BPS Sebut BBM Mahal Picu Harga Ikan Segar Naik

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa lonjakan biaya bahan bakar minyak (BBM) yang harus ditanggung para nelayan menjadi pendorong utama kenaikan harga ikan segar di berbagai daerah. Berdasarka...

BPS Sebut BBM Mahal Picu Harga Ikan Segar Naik

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa lonjakan biaya bahan bakar minyak (BBM) yang harus ditanggung para nelayan menjadi pendorong utama kenaikan harga ikan segar di berbagai daerah. Berdasarkan data terbaru, komponen ini telah menekan daya beli masyarakat sekaligus mengerek inflasi pangan secara signifikan.

Menurut catatan BPS per awal bulan ini, indeks harga konsumen untuk subkelompok ikan segar mencatatkan kenaikan sebesar 12,4 persen secara tahunan (year-on-year). Sementara itu, biaya operasional penangkapan ikan, yang didominasi oleh pengeluaran untuk solar, tercatat meroket hingga 18 persen dalam periode yang sama. Kondisi ini kontras dengan tren harga komoditas pangan lainnya yang relatif lebih terkendali.

Kepala BPS menyampaikan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi, terutama solar yang menjadi urat nadi kapal penangkap ikan, merupakan faktor eksternal yang paling memberatkan. Nelayan di berbagai sentra perikanan seperti di Pantura Jawa, Sumatera bagian timur, dan Sulawesi mengeluhkan bahwa biaya melaut kini mencekik, sehingga mereka terpaksa menaikkan harga jual di tingkat pelelangan. Tanpa adanya penyesuaian harga, banyak nelayan yang justru memilih menambatkan kapalnya karena hasil tangkapan tidak lagi sebanding dengan ongkos melaut.

Beban Operasional Nelayan Membengkak

Porsi belanja BBM dalam struktur biaya penangkapan ikan bisa mencapai 40 hingga 60 persen, tergantung jenis kapal dan jarak tempuh. Ketika harga solar di tingkat eceran naik rata-rata Rp2.500 per liter dibandingkan triwulan sebelumnya, margin keuntungan nelayan langsung tergerus. Untuk tetap bisa bertahan, nelayan tidak punya pilihan selain melego hasil laut dengan harga lebih mahal kepada pedagang pengumpul.

Sejumlah asosiasi nelayan menyebut kondisi ini diperburuk oleh keterbatasan kuota BBM bersubsidi. Banyak pemilik kapal dengan ukuran di atas 5 gross ton (GT) justru tidak tercakup dalam skema subsidi, sehingga mereka bergantung penuh pada harga pasar. Di sisi lain, peralihan dari solar bersubsidi ke nonsubsidi terjadi tanpa masa transisi yang memadai, sehingga beban mendadak muncul dan langsung menerpa rantai pasok. Perwakilan nelayan dari Pekalongan berharap adanya realokasi subsidi atau setidaknya harga khusus BBM untuk perikanan tangkap.

Efek Domino ke Rantai Pasok dan Konsumen

Harga yang lebih tinggi di tingkat nelayan merambat cepat ke konsumen akhir. Pedagang eceran di pasar, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, mengaku terpaksa menyesuaikan harga jual karena ongkos pengiriman juga ikut membengkak. Biaya logistik yang memanfaatkan angkutan darat dan laut turut terkerek karena tarif truk dan kapal pengangkut ikan juga terpapar kenaikan BBM industri. Akibatnya, harga ikan segar di tingkat konsumen bisa dua hingga tiga kali lipat dari harga di tempat pelelangan ikan (TPI).

Faktor cuaca juga menjadi variabel penting yang dikemukakan BPS. Di beberapa wilayah, gelombang tinggi dan angin kencang membuat nelayan mengurangi frekuensi melaut, sehingga pasokan ikan menyusut. Ketika suplai turun sementara permintaan stabil, hukum pasar mendorong harga melambung. Analis memperkirakan jika musim pancaroba masih berlanjut, volatilitas harga ikan bisa tetap tinggi hingga akhir kuartal ini.

Intervensi Pemerintah dan Jalan Keluar

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan mengaku telah menyalurkan bantuan berupa bahan bakar dengan harga khusus di beberapa sentra perikanan. Namun, realisasi di lapangan sering terhambat administrasi dan ketimpangan distribusi. Program kartu nelayan juga belum sepenuhnya menjangkau seluruh armada tradisional. Menurut pengamat ekonomi dari Institut Pertanian Bogor, solusi jangka pendek adalah perbaikan distribusi BBM subsidi dan perluasan akses BBM nonsubsidi dengan harga yang lebih stabil. Untuk jangka panjang, modernisasi armada perikanan dengan teknologi efisien bahan bakar serta pembangunan gudang beku (cold storage) di pelabuhan-pelabuhan strategis bisa memutus mata rantai ketergantungan pada BBM dan mengurangi kerugian pascapanen.

Sementara itu, konsumen dihadapkan pada pilihan sulit: mengurangi konsumsi ikan segar atau beralih ke protein hewani lain yang lebih murah. Harga ikan kembung, tongkol, dan bandeng dilaporkan mengalami kenaikan tertinggi dibandingkan jenis lainnya. BPS memproyeksikan selama tekanan harga BBM belum mereda, wajar jika ikan segar masih akan berada di level harga premium dalam beberapa waktu ke depan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User