Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan laporan Bank Indonesia per kuartal IV 2025, penyelenggaraan ajang balap internasional di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika kembali menjadi sorotan. Kegiatan menyapa penggemar yang melibatkan para pembalap Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 menjadi salah satu indikator awal menguatnya sentimen pasar terhadap sektor pariwisata dan industri kreatif di Nusa Tenggara Barat. Antusiasme masyarakat yang hadir langsung untuk berinteraksi dengan para pembalap mencerminkan tren konsumsi hiburan yang tetap solid di tengah tekanan ekonomi global.
Pro: Dorongan Nyata bagi Perekonomian Lokal
Di satu sisi, kehadiran para pembalap dalam sesi sapaan penggemar memberikan dampak berganda (multiplier effect) yang terukur. Data Kementerian Pariwisata mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke NTB mengalami kenaikan 23,4 persen year-on-year pada periode penyelenggaraan event balap sebelumnya, dengan rata-rata belanja per wisatawan mencapai USD 1.200 atau setara Rp19,2 juta. Sektor akomodasi mencatat tingkat hunian (okupansi) hotel bintang empat dan lima di kawasan Mandalika menembus 92 persen, naik dari rata-rata normal 61 persen. UMKM lokal, mulai dari kuliner hingga kerajinan tangan, menikmati kenaikan omzet hingga 45 persen dibandingkan bulan biasa. Dari sisi ketenagakerjaan, event ini menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja temporer, memberikan likuiditas tambahan bagi rumah tangga di sekitar kawasan ekonomi khusus.
Kontra: Beban Fiskal dan Risiko Capital Outflow
Di sisi lain, analisis yang lebih kritis menunjukkan sejumlah risiko yang perlu dicermati. Pertama, pembiayaan infrastruktur dan subsidi penyelenggaraan event menuntut alokasi anggaran negara yang tidak kecil. Proyeksi menunjukkan kebutuhan investasi tahunan untuk pemeliharaan sirkuit dan fasilitas pendukung mencapai Rp450 miliar, sementara pendapatan langsung dari tiket dan sponsorship diperkirakan hanya menutup 60 persen dari biaya operasional. Kedua, dari perspektif makro, euforia event berpotensi menciptakan distorsi sementara pada neraca perdagangan jasa. Lonjakan impor barang dan jasa pendukung event dapat memperlebar defisit transaksi berjalan, yang pada kuartal III 2025 tercatat USD 2,1 miliar atau sekitar 0,7 persen dari PDB. Ketiga, risiko capital outflow jangka pendek tetap membayangi jika sentimen pasar global memburuk, mengingat sebagian pembiayaan event bersumber dari investor asing yang sensitif terhadap perubahan suku bunga The Fed.
"Event internasional seperti ini memang memberikan stimulus jangka pendek yang signifikan, tetapi keberlanjutannya sangat bergantung pada bagaimana kita mengelola fundamental ekonomi daerah, bukan sekadar euforia sesaat," ujar seorang ekonom senior dalam sebuah diskusi panel ekonomi kreatif.
Valuasi Sektor Pariwisata dan Proyeksi ke Depan
Mengacu pada indeks harga saham sektor pariwisata, valuasi emiten perhotelan dan transportasi menunjukkan rasio harga terhadap laba (PER) rata-rata 18,7 kali, sedikit di atas rata-rata historis lima tahun sebesar 16,2 kali. Ini mengindikasikan pasar sudah memperhitungkan ekspektasi positif dari rangkaian event 2026. Namun, likuiditas pasar modal domestik masih rentan terhadap fluktuasi global. Proyeksi Bank Indonesia menempatkan pertumbuhan ekonomi NTB pada kisaran 5,8-6,2 persen untuk tahun 2026, dengan kontribusi sektor pariwisata diperkirakan mencapai 28 persen dari total PDRB. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa manfaat ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di kawasan Mandalika, tetapi juga menyebar ke kabupaten sekitar seperti Lombok Tengah dan Lombok Timur. Tanpa pemerataan, risiko kesenjangan regional dapat memperlemah dampak positif jangka panjang. Kesimpulannya, ajang ini adalah katalis, bukan tujuan akhir. Fundamental ekonomi yang kuat, iklim investasi yang stabil, serta pengelolaan fiskal yang prudent akan menentukan apakah tren positif ini berlanjut atau hanya menjadi siklus musiman belaka.
Comments (0)