BI Tahan Suku Bunga Saat The Fed Naik: Strategi atau Keterpaksaan?

Berdasarkan data Bank Indonesia per September 2026, Gubernur BI memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) meskipun Federal Reserve menaikkan suku bunga Fed Funds Rate pada bulan yang...

Oct 09, 2026 - 19:59
0 0
BI Tahan Suku Bunga Saat The Fed Naik: Strategi atau Keterpaksaan?

Berdasarkan data Bank Indonesia per September 2026, Gubernur BI memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) meskipun Federal Reserve menaikkan suku bunga Fed Funds Rate pada bulan yang sama. Keputusan ini menjadi sorotan pasar keuangan karena secara historis, perbedaan arah suku bunga antara bank sentral Indonesia dan Amerika Serikat sering memicu tekanan pada nilai tukar rupiah serta memicu capital outflow dari pasar domestik.

Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur yang mempertimbangkan kondisi likuiditas perbankan, tren inflasi domestik, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi ke depan. Namun, langkah ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah ini bentuk kepercayaan diri terhadap fundamental ekonomi, atau justru keterpaksaan di tengah ruang fiskal yang terbatas?

Di Satu Sisi: Menjaga Stabilitas Pertumbuhan Domestik

Alasan utama BI menahan suku bunga adalah untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional. Inflasi umum per September 2026 tercatat sekitar 2,8 persen year-on-year, masih berada dalam sasaran target BI di kisaran 2,5 hingga 3,5 persen. Dengan inflasi yang terkendali, BI memiliki ruang untuk tidak serta-merta mengikuti kenaikan The Fed.

Menaikkan BI Rate hanya untuk merespons The Fed berisiko menekan pertumbuhan kredit yang saat ini berada di kisaran 10,2 persen year-on-year. Suku bunga yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya dana perbankan, yang pada akhirnya membebani dunia usaha dan konsumsi rumah tangga. Padahal, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama produk domestik bruto (PDB) dengan kontribusi di atas 53 persen.

Selain itu, likuiditas perbankan dinilai masih memadai. Rasio loan to deposit (LDR) berada di level 86 persen, sementara rasio kecukupan modal (CAR) industri perbankan stabil di atas 24 persen. Artinya, sistem keuangan domestik tidak memerlukan pengetatan moneter tambahan saat ini.

"Kebijakan moneter tidak boleh bersifat reaktif semata terhadap kebijakan bank sentral negara lain. Yang terpenting adalah konsistensi menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan," ujar seorang pejabat bank sentral dalam konferensi pers baru-baru ini.

Di Sisi Lain: Risiko Tekanan Nilai Tukar dan Capital Outflow

Namun, keputusan ini tidak lepas dari risiko. Ketika The Fed menaikkan suku bunga, imbal hasil aset berdenominasi dolar AS menjadi lebih menarik. Selisih suku bunga (interest rate differential) antara Indonesia dan AS menyempit, yang dapat memicu capital outflow dari pasar obligasi dan saham domestik.

Data sementara menunjukkan aliran modal asing keluar bersih (net capital outflow) dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencapai sekitar Rp12,4 triliun sepanjang September 2026. Tekanan ini berpotensi melemahkan rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menyentuh level Rp15.870 per dolar AS, melemah sekitar 1,7 persen dibanding posisi akhir Agustus 2026.

Pelemahan rupiah dapat berdampak pada kenaikan harga barang impor, yang pada gilirannya bisa mendorong inflasi inti. Meski inflasi saat ini terkendali, tekanan dari sisi eksternal bisa mempercepat kenaikan harga pada kuartal berikutnya. Selain itu, cadangan devisa (cadev) turun tipis menjadi AS$142,3 miliar per akhir September 2026 dari sebelumnya AS$145,1 miliar.

Dari kacamata investor, keputusan BI bisa dibaca sebagai sinyal bahwa otoritas moneter lebih memprioritaskan pertumbuhan domestik dibandingkan stabilitas eksternal. Ini menimbulkan pertanyaan tentang kredibilitas kebijakan dan konsistensi dalam menjaga daya tarik aset Indonesia di mata investor global.

Respons Pasar dan Proyeksi ke Depan

Sentimen pasar terhadap keputusan ini terbelah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun 0,8 persen pada sesi perdagangan setelah pengumuman, namun kembali stabil dalam dua hari berikutnya. Imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun naik ke level 6,95 persen dari sebelumnya 6,82 persen, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap risiko nilai tukar.

Ke depan, proyeksi suku bunga BI akan sangat bergantung pada tiga faktor: arah kebijakan The Fed selanjutnya, perkembangan inflasi domestik, dan stabilitas nilai tukar. Jika tekanan eksternal berlanjut, BI mungkin akan terpaksa menaikkan suku bunga pada kuartal IV 2026 untuk mencegah capital outflow yang lebih besar.

Namun, jika inflasi tetap rendah dan pertumbuhan kredit terjaga, BI bisa mempertahankan sikap akomodatifnya. Yang jelas, keputusan ini menunjukkan bahwa bank sentral Indonesia menghadapi dilema klasik: antara mendukung pertumbuhan di dalam negeri atau menjaga stabilitas eksternal. Dalam dunia ekonomi yang saling terhubung, tidak ada kebijakan yang sepenuhnya bebas risiko. Portofolio investor pun perlu disesuaikan dengan dinamika ini, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User