Sep 16, 2026
Nasional

BRICS Perkuat Aliansi Guna Rombak Tatanan Finansial Global

Gelombang dedolarisasi kini bukan lagi sekadar wacana geopolitik pinggiran, melainkan strategi terstruktur yang kian mengancam dominasi mata uang Amerika S

BRICS Perkuat Aliansi Guna Rombak Tatanan Finansial Global

Gelombang dedolarisasi kini bukan lagi sekadar wacana geopolitik pinggiran, melainkan strategi terstruktur yang kian mengancam dominasi mata uang Amerika Serikat. Aliansi ekonomi BRICS—yang kini mencakup kekuatan ekonomi baru di kawasan Global South—secara agresif mengakselerasi pembentukan infrastruktur keuangan independen. Berdasarkan investigasi Beritadua.com, langkah ini diambil guna memitigasi risiko sanksi sepihak Barat serta menyeimbangkan distribusi kekuatan moneter dunia.

Para pakar ekonomi internasional menilai bahwa tatanan keuangan global warisan Perjanjian Bretton Woods 1944 kini berada pada titik kritis. Ketergantungan struktural terhadap mata uang greenback dinilai kerap merugikan negara-negara berkembang akibat volatilitas suku bunga The Federal Reserve dan penggunaan sistem kliring perbankan global (SWIFT) sebagai instrumen tekanan geopolitik.

Eskalasi Ketegangan dan Kebangkitan Suara Global South

Ekspansi keanggotaan BRICS baru-baru ini menandai babak baru dalam pergeseran poros geo-ekonomi. Dengan mencakup lebih dari 40 persen populasi dunia dan menyumbang hampir 36 persen dari total PDB global berbasis paritas daya beli (PPP), koalisi ini memiliki modalitas ekonomi yang cukup untuk menciptakan sistem pembayaran paralel.

"BRICS telah berevolusi dari sekadar forum dialog ekonomi menjadi benteng pertahanan finansial paling konkret bagi Global South. Mereka tidak hanya menginginkan diversifikasi cadangan devisa, tetapi menuntut kedaulatan moneter yang utuh tanpa bayang-bayang hegemoni satu negara," ujar pengamat ekonomi politik internasional.

Kronologi Manuver Finansial Menuju Sistem Multipolar

Upaya pelepasan ketergantungan terhadap dolar AS dilakukan melalui rangkaian langkah strategis yang tersusun secara bertahap:

  1. Inisiasi Pembayaran Mata Uang Lokal (2022–2023): Peningkatan volume penyelesaian perdagangan bilateral menggunakan mata uang nasional, seperti transaksi minyak berbasis Yuan dan Rubel, melonjak signifikan pasca-konflik di Eropa Timur.
  2. Ekspansi Anggota dan Arsitektur Pembayaran (2024): Integrasi negara produsen energi utama ke dalam blok BRICS memperkuat likuiditas pasar alternatif di luar sistem petrodolar konvensional.
  3. Uji Coba Sistem BRICS Pay dan Aset Digital (2024–2025): Percepatan pengembangan platform perbankan digital terdesentralisasi guna memfasilitasi transaksi lintas batas tanpa melibatkan perbankan koresponden Barat.

Tantangan Teknis dan Risiko Polarisasi Moneter

Kendati menunjukkan kemajuan pesat, transisi menuju sistem moneter multipolar menghadapi sejumlah rintangan teknis. Sejumlah analis menyoroti disparitas regulasi devisa antarnegara anggota, fluktuasi nilai tukar lokal, serta dominasi likuiditas obligasi pemerintah AS yang masih sulit ditandingi dalam jangka pendek.

Meskipun demikian, ada beberapa pilar utama yang terus diperkuat oleh koalisi ini:

  • Peningkatan peran New Development Bank (NDB) dalam mendanai proyek infrastruktur menggunakan mata uang lokal.
  • Penyusunan kerangka cadangan likuiditas kontingensi (Contingent Reserve Arrangement) untuk mengatasi krisis neraca pembayaran.
  • Pengurangan proporsi surat utang AS dalam portofolio cadangan devisa bank sentral negara-negara anggota.

Langkah dekonstruksi dominasi finansial ini diprediksi akan mengubah peta perdagangan komoditas global secara permanen, sekaligus memaksa lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia untuk mereformasi hak suara negara-negara berkembang di masa depan.

Negara-negara berkembang kini mengonsolidasikan kekuatan melalui BRICS untuk merombak arsitektur finansial global. Dengan kontribusi PDB mencapai 36% berbasis PPP, bagaimana skema dedolarisasi ini dijalankan? Baca laporan selengkapnya di situs Beritadua.com!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User