Oct 14, 2026
Bisnis

BCA Digital Raih Rekor MURI Lewat Buku Literasi Keuangan

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2025, indeks literasi keuangan nasional baru berada di kisaran 65,43 persen, sementara indeks inklusi keuangan telah menembus 75,02 persen. Angk...

BCA Digital Raih Rekor MURI Lewat Buku Literasi Keuangan

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2025, indeks literasi keuangan nasional baru berada di kisaran 65,43 persen, sementara indeks inklusi keuangan telah menembus 75,02 persen. Angka ini menunjukkan kesenjangan yang masih lebar: masyarakat semakin mudah mengakses produk keuangan, tetapi belum tentu memahami cara mengelolanya dengan benar. Celah inilah yang coba dijembatani oleh PT Bank Digital BCA melalui peluncuran buku berjudul Dear Money, We Need to Talk, sebuah kompilasi 50 artikel jurnalistik yang menyoroti berbagai persoalan finansial sehari-hari.

Rekor MURI dan Signifikansi Simboliknya

Peluncuran buku tersebut mencatatkan namanya di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Pencapaian ini menambah panjang daftar inisiatif literasi keuangan yang dikemas secara populer oleh industri perbankan. Di satu sisi, pengakuan semacam ini berfungsi sebagai katalis positif: ia menciptakan sentimen pasar yang mendorong perhatian publik terhadap pentingnya perencanaan keuangan. Di sisi lain, sebagian pengamat menilai rekor semacam ini lebih bersifat seremonial ketimbang struktural. Pertanyaannya, apakah sebuah buku mampu mengubah perilaku finansial masyarakat secara luas, atau hanya menjadi bagian dari strategi branding korporasi?

Untuk memahami konteksnya, penting menilik definisi literasi keuangan. Istilah ini merujuk pada kombinasi pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memengaruhi sikap serta perilaku seseorang dalam mengelola uang. Literasi bukan sekadar tahu apa itu deposito atau reksa dana, melainkan mampu menyusun anggaran, memahami risiko, dan mengambil keputusan berdasarkan fundamental yang matang, bukan sekadar ikut-ikutan tren.

Pro dan Kontra Pendekatan Literasi via Buku

Pro: Pendekatan naratif melalui artikel jurnalistik membuat konsep keuangan yang rumit menjadi lebih mudah dicerna. Buku ini menyasar pembaca awam yang mungkin enggan membaca laporan riset atau dokumen teknis. Dengan gaya bahasa populer, pesan tentang pentingnya dana darurat, pengelolaan utang, hingga investasi jangka panjang dapat tersampaikan lebih efektif. Kolaborasi antara institusi keuangan dan media juga memperkuat kredibilitas isi, karena artikel-artikel tersebut melewati proses verifikasi dan penyuntingan jurnalistik.

Kontra: Efektivitas buku sebagai alat perubahan perilaku masih dipertanyakan. Riset perilaku keuangan menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup; diperlukan kebiasaan, akses, dan insentif yang konsisten. Tanpa pendampingan berkelanjutan, pembaca bisa saja memahami isi buku tetapi tetap gagal menerapkannya. Selain itu, ada risiko konflik kepentingan ketika buku literasi diterbitkan oleh entitas yang juga menjual produk keuangan. Publik berhak bertanya: sejauh mana konten buku ini netral, dan sejauh mana ia mendorong portofolio yang sehat alih-alih konsumsi produk tertentu?

"Literasi keuangan yang baik adalah fondasi stabilitas sistem keuangan. Ketika masyarakat memahami risiko, gejolak pasar tidak serta-merta memicu kepanikan yang berujung pada capital outflow," demikian pandangan yang kerap disampaikan kalangan otoritas moneter.

Konteks Makro dan Tantangan ke Depan

Jika melihat data historis, indeks literasi keuangan Indonesia mengalami kenaikan dari sekitar 38,03 persen pada 2019 menjadi 65,43 persen pada 2024. Tren ini positif, namun masih tertinggal dibandingkan beberapa negara ASEAN seperti Singapura dan Malaysia yang telah melampaui 80 persen. Kesenjangan ini menjadi relevan mengingat likuiditas nasional dan stabilitas valuasi aset sangat dipengaruhi oleh perilaku investor ritel. Semakin rasional investor, semakin sehat rasio risiko di pasar.

Dari sisi industri, inisiatif semacam ini juga berfungsi memperkuat posisi bank digital di tengah persaingan yang ketat. Sektor perbankan digital tumbuh pesat dengan proyeksi pertumbuhan kredit year-on-year dua digit. Namun, pertumbuhan tanpa literasi memadai berpotensi menciptakan masalah baru, seperti kredit macet atau investasi spekulatif. Karena itu, edukasi bukan sekadar tanggung jawab sosial, melainkan juga investasi jangka panjang bagi industri itu sendiri.

Ke depan, keberhasilan program literasi tidak cukup diukur dari penghargaan atau jumlah buku yang dicetak. Ia harus diukur dari perubahan perilaku: apakah masyarakat semakin disiplin menabung, semakin berhati-hati berutang, dan semakin memahami bahwa setiap keputusan finansial memiliki konsekuensi. Buku boleh menjadi pintu masuk, tetapi pendampingan berkelanjutan, akses yang merata, serta transparansi informasi tetap menjadi kunci. Di satu sisi, langkah ini patut diapresiasi sebagai upaya memperkecil kesenjangan literasi. Di sisi lain, tanpa eksekusi yang konsisten, ia berisiko berhenti sebagai simbol semata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User