Cek Fakta: Aphelion Tidak Sebabkan Cuaca Dingin dan Meriang

Jakarta — Beredar tangkapan layar di media sosial yang mengklaim bahwa fenomena astronomi Aphelion menyebabkan cuaca bumi menjadi lebih dingin dan memicu g

Cek Fakta: Aphelion Tidak Sebabkan Cuaca Dingin dan Meriang

Jakarta — Beredar tangkapan layar di media sosial yang mengklaim bahwa fenomena astronomi Aphelion menyebabkan cuaca bumi menjadi lebih dingin dan memicu gejala meriang pada manusia. Klaim tersebut ramai dibagikan di grup WhatsApp dan platform lainnya, memicu kekhawatiran publik di tengah perubahan musim. Namun, berdasarkan penelusuran fakta dan penjelasan para ahli, klaim itu tidak berdasar secara ilmiah.

Kronologi Kemunculan Klaim

Klaim tentang Aphelion mulai mencuat pada awal Juli 2024, bertepatan dengan periode di mana bumi berada di titik terjauh dari matahari. Sebuah tangkapan layar berisi narasi 'siap-siap meriang karena bumi lebih dingin akibat Aphelion' menyebar luas di grup keluarga dan pesan berantai. Pesan tersebut menyebutkan bahwa posisi bumi yang menjauh jutaan kilometer dari matahari akan menurunkan suhu global secara drastis dan membuat manusia rentan sakit.

  1. 1 Juli 2024: Tangkapan layar pertama kali muncul di grup WhatsApp komunitas ibu-ibu di Jawa Timur, berisi himbauan membawa jaket dan minum vitamin karena cuaca dingin ekstrem akibat Aphelion.
  2. 3 Juli 2024: Klaim menyebar ke Facebook dan TikTok, disertai visual bumi menjauh dari matahari dengan teks peringatan 'Bumi Akan Membeku'. Beberapa unggahan mendapat ribuan likes dan komentar panik.
  3. 5 Juli 2024: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui akun resminya merilis pernyataan klarifikasi. Peneliti astronomi BRIN menegaskan bahwa klaim tersebut adalah hoaks yang berulang setiap tahun.
  4. 7 Juli 2024: Beberapa media dan platform cek fakta mulai menulis bantahan, termasuk Beritadua.com, untuk meluruskan informasi keliru yang masih beredar.

Mengenal Fenomena Aphelion

Aphelion adalah peristiwa tahunan di mana bumi mencapai jarak terjauh dari matahari dalam orbit elipsnya. Tahun 2024, Aphelion terjadi pada 5 Juli pukul 05.06 UTC dengan jarak sekitar 152,1 juta kilometer. Sebagai perbandingan, saat Perihelion (titik terdekat) pada Januari, jarak bumi-matahari sekitar 147,1 juta kilometer. Selisihnya hanya sekitar 3,3 persen. 'Perbedaan jarak ini tidak signifikan untuk mempengaruhi suhu global secara ekstrem seperti yang diklaim,' jelas Prof. Thomas Djamaluddin, peneliti astronomi BRIN, dalam keterangan tertulisnya.

'Aphelion adalah fenomena normal setiap tahun. Suhu bumi lebih ditentukan oleh kemiringan sumbu rotasi dan musim, bukan oleh jarak. Saat belahan bumi utara bahkan sedang musim panas ketika Aphelion terjadi.' — Prof. Thomas Djamaluddin, BRIN.

Mengapa Bumi Tidak Menjadi Lebih Dingin?

Meskipun bumi menjauh sekitar 5 juta kilometer dari matahari saat Aphelion, radiasi matahari yang diterima hanya berkurang sekitar 3,5 persen. jumlah itu tidak cukup untuk menurunkan suhu global secara drastis. Lebih dari itu, faktor utama yang mengendalikan suhu musiman adalah kemiringan sumbu bumi sebesar 23,5 derajat. Belahan bumi utara justru mengalami musim panas pada Juli karena condong ke arah matahari, meskipun bumi berada di Aphelion. Ini membuktikan bahwa klaim cuaca dingin global akibat Aphelion tidak konsisten dengan kenyataan. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menunjukkan bahwa suhu rata-rata Indonesia pada Juli 2024 masih dalam kisaran normal 24-33 derajat Celsius, tanpa anomali pendinginan yang terkait Aphelion.

