BRI Manfaatkan Gim Mobile Legends untuk Edukasi Literasi Keuangan Remaja
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2023, indeks literasi keuangan nasional berada di level 65,43 persen, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 75,02 persen. Angka ini menunju...
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2023, indeks literasi keuangan nasional berada di level 65,43 persen, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 75,02 persen. Angka ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara tingkat pemahaman dan akses masyarakat terhadap produk keuangan. Kesenjangan tersebut paling terasa pada segmen usia muda, khususnya anak dan remaja, yang secara alami memiliki tingkat konsumsi tinggi namun belum dibarengi kemampuan mengelola uang secara disiplin. Kondisi inilah yang melatarbelakangi langkah PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) menggandeng salah satu judul gim daring paling populer di Tanah Air, Mobile Legends: Bang Bang, sebagai kanal edukasi menabung sejak dini.
Pendekatan Populer untuk Menjangkau Generasi Muda
Langkah ini mencerminkan strategi literasi keuangan yang bergeser dari pendekatan formal-konvensional menuju metode berbasis hiburan. Alih-alih menyampaikan materi perbankan melalui seminar atau modul cetak, bank pelat merah tersebut memanfaatkan ekosistem gim yang telah menjadi bagian dari keseharian jutaan anak dan remaja Indonesia. Di satu sisi, pendekatan ini berpotensi besar memperluas jangkauan edukasi karena gim tersebut memiliki basis pengguna yang masif, loyal, dan terbiasa berinteraksi di dalam aplikasi.
Di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana pesan menabung dapat terserap ketika disampaikan melalui medium yang identik dengan hiburan dan transaksi mikro. Sejumlah pengamat menilai kolaborasi semacam ini efektif untuk membangun kesadaran awal atau awareness, tetapi belum tentu cukup untuk mengubah perilaku finansial secara fundamental.
"Edukasi keuangan yang menyasar Generasi Z dan Alpha harus hadir di ruang tempat mereka berkumpul. Namun, tantangan terbesarnya adalah mengubah kesadaran menjadi kebiasaan, dan kebiasaan menjadi karakter," ujar seorang pengamat perbankan ritel nasional.
Urgensi Menabung di Tengah Tren Konsumsi Digital
Data Bank Indonesia menunjukkan nilai transaksi ekonomi digital nasional terus mengalami kenaikan year-on-year. Pada 2023, nilai transaksi uang elektronik tercatat tumbuh signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, seiring meluasnya adopsi pembayaran nontunai di kalangan muda. Tren ini menghadirkan dua wajah: mempermudah akses layanan keuangan, namun sekaligus memperbesar risiko belanja impulsif karena uang terasa lebih abstrak ketika berbentuk saldo digital.
Dalam konteks ini, kemampuan menabung menjadi semacam bantalan likuiditas pribadi. Bankir menyebutnya sebagai fondasi ketahanan finansial rumah tangga. Rasio tabungan yang sehat memungkinkan seseorang menghadapi guncangan ekonomi tanpa harus bergantung pada utang konsumtif. Karena itu, menanamkan kebiasaan menabung sejak dini dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi stabilitas ekonomi nasional.
Peluang dan Keterbatasan Kolaborasi
Pro dari strategi ini terletak pada efisiensi jangkauan. Sebuah judul gim dengan puluhan juta unduhan mampu menghadirkan kanal edukasi yang interaktif, menyenangkan, dan berbiaya relatif rendah per kontak. Materi literasi keuangan dapat dikemas dalam bentuk misi, kuis, atau sistem hadiah yang mendorong partisipasi berulang. Anak dan remaja pun belajar bahwa menabung bukan aktivitas membosankan, melainkan bagian dari pencapaian target, mirip logika mengumpulkan sumber daya di dalam permainan.
Kontra atau keterbatasannya antara lain soal kedalaman materi. Gim tidak dirancang untuk mengajarkan konsep keuangan kompleks seperti bunga majemuk, diversifikasi portofolio, atau manajemen risiko. Selain itu, ada kekhawatiran etis: menggunakan medium yang memiliki mekanisme transaksi in-game untuk mengedukasi anak soal menabung dapat menimbulkan pesan yang simpang siur apabila tidak dikelola hati-hati.
Dari kacamata fundamental, kolaborasi ini lebih tepat dibaca sebagai upaya membangun sentimen pasar jangka panjang terhadap budaya finansial, bukan sebagai instrumen yang langsung mengerek rasio inklusi. Valuasi keberhasilannya perlu diukur melalui survei literasi berkelanjutan, bukan sekadar jumlah impresi atau pengguna yang terpapar kampanye. Proyeksi ke depan, sinergi antara lembaga keuangan dan industri kreatif digital diprediksi akan semakin lazim sebagai strategi akuisisi nasabah muda yang organik.
Pada akhirnya, edukasi menabung lewat gim adalah pintu masuk, bukan tujuan akhir. Yang menentukan adalah bagaimana pesan tersebut dilanjutkan dengan produk, pendampingan, dan kebiasaan nyata di rumah maupun sekolah. Tanpa kesinambungan itu, semangat menabung bisa menguap begitu permainan ditutup.
Comments (0)