Berdasarkan data yang dihimpun dari penyelenggara, sebanyak 500 relawan mengikuti program pelatihan pengelolaan sampah yang digelar menjelang perhelatan MotoGP Mandalika 2026 di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Program ini dirancang mengintegrasikan tiga pendekatan sekaligus, yakni edukasi, aksi lapangan, dan tata kelola sampah, guna mendorong terciptanya kawasan wisata yang lebih bersih sekaligus berkelanjutan.
MotoGP Mandalika sendiri telah menjadi salah satu penyumbang terbesar aktivitas ekonomi di NTB. Pada penyelenggaraan sebelumnya, gelaran ini dilaporkan mendatangkan ratusan ribu penonton dan menyumbang dampak ekonomi hingga ratusan miliar rupiah bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Namun, lonjakan kunjungan itu selalu diiringi konsekuensi lain: volume sampah yang melonjak tajam dalam hitungan hari, terutama plastik kemasan, sisa makanan, dan limbah kertas dari aktivitas penonton.
Di satu sisi, inisiatif pelatihan ratusan relawan ini menunjukkan tren yang menggembirakan. Pendekatan yang tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan menggabungkan edukasi, aksi langsung, dan manajemen pengelolaan, mencerminkan pemahaman bahwa persoalan sampah bukan sekadar soal kebersihan visual, tetapi menyangkut fundamental pengelolaan lingkungan jangka panjang. Jika berhasil, model ini berpotensi menjadi standar baru bagi penyelenggaraan event berskala internasional di Indonesia, terutama karena pariwisata berkualitas tinggi sangat bergantung pada daya dukung lingkungan yang terjaga.
Di sisi lain, sejumlah pengamat lingkungan mengingatkan bahwa pelatihan 500 orang hanyalah sebagian kecil dari persoalan. Selama beberapa hari even, jumlah penonton bisa menembus puluhan ribu orang per hari, yang berarti timbulan sampah dapat mencapai puluhan ton. Tanpa sistem logistik pengangkutan, tempat pemrosesan akhir yang memadai, dan kesinambungan program pasca-event, upaya ini berisiko menjadi sentimen pasar sesaat yang hilang bersama selesainya balapan.
"Pelatihan relawan itu penting sebagai fondasi kesadaran kolektif. Namun, keberlanjutan baru bisa diukur ketika sistem pengelolaan sampah tetap berjalan berbulan-bulan setelah event berakhir," ujar seorang pengamat tata kelola lingkungan perkotaan.
Lonjakan Sampah dan Tekanan pada Daya Dukung Kawasan
Mandalika merupakan kawasan yang secara ekologis relatif sensitif. Sebagai wilayah pesisir, ia rentan terhadap pencemaran laut yang bersumber dari limpasan darat. Dalam konteks ini, pengelolaan sampah tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kualitas ekosistem pesisir, yang justru menjadi daya tarik utama kawasan tersebut. Secara rasio, setiap kenaikan jumlah wisatawan akan berbanding lurus dengan peningkatan timbulan sampah per kapita. Jika rasio pengelolaan tidak ditingkatkan, akumulasi residu berpotensi menurunkan valuasi kawasan sebagai destinasi premium.
Karena itu, pelibatan relawan perlu dilihat bukan hanya sebagai aksi sosial, tetapi bagian dari investasi reputasi kawasan. Edukasi kepada pelaku UMKM di sekitar sirkuit juga sama pentingnya: pedagang makanan dan minuman adalah penghasil sampah kemasan terbesar selama gelaran berlangsung. Tanpa keterlibatan mereka, aliran sampah dari sisi hilir akan tetap tinggi meskipun sisi hulu telah diedukasi.
Dimensi Ekonomi: Antara Biaya dan Nilai Tambah
Dari kacamata ekonomi, pengelolaan sampah merupakan pos biaya yang kerap diabaikan dalam perhitungan proyeksi keuntungan penyelenggaraan event. Padahal, biaya pembersihan pasca-event bisa sangat signifikan. Namun, bila dikelola dengan baik, sampah memiliki potensi nilai tambah melalui daur ulang dan ekonomi sirkular. Sampah plastik PET, misalnya, memiliki nilai jual di pasar bahan baku daur ulang. Dengan kata lain, persoalan ini bisa bertransformasi dari beban fiskal menjadi peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat sekitar.
Kontra: sejumlah kalangan menilai bahwa beban pengelolaan lingkungan seharusnya tidak diletakkan pada relawan dan komunitas semata, melainkan menjadi kewajiban struktural penyelenggara dan pemerintah daerah melalui anggaran yang jelas. Relawan bersifat sukarela, sehingga kapasitas dan kontinuitasnya tidak dapat dijamin. Jika mengandalkan tenaga sukarela sebagai tulang punggung, risiko kualitas pengelolaan yang tidak konsisten akan selalu membayangi.
Pro: pendukung pendekatan partisipatif berargumen bahwa keterlibatan warga membangun rasa memiliki yang jauh lebih kuat dibanding sekadar menyewa jasa kebersihan. Modal sosial semacam ini memiliki dampak jangka panjang terhadap perilaku kolektif dalam menjaga lingkungan, yang pada akhirnya menekan biaya pengelolaan di masa depan.
Proyeksi dan Fundamental Jangka Panjang
Keberhasilan pengelolaan sampah di Mandalika akan menjadi indikator penting bagi kapasitas Indonesia menyelenggarakan event internasional secara berkelanjutan. Ini bukan semata soal citra, melainkan menyangkut fundamental ekonomi pariwisata: destinasi yang bersih cenderung memiliki tingkat kunjungan berulang yang lebih tinggi. Dengan likuiditas kunjungan yang stabil, sektor UMKM di sekitar kawasan akan memperoleh manfaat berganda.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan terletak pada jumlah relawan yang dilatih, melainkan pada perubahan perilaku yang bertahan setelah balapan usai. Selama edukasi, aksi, dan sistem pengelolaan berjalan simultan, Mandalika berpeluang menjadi contoh nyata bahwa even berskala global dapat tumbuh tanpa mengorbankan lingkungan di sekitarnya.
Comments (0)