BNI Dorong UMKM Batik dan Kriya Lewat Puspa Nuswantara 2026
Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI kembali menegaskan posisinya sebagai mitra strategis pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Dalam upaya membuka ...
Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI kembali menegaskan posisinya sebagai mitra strategis pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Dalam upaya membuka koridor pemasaran yang lebih luas, BNI menggandeng tiga UMKM binaannya untuk memamerkan produk unggulan di ajang Pameran Puspa Nuswantara 2026. Langkah ini dinilai krusial tidak hanya untuk memperkenalkan kekayaan batik dan kriya Nusantara kepada khalayak yang lebih besar, tetapi juga sebagai wujud nyata dukungan bank pelat merah itu dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya bangsa. Keikutsertaan dalam pameran nasional ini diharapkan dapat memantik minat pasar, membuka jejaring bisnis baru, dan mendorong peningkatan omzet para pengrajin lokal.
Puspa Nuswantara: Panggung Strategis Produk Budaya
Pameran Puspa Nuswantara 2026 digelar di Jakarta Convention Center pada 10–14 Mei 2026, mengusung tema “Pesona Kriya Nusantara untuk Dunia”. Sebanyak lebih dari 200 stan peserta dari berbagai daerah memamerkan produk-produk unggulan seperti batik tulis, tenun, keramik, anyaman, perhiasan etnik, dan aneka kriya berbasis kearifan lokal. Event yang terintegrasi dengan forum bisnis dan seminar internasional ini menarik ribuan pengunjung, mulai dari kolektor, desainer, pelaku industri hospitality, hingga buyer mancanegara. Dengan tingkat kunjungan yang tinggi, Puspa Nuswantara menjadi etalase potensial bagi UMKM untuk bertransformasi dari pemain lokal menjadi pemasok global. Kehadiran BNI di sini membuktikan bahwa sektor perbankan tidak hanya berperan sebagai lembaga pembiayaan, tetapi juga fasilitator perluasan akses pasar.
Kurasi dan Pembinaan: Bukan Sekadar Pameran
BNI tidak serta-merta mengundang sembarang pelaku usaha. Tiga UMKM yang tampil merupakan hasil seleksi ketat dari ratusan mitra binaan di bawah program BNI Berdaya, sebuah inisiatif pemberdayaan ekonomi yang mencakup pelatihan manajemen usaha, pendampingan produksi, digitalisasi, hingga sertifikasi halal dan hak kekayaan intelektual. Ketiganya dipilih berdasarkan orisinalitas desain, kualitas produk, kapasitas produksi, serta kesiapan bersaing di pasar yang lebih luas. Satu mitra berasal dari sentra batik Lasem, Jawa Tengah, dengan ciri khas motif tiga negeri hasil akulturasi Cina-Jawa-Belanda; satu lagi adalah perajin kriya eceng gondok dari Lombok yang memproduksi tas dan dekorasi rumah ramah lingkungan; dan satunya merupakan pengusaha batik kontemporer dari Bandung yang menggabungkan teknik tradisional dengan sentuhan gaya urban. Melalui BNI, ketiganya mendapatkan fasilitas penuh mulai dari biaya sewa stan, pelatihan display produk, hingga konsultasi strategi promosi.
Perbankan sebagai Katalis Ekonomi Budaya
Direktur Bisnis UMKM BNI, M. Iqbal (nama fiktif), mengungkapkan bahwa sinergi antara sektor keuangan dan pengembangan budaya adalah bagian dari strategi besar perusahaan. “Kami tidak hanya menyalurkan kredit, kami ingin menciptakan ekosistem di mana UMKM naik kelas. Puspa Nuswantara menjadi jembatan agar produk mitra binaan tidak hanya dikenal di lingkup lokal, tetapi juga diakui secara nasional bahkan internasional,” ujarnya di sela pameran. Hingga Maret 2026, BNI telah menyalurkan portofolio kredit UMKM sebesar Rp48,3 triliun, tumbuh 11,2% secara year-on-year, dengan non-performing loan (NPL) terjaga di level 2,1%. Angka ini menunjukkan bahwa pembiayaan inklusif yang digerakkan BNI berdampak langsung pada penguatan sektor riil tanpa mengorbankan kualitas aset. Di sisi pelestarian budaya, BNI juga menjalankan program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) yang fokus pada dukungan terhadap komunitas pengrajin di tujuh provinsi.
Manfaat Multiplier: Dari Omzet hingga Identitas Bangsa
Partisipasi dalam pameran sekaliber Puspa Nuswantara memberikan efek domino yang signifikan. Bagi UMKM, ini adalah kesempatan emas untuk melakukan uji pasar terhadap produk inovasi terbaru, memperluas database pelanggan, dan menjajaki kerja sama business-to-business dengan distributor atau retailer. Beberapa mitra binaan BNI bahkan berhasil membukukan transaksi langsung senilai puluhan juta rupiah hanya dalam tiga hari pertama gelaran. Lebih jauh, eksposur media dan publikasi digital yang menyertai pameran turut mengerek brand awareness dan positioning produk lokal sebagai komoditas bernilai tinggi. Dari sudut pandang ekonomi makro, penguatan UMKM berbasis budaya adalah kunci untuk menggenjot ekspor produk kreatif yang pada 2025 lalu tercatat tumbuh 7,3% dengan kontribusi terhadap PDB sektor ekonomi kreatif mencapai Rp1.314 triliun. BNI, melalui langkah konkretnya, menjadi salah satu motor yang mempercepat siklus itu.
Proyeksi dan Komitmen Jangka Panjang
Ke depan, BNI berencana mengintegrasikan program binaan UMKM dengan platform digital BNI Digi agar akses pasar tidak terbatas pada event fisik. Mitra binaan akan didorong untuk membuka toko daring yang terhubung dengan ekosistem e-commerce binaan BUMN serta kanal ekspor yang difasilitasi oleh Indonesia Eximbank. Selain itu, BNI juga akan memperbanyak partisipasi UMKM dalam pameran luar negeri seperti Inacraft, Frankfurt Ambiente, atau Tokyo International Gift Show. Langkah ini sejalan dengan peta jalan pemerintah yang menargetkan rasio kewirausahaan nasional mencapai 4% pada 2029 dan menjadikan Indonesia sebagai pusat budaya dunia. Dengan fundamental yang kuat, dukungan likuiditas, dan jaringan yang luas, BNI tidak sekadar menjadi bank, melainkan mitra pertumbuhan yang menghidupkan kembali kebanggaan terhadap produk Indonesia. Puspa Nuswantara 2026 hanyalah satu dari sekian banyak episode sinergi yang akan terus ditulis oleh BNI bersama UMKM Indonesia.
Baca juga:
Comments (0)