Penyebab Sebenarnya Meriang dan Cuaca Dingin Akhir-akhir Ini

Cuaca dingin yang dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia belakangan ini bukan disebabkan oleh Aphelion, melainkan oleh faktor-faktor lokal dan siklus musiman. Berikut penjelasannya:

  • Angin Monsun Australia: Pada Juni-Agustus, angin monsun kering dari Australia membawa udara sejuk ke wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan. Ini adalah fenomena normal yang terjadi setiap tahun.
  • Transisi Musim: Pergantian dari musim hujan ke kemarau seringkali memicu peningkatan kelembaban dan suhu yang tidak stabil, membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi ringan seperti flu dan meriang.
  • Peningkatan Aktivitas Virus: Cuaca yang lebih sejuk dan lembab menjadi lingkungan ideal bagi virus pernapasan. Gejala meriang umumnya adalah respons tubuh terhadap infeksi virus, bukan akibat langsung dari penurunan suhu lingkungan beberapa derajat.
  • Sirkulasi Udara Lokal: Kondisi topografi dan pola angin lokal dapat menciptakan daerah dengan suhu lebih dingin, terutama malam hari. Hal ini sering dikaitkan dengan mitos seperti Aphelion oleh masyarakat yang kurang memahami sains cuaca.

Kedokteran juga menegaskan bahwa suhu udara tidak secara langsung menyebabkan penyakit. Penyakit disebabkan oleh patogen seperti virus dan bakteri. Udara dingin hanya dapat menurunkan daya tahan tubuh lokal di saluran napas atas jika terpapar secara ekstrem dan lama, itu pun tidak seinstan yang digambarkan dalam pesan berantai.

Hoaks yang Berulang Setiap Tahun

Fenomena klaim Aphelion sebenarnya sudah muncul sejak tahun 2016 dan kembali viral setiap kali mendekati bulan Juli. Pola penyebarannya serupa: pesan berisi peringatan cuaca dingin ekstrem, anjuran memakai pakaian tebal, dan kadang dikaitkan dengan konspirasi perubahan iklim. Pihak BRIN dan lembaga cek fakta sudah berulang kali memberikan klarifikasi, namun masih banyak yang tertipu karena narasi tersebut dibungkus dengan istilah ilmiah yang terdengar meyakinkan. Pakar komunikasi digital menyebut ini sebagai contoh 'astro-hoax' — penyalahgunaan istilah astronomi untuk menyebarkan ketakutan yang tidak perlu.

Kesimpulannya, Aphelion hanyalah peristiwa astronomis rutin yang tidak berdampak signifikan pada suhu bumi atau kesehatan manusia. Klaim tentang bumi lebih dingin dan meriang akibat fenomena ini adalah informasi palsu yang wajib diabaikan. Selalu verifikasi informasi sains melalui kanal resmi seperti BRIN, BMKG, atau media kredibel seperti Beritadua.com.

[SOCIAL_TWEET]: Bumi menjauh dari matahari saat Aphelion, tapi bukan berarti suhu bumi membeku! Selisih jarak hanya 3,3% dan tidak cukup untuk cuaca dingin ekstrem. Meriang? Itu urusan virus, bukan astronomi. Baca fakta lengkapnya di bawah ini. #CekFakta #Aphelion #HoaksAstronomi[SOCIAL_TG]: 🌍✨ Aphelion bikin bumi dingin & meriang? Hoaks! Jarak bumi memang jauh, tapi suhu tetap normal. Simak penjelasan pakarnya biar gak panik. #CekFakta

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User