CT: Kunci Sukses Wirausaha Adalah Menciptakan Peluang, Bukan Menunggu
Dalam gelaran Jogja Financial Festival yang baru saja usai, pesan seorang tokoh bisnis ternama menjadi sorotan. Ia, yang akrab disapa CT, menyampaikan pandangan mendalam tentang hakikat entrepreneursh...
Dalam gelaran Jogja Financial Festival yang baru saja usai, pesan seorang tokoh bisnis ternama menjadi sorotan. Ia, yang akrab disapa CT, menyampaikan pandangan mendalam tentang hakikat entrepreneurship di hadapan ribuan pengunjung. Inti pesannya sederhana namun mendalam: jangan hanya menunggu peluang datang, tetapi ciptakan sendiri. Namun, di balik narasi inspiratif ini, benarkah semudah itu bagi calon pengusaha di Indonesia?
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia mencapai 65,4 juta unit, berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Namun, tingkat keberlangsungan usaha baru masih rendah. Studi Bank Indonesia mencatat, hanya 45 persen UMKM mampu bertahan lebih dari lima tahun. Ini memunculkan pertanyaan tentang relevansi saran "menciptakan peluang" dalam lanskap ekonomi yang tidak selalu kondusif.
Antara Proaktif dan Realitas Pasar
Di satu sisi, ajakan menciptakan peluang selaras dengan konsep entrepreneurial mindset yang menekankan proactive behavior. Data Global Entrepreneurship Monitor (GEM) 2024 menunjukkan, Indonesia memiliki tingkat entrepreneurial intention tertinggi kedua di Asia Tenggara, yakni 37,4 persen dari populasi dewasa. Artinya, semangat berwirausaha ada, dan pesan CT menjadi katalis untuk mengubah niat menjadi tindakan. Kegagalan yang ia sebut sebagai bagian dari proses belajar juga sejalan dengan teori effectuation, di mana pengusaha memulai dengan sumber daya yang ada dan bereksperimen, bukan menunggu kondisi sempurna. Angka dari Kementerian Koperasi dan UKM memperjelas: 78 persen wirausahawan sukses di Indonesia pernah mengalami kegagalan pada tiga tahun pertama. Jadi, menciptakan peluang dari kegagalan bukanlah retorika kosong, melainkan strategi bertahan hidup berbasis data.
Di sisi lain, perspektif yang lebih konservatif mengingatkan bahwa tidak semua orang bisa "menciptakan" peluang tanpa dukungan struktural. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 oleh OJK menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia baru mencapai 49,68 persen. Ini artinya, lebih dari separuh penduduk belum memahami instrumen dasar seperti perencanaan arus kas atau diversifikasi pendapatan—kompetensi krusial saat akan memulai usaha. Tanpa pemahaman tentang fundamental seperti rasio likuiditas, proyeksi titik impas, atau valuasi aset awal, upaya menciptakan peluang dapat berakhir menjadi eksperimen yang merugi. Kondisi makro juga tidak bisa diabaikan: capital outflow dari pasar modal Indonesia mencapai Rp 12,3 triliun pada kuartal I 2025, menandakan investor besar sedang berhati-hati terhadap risiko domestik. Ketika sentimen pasar melemah, akses permodalan bagi pengusaha pemula—yang umumnya bergantung pada dari lembaga keuangan mikro atau venture capital tahap awal—menjadi semakin ketat. Lalu, di manakah ruang untuk "menciptakan" peluang jika suku bunga kredit mikro masih bertahan di level 10–14 persen per tahun, year-on-year?
Belajar dari Kegagalan: Data, Bukan Anekdot
CT menekankan pentingnya belajar dari kegagalan. Dari kacamata ekonomi perilaku, ini sepadan dengan istilah loss framing: pengalaman rugi seringkali memberikan efek edukatif yang lebih kuat daripada pengalaman untung. Studi kasus pada tech startup Indonesia periode 2019–2024 yang tersaring di laporan Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) menunjukkan bahwa pendiri yang pernah mengalami minimal satu kali pivot usaha memiliki probabilitas 30 persen lebih tinggi untuk mendapatkan pendanaan Seri A dibanding pendiri yang bisnis pertamanya langsung berhasil. Pivot inilah wujud konkret "menciptakan peluang dari kegagalan"—mengubah model bisnis yang tidak berfungsi menjadi sesuatu yang memiliki product-market fit. Namun, perlu dicatat bahwa data ini berasal dari sektor formal, sedangkan 97 persen unit UMKM adalah usaha mikro yang seringkali tidak terdata pivot-nya. Di sini muncul tantangan: bagaimana mengedukasi pengusaha akar rumput agar kegagalan tidak dimaknai sebagai akhir, melainkan sebagai portofolio pembelajaran yang menambah nilai? Inovasi sektor keuangan digital seperti peer-to-peer lending produktif yang tumbuh 18,2 persen year-on-year per Maret 2025 bisa menjadi jawaban parsial, tetapi tetap mensyaratkan literasi dasar agar peminjam tidak terjebak utang konsumtif.
Proyeksi: Wirausaha sebagai Katalis Pertumbuhan Inklusif
Di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 yang direvisi IMF menjadi 5,1 persen, peran wirausaha baru menjadi krusial. Menciptakan peluang bukan hanya soal mengatasi pengangguran—tingkat pengangguran terbuka per Februari 2025 di angka 4,82 persen—tetapi juga tentang menyerap surplus tenaga kerja dari sektor pertanian yang terus menyusut. Setiap 1 persen kenaikan jumlah wirausaha yang terampil, berdasarkan model ekonometrika Universitas Indonesia, berpotensi menambah 0,3 poin persentase ke pertumbuhan PDB melalui efek pengganda konsumsi dan investasi lokal. Pesan CT agar tidak menunggu peluang selaras dengan urgensi waktu ini: Indonesia membutuhkan 4,5 juta wirausaha baru hingga 2030 untuk mencapai target negara berpendapatan tinggi, menurut Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. Namun, terjemahan praktis dari "ciptakan peluang" harus dibarengi dengan akses pelatihan vokasi berbasis permintaan pasar dan reformasi perizinan yang benar-benar dirasakan di tingkat desa. Tanpa itu, nasihat dari sosok sekaliber CT berisiko menjadi sekadar orasi motivasi yang menggema setahun sekali, tanpa mengubah garis kemiskinan struktural.
Comments (0)