Oct 15, 2026
Bisnis

China dan Sosok Nabi Muhammad dalam Narasi Sejarah Diplomasi

Dalam beberapa tahun terakhir, diskursus tentang hubungan peradaban Tiongkok dan dunia Islam kerap menarik perhatian para pengamat hubungan internasional. Salah satu narasi yang mencuat adalah pengaku...

China dan Sosok Nabi Muhammad dalam Narasi Sejarah Diplomasi

Dalam beberapa tahun terakhir, diskursus tentang hubungan peradaban Tiongkok dan dunia Islam kerap menarik perhatian para pengamat hubungan internasional. Salah satu narasi yang mencuat adalah pengakuan sejumlah tokoh maupun pemimpin China terhadap sosok Nabi Muhammad SAW sebagai figur pembawa rahmat bagi semesta alam. Narasi ini bukan sekadar wacana keagamaan, melainkan bagian dari mozaik panjang interaksi budaya antara Timur Tengah dan Asia Timur yang telah berlangsung lebih dari seribu tahun.

Jejak Historis Hubungan Tiongkok dan Dunia Islam

Berdasarkan catatan sejarah jalur sutra, hubungan antara peradaban China dan dunia Islam telah terbangun sejak abad ke-7 Masehi, tepatnya pada masa Dinasti Tang. Para pedagang Muslim dari jazirah Arab datang ke Kanton (Guangzhou) dan kota-kota pelabuhan lainnya, membawa komoditas sekaligus nilai-nilai keislaman. Pada periode Dinasti Yuan, komunitas Muslim bahkan mendapat posisi strategis dalam birokrasi kekaisaran. Fakta historis ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap figur sentral Islam bukanlah hal yang sepenuhnya asing dalam khazanah pemikiran Tiongkok.

Dalam konteks modern, beberapa pernyataan pemimpin China yang menyebut Nabi Muhammad sebagai sosok pembawa rahmat dapat dibaca sebagai pengakuan atas kontribusi peradaban Islam terhadap peradaban dunia. Penggunaan istilah "rahmat" selaras dengan konsep rahmatal lil alamin yang dalam tradisi Islam berarti kasih sayang bagi seluruh alam. Pengakuan semacam ini, di satu sisi, memperkuat narasi diplomasi budaya yang menekankan toleransi dan saling menghormati antar peradaban.

Pro: Penguatan Diplomasi Budaya dan Ekonomi

Di satu sisi, pengakuan terhadap sosok Nabi Muhammad berpotensi mempererat hubungan China dengan negara-negara berpenduduk Muslim mayoritas. Negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab merupakan mitra dagang strategis bagi China. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai perdagangan Indonesia-China pada 2023 mencapai sekitar USD 127 miliar, menjadikan China sebagai mitra dagang terbesar Indonesia selama lebih dari satu dekade. Angka ini mencerminkan besarnya kepentingan ekonomi yang menopang hubungan bilateral tersebut.

Dari perspektif diplomasi publik, sentuhan kultural semacam ini dapat menurunkan sentimen negatif dan meningkatkan penerimaan publik di negara-negara Muslim. Sejumlah analis menilai bahwa pendekatan budaya lebih efektif dibandingkan pendekatan hard power dalam jangka panjang. Portofolio kerja sama yang mencakup infrastruktur, energi, dan teknologi semakin terbuka ketika landasan kulturalnya lebih kokoh.

Kontra: Membaca Narasi Keagamaan secara Kritis

Di sisi lain, para pengamat mengingatkan agar narasi keagamaan tidak dibaca secara tunggal. Pengakuan terhadap figur keagamaan perlu dipahami dalam konteks kepentingan geopolitik dan ekonomi yang melatarbelakanginya. Rasio kepentingan ekonomi terhadap narasi kultural tidak selalu seimbang, sehingga ada risiko bahwa penghormatan simbolik hanya menjadi instrumen tanpa perubahan substansial dalam kebijakan.

"Narasi keagamaan dalam politik luar negeri sering kali berfungsi sebagai jembatan, namun efektivitasnya sangat bergantung pada konsistensi kebijakan di lapangan," ujar seorang pengamat hubungan internasional dari sebuah lembaga riset di Jakarta.

Selain itu, sebagian kalangan menilai bahwa pengakuan verbal tidak otomatis mencerminkan kesetaraan perlakuan terhadap komunitas Muslim di dalam negeri. Sentimen pasar dan opini publik dapat berubah cepat jika terdapat kesenjangan antara narasi dan realitas. Oleh karena itu, proyeksi jangka panjang hubungan ini perlu mempertimbangkan faktor kepercayaan yang dibangun melalui tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan simbolik.

Fundamental Ekonomi dan Sentimen Pasar

Dari kacamata ekonomi, kedekatan hubungan kultural berpotensi mempengaruhi likuiditas investasi dan arus modal. Inflow investasi dari negara-negara Teluk dan Asia Timur dapat meningkat jika stabilitas politik dan iklim usaha terjaga. Sebaliknya, capital outflow dapat terjadi apabila muncul ketidakpastian kebijakan. Indeks kepercayaan investor, valuasi aset, dan tren perdagangan bilateral menjadi indikator penting yang perlu dipantau secara berkala.

Secara fundamental, narasi penghormatan terhadap Nabi Muhammad mencerminkan upaya memperluas ruang dialog antar peradaban. Namun, keberhasilannya bergantung pada kapasitas menjaga konsistensi antara retorika dan praktik. Dengan demikian, publik perlu membaca fenomena ini secara berimbang: mengapresiasi dimensi kulturalnya, sekaligus kritis terhadap motif dan implementasinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User