Berdasarkan data Bank Indonesia per kuartal IV 2025, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan tren kenaikan year-on-year sebesar 6,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi konteks penting ketika PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kembali memperkuat posisinya dalam perhelatan MotoGP Mandalika 2026. Ajang balap internasional di Sirkuit Pertamina Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, itu bukan sekadar panggung olahraga, melainkan momentum bagi bank pelat merah tersebut untuk membangun ekosistem bisnis yang menyatukan pertumbuhan ekonomi daerah, inklusi keuangan, dan keberlanjutan.
Pendorong Ekonomi Lokal Melalui Event Internasional
Di satu sisi, kehadiran MotoGP Mandalika memberikan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi perekonomian NTB. Data Dinas Pariwisata NTB menunjukkan kunjungan wisatawan ke kawasan Mandalika pada periode penyelenggaraan 2025 mencapai lebih dari 120 ribu orang, dengan tingkat hunian hotel (occupancy rate) di sekitar sirkuit menembus 90 persen. Pelaku UMKM, mulai dari penyedia kuliner, suvenir, hingga jasa transportasi, merasakan lonjakan omzet yang rata-rata meningkat 40 hingga 70 persen selama sepekan penyelenggaraan.
Dalam konteks itu, BRI memposisikan diri bukan hanya sebagai sponsor, tetapi sebagai katalis ekosistem. Melalui layanan perbankan, digitalisasi pembayaran, dan pembiayaan UMKM, bank berkode saham BBRI itu berupaya memastikan aliran likuiditas tetap berputar di tingkat lokal. Pendekatan ini sejalan dengan konsep sport tourism yang tidak hanya mendatangkan devisa, tetapi juga mendistribusikan manfaat ekonomi secara lebih merata.
"Event olahraga internasional harus menjadi pintu masuk bagi penguatan fundamental ekonomi daerah, bukan sekadar euforia sesaat. Kolaborasi antara perbankan, pemerintah, dan pelaku usaha menjadi kunci," ujar seorang ekonom pariwisata dari sebuah lembaga riset independen.
Inklusi Keuangan dan Digitalisasi Transaksi
Di sisi lain, tantangan terbesar bukan pada besarnya gelaran, melainkan pada seberapa dalam penetrasi layanan keuangan menyentuh lapisan bawah. Data Otoritas Jasa Keuangan per Desember 2025 mencatat indeks literasi keuangan nasional berada di level 65,4 persen, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 75,02 persen. Artinya, masih ada celah antara pemahaman dan akses yang perlu dijembatani, terutama di daerah wisata yang mengalami lonjakan aktivitas ekonomi mendadak.
Melalui QRIS, agen BRILink, dan layanan digital lainnya, BRI berupaya menjangkau pedagang kecil di sekitar Mandalika agar tidak tertinggal dari arus transaksi nontunai. Pada 2025, jumlah agen BRILink nasional tercatat melebihi 1 juta agen dengan volume transaksi tahunan yang menembus angka ribuan triliun rupiah. Kehadiran agen-agen ini di kawasan Mandalika menjadi jembatan bagi pelaku usaha mikro yang belum tersentuh layanan bank konvensional.
Pro: digitalisasi mempercepat perputaran uang dan meningkatkan transparansi transaksi. Kontra: tanpa pendampingan literasi yang memadai, adopsi teknologi berisiko menciptakan kesenjangan baru antara pedagang besar dan kecil.
Keberlanjutan dan Proyeksi ke Depan
Aspek keberlanjutan menjadi dimensi ketiga yang tak terpisahkan. Pariwisata berbasis olahraga memiliki risiko eksploitasi sumber daya alam dan sosial bila tidak dikelola dengan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Sentimen pasar terhadap emiten yang mengedepankan praktik keberlanjutan cenderung lebih positif, tercermin dari valuasi dan portofolio investor institusi yang semakin selektif.
BRI menempatkan program pemberdayaan, pelatihan UMKM, hingga pengelolaan sampah kawasan sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan. Pendekatan ini bukan tanpa kritik. Sebagian pengamat menilai bahwa program tanggung jawab sosial sering kali bersifat seremonial dan kurang terukur dampaknya. Namun, bila dijalankan konsisten, skema ini dapat memperkuat fundamental ekonomi lokal dalam jangka panjang, bukan hanya selama periode balapan.
Proyeksi ke depan, dengan asumsi tidak ada gejolak eksternal yang signifikan, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB NTB diproyeksikan tumbuh pada kisaran 5 hingga 7 persen year-on-year. Risiko utama tetap datang dari capital outflow global dan fluktuasi nilai tukar yang dapat memengaruhi daya beli wisatawan mancanegara.
Pada akhirnya, MotoGP Mandalika 2026 menjadi ujian bagi kemampuan semua pemangku kepentingan dalam mengubah momentum menjadi fondasi ekonomi yang berkelanjutan. Tanpa sinergi antara pertumbuhan, inklusi, dan keberlanjutan, gelaran sebesar apa pun hanya akan menjadi angka statistik semata, bukan warisan ekonomi yang nyata bagi masyarakat Lombok dan Indonesia.
Comments (0)