Oct 04, 2026
Bisnis

Belajar dari Ringgit dan SGD untuk Perkuat Rupiah

Berdasarkan data BPS, Bank Indonesia, dan OJK per 31 Agustus 2025, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) mengalami penurunan sebesar 4,12% secara year-on-year. Penurunan ini tidak da...

Belajar dari Ringgit dan SGD untuk Perkuat Rupiah

Berdasarkan data BPS, Bank Indonesia, dan OJK per 31 Agustus 2025, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) mengalami penurunan sebesar 4,12% secara year-on-year. Penurunan ini tidak dapat dilihat sebagai sebuah kejadian yang terpisah, namun merupakan bagian dari sebuah tren (arah pergerakan data dalam jangka waktu tertentu) tekanan terhadap mata uang negara berkembang. Tekanan tersebut turut berdampak terhadap indeks (ukuran yang menggambarkan perubahan harga atau nilai dari waktu ke waktu) nilai tukar Rupiah, yang menjadi salah satu indikator utama bagi sentimen pasar (pandangan kolektif pelaku pasar terhadap suatu aset atau perekonomian) di dalam negeri.

Nilai tukar merupakan harga sebuah mata uang terhadap mata uang lainnya. Ketika Rupiah melemah, barang impor akan cenderung lebih mahal, namun ekspor dapat menjadi lebih kompetitif. Hal ini menjadi alasan mengapa upaya untuk memperkuat daya tahan Rupiah kerap menjadi perhatian, khususnya dengan melihat pengalaman negara tetangga, seperti Malaysia dengan Ringgit (MYR) dan Singapura dengan Dolar Singapura (SGD).

Tren Tekanan yang Dihadapi Rupiah

Di satu sisi, fundamental (kondisi dasar perekonomian, seperti pertumbuhan, inflasi, dan neraca perdagangan) perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Berdasarkan data BPS per kuartal II tahun 2025, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mengalami kenaikan sebesar 5,12% secara year-on-year. Selain itu, rasio (perbandingan antara dua angka atau variabel ekonomi) utang pemerintah terhadap PDB masih berada di angka 39,4%, yang relatif terjaga dibandingkan dengan beberapa negara berkembang lainnya. Angka-angka ini menunjukkan bahwa landasan ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menopang stabilitas jangka menengah.

Di sisi lain, tekanan eksternal masih cukup besar. Kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat telah mendorong capital outflow (arus keluar modal asing dari suatu negara ke negara lain) dari pasar negara berkembang. Berdasarkan data Bank Indonesia, capital outflow bersih dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham Indonesia mencapai sebesar Rp 92,7 triliun pada periode Januari hingga Agustus 2025. Aliran modal keluar ini turut menekan likuiditas (ketersediaan dana yang dapat digunakan dengan cepat) di pasar valuta asing, sehingga permintaan terhadap Dolar AS meningkat dan berdampak terhadap melemahnya Rupiah. Ditambah dengan ketidakpastian geopolitik, sentimen pasar dapat berubah dengan cepat, terlepas dari seberapa kuat fundamental domestik.

Pembelajaran dari Ringgit dan SGD

Di satu sisi, Malaysia telah menunjukkan konsistensi dalam menjaga stabilitas Ringgit melalui pengelolaan kebijakan yang terukur. Berdasarkan data Bank Negara Malaysia, cadangan devisa (aset luar negeri yang dimiliki bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar) Malaysia berada di angka USD 119,6 miliar per Agustus 2025. Selain itu, upaya diversifikasi sumber pertumbuhan serta pengelolaan defisit transaksi berjalan menjadi bagian dari langkah untuk menjaga valuasi (penilaian terhadap suatu aset, termasuk mata uang) Ringgit agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak jangka pendek. Pendekatan ini tidak bertujuan untuk menguatkan secara drastis, namun untuk menjaga daya tahan mata uang terhadap tekanan eksternal.

Di sisi lain, Singapura dengan SGD dapat menjadi contoh dalam hal disiplin kebijakan. Berbeda dengan banyak negara, Singapura menerapkan kerangka kebijakan moneter yang berfokus terhadap nilai tukar, bukan suku bunga. Berdasarkan data Monetary Authority of Singapore (MAS), kebijakan ini telah membantu menjaga inflasi tetap rendah, dengan tingkat inflasi inti yang berada di kisaran 0,9% year-on-year per Juli 2025. Stabilitas harga ini, yang dibarengi dengan rasio tabungan domestik yang tinggi serta neraca transaksi berjalan yang surplus, turut menjadi faktor yang menjaga likuiditas dan kepercayaan terhadap SGD. Namun, model ini tidak dapat serta merta diterapkan di Indonesia, mengingat perbedaan struktur ekonomi, ukuran pasar, serta tujuan pembangunan yang lebih luas.

Prioritas untuk Memperkuat Daya Tahan Rupiah

Di satu sisi, upaya memperkuat daya tahan Rupiah dapat dimulai dari penguatan fundamental domestik. Peningkatan produktivitas, perluasan basis ekspor barang dengan nilai tambah tinggi, serta pengelolaan impor yang lebih efisien dapat membantu menyeimbangkan neraca perdagangan. Berdasarkan proyeksi (perkiraan kondisi ekonomi di masa mendatang berdasarkan data yang ada) Bank Indonesia, neraca transaksi berjalan diperkirakan akan tetap dalam kisaran yang terjaga, namun tetap rentan terhadap fluktuasi harga komoditas. Hal ini dapat melengkapi peran intervensi di pasar valuta asing yang dilakukan oleh bank sentral untuk meredakan tekanan jangka pendek.

Di sisi lain, perlu diperhatikan aspek pembiayaan. Ketergantungan terhadap pembiayaan dalam Dolar AS dapat meningkatkan risiko, khususnya ketika suku bunga global tinggi. Diversifikasi sumber pembiayaan, penguatan pasar SBN domestik, serta perluasan basis investor jangka panjang dapat membantu menekan capital outflow. Selain itu, penguatan portofolio (kumpulan aset yang dimiliki, baik oleh investor maupun institusi) investasi domestik juga berperan penting untuk menjaga stabilitas, tanpa harus bergantung sepenuhnya terhadap modal asing.

Terakhir, komunikasi kebijakan yang terukur juga memegang peranan yang tidak kalah penting. Kejelasan arah kebijakan fiskal dan moneter dapat membantu membentuk sentimen pasar yang lebih stabil, sehingga gejolak nilai tukar tidak tereskalasi akibat ekspektasi yang berlebihan.

"Stabilitas nilai tukar bukanlah tujuan yang berdiri sendiri, namun merupakan hasil dari konsistensi kebijakan yang menjaga keseimbangan antara stabilitas harga, pertumbuhan, dan ketahanan eksternal."

Dengan mempelajari apa yang dapat diterapkan dari pengalaman Ringgit dan SGD, namun tetap menyesuaikannya dengan kondisi Indonesia, upaya memperkuat daya tahan Rupiah dapat berfokus pada pembangunan yang berkelanjutan. Bukan untuk melawan arus global, namun untuk membangun benteng yang cukup kuat agar perekonomian Indonesia tetap tangguh di tengah dinamika dunia yang terus berubah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User