Aug 24, 2026
Bisnis

Biochar Indonesia Dilirik Jepang dan Saudi, Standar Mutu Jadi Kunci

Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan catatan Asosiasi Biochar Indonesia (ABII) per 22 Agustus 2026, permintaan ekspor biochar nasional dari Jepang dan Arab Saudi mengalami kenaikan yang konsiste...

Biochar Indonesia Dilirik Jepang dan Saudi, Standar Mutu Jadi Kunci

Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan catatan Asosiasi Biochar Indonesia (ABII) per 22 Agustus 2026, permintaan ekspor biochar nasional dari Jepang dan Arab Saudi mengalami kenaikan yang konsisten sepanjang tahun ini. Biochar, atau arang hayati yang dihasilkan dari pembakaran biomassa dengan oksigen terbatas, mulai dilirik sebagai instrumen ganda: memperbaiki kesuburan tanah sekaligus mengunci karbon di dalamnya. Ketua Umum ABII, Hashim Djojohadikusumo, menekankan bahwa di tengah tingginya minat pembeli asing, standar mutu menjadi penentu utama agar komoditas ini tidak sekadar naik daun sesaat.

Permintaan Naik, Jepang dan Saudi Menjadi Magnet Baru

Ketertarikan Jepang terhadap biochar Indonesia bukan tanpa alasan. Negeri Matahari Terbit memiliki target penurunan emisi yang agresif dan kerap menjadikan teknologi karbon negatif sebagai bagian dari portofolio kebijakan iklimnya. Sementara itu, Arab Saudi yang tengah mendiversifikasi ekonominya dari minyak mulai memasukkan sektor pertanian berkelanjutan ke dalam rencana jangka panjangnya. Keduanya, menurut catatan ABII, menjadi pembeli potensial dengan volume permintaan yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

Dari sisi volume, pertumbuhan permintaan ekspor biochar Indonesia ke dua negara tersebut diperkirakan tumbuh dua digit secara year-on-year pada 2026. Proyeksi ini ditopang oleh fundamental pasar karbon global yang makin ketat, di mana negara-negara maju mulai menghitung jejak emisi di setiap rantai pasok. Bagi Indonesia, ini adalah peluang ekspor baru di luar batu bara dan kelapa sawit yang selama ini mendominasi. Indeks harga komoditas lingkungan di pasar internasional pun menunjukkan tren penguatan, memperkuat daya tarik sektor ini bagi investor.

Standar Mutu: Kunci Reputasi di Pasar Global

Di sinilah pesan Hashim menjadi relevan. Permintaan yang tinggi belum tentu berbanding lurus dengan daya saing jika kualitas produk tidak konsisten. Biochar dengan kadar karbon rendah, kandungan kontaminan tinggi, atau proses produksi yang tidak terukur akan sulit menembus standar ketat pembeli Jepang dan Saudi. Dalam perdagangan komoditas lingkungan, reputasi dibangun lewat sertifikasi dan konsistensi mutu, bukan sekadar volume.

"Standar mutu adalah kunci agar biochar Indonesia tidak hanya dikenal, tetapi dipercaya pasar internasional," ujar Hashim di hadapan pelaku industri, menegaskan pentingnya tata kelola produksi sejak dari hulu.

Jika Indonesia gagal menjaga mutu, risiko yang mengintai bukan hanya penurunan volume ekspor, melainkan tergantikannya posisi Indonesia oleh produsen negara lain yang lebih disiplin. Sebaliknya, bila standar dipegang teguh, biochar nasional berpeluang memperoleh premi harga yang lebih tinggi dan memperbaiki rasio nilai tambah ekspor secara keseluruhan.

Dua Sisi: Optimisme Fundamental vs Tantangan Produksi

Di satu sisi, tren global menuju ekonomi hijau memberi angin segar bagi biochar. Permintaan yang tumbuh, dukungan kebijakan, serta minat investor asing terhadap proyek karbon di Indonesia menciptakan optimisme yang beralasan. Aliran modal yang masuk — selama tidak terganggu gejolak sentimen pasar global, misalnya risiko capital outflow akibat ketidakpastian suku bunga — dapat mempercepat pembangunan fasilitas produksi modern.

Di sisi lain, sejumlah tantangan struktural masih membayangi. Pertama, kapasitas produksi domestik yang tersebar dan didominasi pelaku usaha kecil membuat standarisasi menjadi pekerjaan rumah besar. Kedua, biaya sertifikasi yang tidak murah dapat menjadi beban produsen kecil, apalagi jika akses pembiayaan dengan likuiditas yang longgar belum tersedia luas. Ketiga, tanpa kepastian pasokan bahan baku biomassa yang berkelanjutan, kontrak jangka panjang dengan pembeli asing berisiko gagal dipenuhi. Ini mengingatkan bahwa di balik angka permintaan yang impresif, daya saing tetap ditentukan oleh kesiapan di dalam negeri.

Proyeksi ke Depan dan Arah Kebijakan

Ke depan, proyeksi pasar biochar global masih menunjukkan arah naik seiring makin ketatnya target emisi berbagai negara. Namun, valuasi komoditas ini sangat dipengaruhi oleh persepsi pembeli terhadap kredibilitas produsen. Indonesia, dengan potensi biomassa yang melimpah, berada di posisi yang baik — asalkan tata kelola mutu, logistik, dan pendanaan disatukan dalam satu peta jalan yang jelas.

Bagi pembaca awam, gambaran sederhananya begini: biochar adalah arang khusus yang menyuburkan tanah dan mengunci karbon. Permintaan tinggi dari Jepang dan Saudi adalah sinyal bahwa dunia mulai membayar untuk produk ramah lingkungan. Namun, seperti komoditas lain, harga dan kepercayaan tidak datang dari nama besar, melainkan dari mutu yang terjaga. Pemerintah dan asosiasi industri diharapkan merumuskan insentif serta standar teknis bersama, agar momentum ini tidak berakhir menjadi peluang yang disia-siakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User