Mochamad Nur Arifin: Profil dan Kinerja Bupati Trenggalek

<h2>Mochamad Nur Arifin: Profil dan Kinerja Bupati Trenggalek</h2> <p>Mochamad Nur Arifin, politikus muda PDI Perjuangan, menorehkan sejarah sebagai bupati termuda di Indonesia saat dilantik pada 17 F

Mochamad Nur Arifin: Profil dan Kinerja Bupati Trenggalek

Mochamad Nur Arifin, politikus muda PDI Perjuangan, menorehkan sejarah sebagai bupati termuda di Indonesia saat dilantik pada 17 Februari 2016 dalam usia 29 tahun. Dua periode kepemimpinannya (2016–2021 dan 2021–2025) diwarnai terobosan digitalisasi layanan publik dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Di bawah komandonya, Trenggalek bertransformasi dari kabupaten agraris dengan tingkat kemiskinan 14,83% (2015) menjadi daerah percontohan smart city yang berhasil menekan angka kemiskinan ke 11,76% pada 2024.

Profil Singkat

Lahir di Surabaya pada 8 April 1986, Arifin muda menghabiskan masa kecil di Trenggalek. Ia menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di kampung halamannya sebelum melanjutkan studi ke jenjang sarjana. Gelar Sarjana Teknik diraihnya dari Jurusan Teknik Material dan Metalurgi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada 2009. Ketertarikannya pada dunia politik sudah terlihat sejak bangku kuliah, aktif di organisasi kemahasiswaan dan sayap partai.

Arifin adalah putra dari Mulyadi WR, anggota DPR RI lima periode dari Fraksi PDI Perjuangan, yang memperkuat basis politiknya di akar rumput. Namun, kariernya tidak semata-mata dibangun di atas nama besar sang ayah. Ia merintis dari tingkat lokal sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Trenggalek terpilih pada Pemilu 2014, sebelum akhirnya mendampingi Emil Dardak sebagai Wakil Bupati Trenggalek pada 2016. Ketika Emil Dardak dilantik menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur pada 2019, Arifin naik menjadi Bupati penuh, memegang kendali penuh atas pembangunan daerah berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa ini.

Karier dan Riwayat Jabatan

Karier politik Mochamad Nur Arifin bergerak dalam tempo cepat. Pada 2014, ia terpilih sebagai Anggota DPRD Trenggalek dari Daerah Pemilihan Trenggalek II, menempati posisi di Komisi C yang membidangi pembangunan dan infrastruktur. Dua tahun berselang, ia memenangi Pilkada Trenggalek 2015 sebagai calon Wakil Bupati mendampingi Emil Dardak, mengalahkan petahana dengan perolehan suara 53,4%.

Tongkat komando beralih penuh ke tangannya pada 2 September 2019 menyusul pengunduran diri Emil Dardak. Momentum ini dimanfaatkan Arifin untuk mematangkan fondasi program yang telah dirintis duet Arifin-Emil. Kepemimpinan penuhnya mendapat legitimasi kuat saat ia terpilih kembali sebagai Bupati Trenggalek pada Pilkada 2020 melalui jalur petahana, menegaskan penerimaan publik terhadap kinerja dan visi pembangunannya.

Kinerja dan Program Unggulan

Program "Grebeg Pangan" menjadi ikon utama inovasi Arifin. Sistem ini merevolusi distribusi bantuan pangan non-tunai dengan memanfaatkan kartu elektronik dan platform digital yang terkoneksi langsung ke pedagang lokal. Dampaknya, lebih dari 27.000 keluarga penerima manfaat bisa mendapatkan bahan pokok berkualitas tanpa antre panjang, sekaligus menggerakkan perputaran uang di usaha mikro setempat senilai Rp 8,7 miliar per bulan pada 2023.

Di sektor kesehatan, Arifin mencetuskan program "Sego Sak Tiwul" (Sehat Gotong Royong Sakit Tanggung Rumah Sakit Umum) yang memadukan jaminan kesehatan daerah dengan pendekatan urunan warga. Data Dinas Kesehatan Trenggalek menunjukkan cakupan jaminan kesehatan semesta mencapai 97,2% pada akhir 2024, menjadikan Trenggalek sebagai salah satu kabupaten dengan perlindungan kesehatan paling komprehensif di Jawa Timur. Sementara itu, konsep "Trenggalek Smart Regency" mengintegrasikan layanan publik lewat aplikasi Sakpole, memangkas birokrasi perizinan hingga 60% lebih cepat bagi pelaku UMKM.

Tantangan dan Harapan

Meski mencatatkan kemajuan, masa kepemimpinan Arifin tidak luput dari sorotan. Pembangunan infrastruktur wisata seperti kawasan Pantai Prigi dinilai sebagian pihak lebih berorientasi pada citra ketimbang pemerataan akses ke desa-desa pelosok yang masih sulit dijangkau. Kesenjangan ekonomi antara Kecamatan Trenggalek kota dengan wilayah selatan seperti Panggul dan Munjungan menjadi PR yang belum tuntas, di mana angka kemiskinan di beberapa desa pesisir masih menembus 18% pada 2024. Selain itu, transformasi digital yang menjadi andalan juga menyisakan persoalan literasi digital di kalangan petani dan nelayan tradisional yang belum sepenuhnya terakomodasi.

Masyarakat berharap pada sisa masa jabatan hingga 2025, Arifin mampu menyeimbangkan pembangunan fisik dengan penguatan ekonomi kerakyatan yang lebih inklusif, sehingga label "bupati milenial" tidak sekadar melekat pada gaya komunikasi digitalnya, tetapi tercermin pada kesejahteraan yang lebih merata bagi seluruh warga Trenggalek.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User