.

Tekanan ini menjadi relevan mengingat Indonesia masih mengalami ketergantungan terhadap impor produk kilang. Data Bank Indonesia per April 2025 menunjukkan bahwa nilai impor migas mengalami kenaikan sebesar 9,8% year-on-year, berkontribusi terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan. Meskipun skala touring ini relatif terbatas, akumulasi kegiatan serupa dalam periode menjelang event besar dapat memicu capital outflow (arus keluar modal asing atau devisa untuk membiayai kebutuhan impor) dalam jumlah yang tidak terabaikan apabila tidak diimbangi dengan efisiensi konsumsi energi.

Selain itu, mobilitas massal juga dapat menimbulkan distorsi konsumsi regional. Lonjakan permintaan barang dan jasa dalam waktu singkat kerap mendorong kenaikan harga sementara, terutama pada komoditas pangan dan jasa parkir. Berdasarkan data Sistem Informasi Harga Komoditas BPS per Mei 2025, beberapa wilayah tujuan wisata di NTB mencatat kenaikan harga rata-rata bahan pokok sebesar 3,5% dibandingkan bulan sebelumnya. Fenomena ini berpotensi menurunkan daya beli masyarakat lokal yang tidak terlibat dalam kegiatan tersebut, sehingga manfaat ekonomi menjadi tidak merata.

Perspektif Jangka Panjang: Edukasi Energi dan Fundamental Kawasan

Dari sudut pandang fundamental (kondisi ekonomi dasar yang berpengaruh jangka panjang), aspek edukasi energi yang diusung dalam kegiatan ini berpotensi menciptakan nilai tambah yang lebih berkelanjutan dibandingkan belanja sesaat. Edukasi mengenai efisiensi energi, pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, serta kesadaran akan diversifikasi sumber energi dapat membentuk perilaku konsumsi yang lebih rasional di kalangan komunitas otomotif. Hal ini sejalan dengan proyeksi Dewan Energi Nasional yang menargetkan penurunan intensitas energi (rasio konsumsi energi terhadap PDB) sebesar 1,0% per tahun hingga 2030 sebagai bagian dari agenda transisi energi.

Namun, efektivitas edukasi tersebut sangat bergantung pada implementasinya. Tanpa adanya indikator terukur, seperti tingkat adopsi praktik hemat energi pasca-kegiatan, maka dampak jangka panjangnya sulit dikonfirmasi secara kuantitatif. Di sinilah pentingnya peran data dalam menilai apakah kegiatan ini benar-benar berkontribusi terhadap perbaikan fundamental kawasan atau hanya berfokus pada peningkatan sentimen pasar sesaat.

"Event komunitas dapat menjadi instrumen soft power ekonomi, namun dampak berkelanjutannya baru terwujud apabila terjadi transfer pengetahuan yang terukur menuju efisiensi dan inklusivitas," ungkap Dr. Rizal Ramadhani, Ekonom Regional dari Lembaga Kajian Ekonomi dan Pembangunan.

Secara keseluruhan, pergerakan komunitas otomotif menuju Mandalika merupakan fenomena ekonomi yang bersifat ambivalen. Di satu sisi, kegiatan ini berpotensi memperkuat likuiditas UMKM, menjaga tren kenaikan okupansi pariwisata, serta menambah portofolio (kumpulan aktivitas ekonomi yang saling melengkapi) event kawasan. Di sisi lain, tekanan terhadap konsumsi BBM, potensi kenaikan harga lokal, serta risiko capital outflow menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, penilaian yang objektif terhadap kegiatan serupa ke depan perlu menyeimbangkan antara manfaat jangka pendek dan keberlanjutan fundamental ekonomi regional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User