Bapanas Usut Harga Beras Fortifikasi Melonjak
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) per awal pekan ini, harga beras fortifikasi di pasar ritel modern tercatat mencapai Rp15.500 per kilogram, sementara beras medium di kisaran Rp12.000-R...
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) per awal pekan ini, harga beras fortifikasi di pasar ritel modern tercatat mencapai Rp15.500 per kilogram, sementara beras medium di kisaran Rp12.000-Rp13.000 per kilogram dan beras premium di angka Rp14.000-Rp15.000 per kilogram. Selisih harga yang mencapai 15-20 persen ini memicu penyelidikan mendalam oleh Bapanas untuk memastikan apakah kenaikan tersebut sesuai dengan biaya produksi atau justru mengandung praktik margin berlebih.
Latar Belakang Penyelidikan: Kewajaran Harga vs Biaya Produksi
Bapanas mulai menyelidiki alasan harga beras fortifikasi yang dijual jauh lebih mahal dibandingkan beras medium maupun premium. Langkah ini diambil menyusul keluhan sejumlah konsumen yang merasa keberatan dengan lonjakan harga di tengah program fortifikasi yang digalakkan pemerintah untuk meningkatkan gizi masyarakat. Fortifikasi sendiri merupakan proses penambahan zat gizi mikro seperti zat besi, seng, dan vitamin A ke dalam beras, yang secara teknis memang menambah biaya produksi.
Pro: Pihak produsen beras fortifikasi berargumen bahwa proses fortifikasi memerlukan teknologi khusus, bahan baku premiks, serta uji kualitas yang ketat, sehingga wajar jika harga jualnya lebih tinggi. Mereka mencontohkan biaya tambahan untuk premiks berkisar Rp500-Rp800 per kilogram, ditambah biaya operasional mesin fortifikasi yang belum banyak dimiliki penggilingan padi skala kecil. Di sisi lain, kontra: Pengamat ekonomi pangan menilai selisih harga yang terlalu lebar tidak hanya mencerminkan biaya produksi, tetapi juga potensi ketidakefisienan rantai distribusi dan margin pemasaran yang berlapis. Mereka menyoroti bahwa di beberapa negara seperti Thailand dan Vietnam, beras fortifikasi dijual hanya 5-7 persen lebih mahal dari beras biasa, bukan 20 persen seperti di Indonesia.
Analisis Data: Perbandingan Harga dan Struktur Biaya
Berdasarkan data Kementerian Pertanian per semester pertama 2024, biaya produksi beras medium di tingkat penggilingan rata-rata Rp9.500 per kilogram, sementara beras premium Rp10.800. Untuk beras fortifikasi, estimasi biaya produksi mencapai Rp11.500 per kilogram jika menggunakan teknologi standar. Dengan demikian, harga wajar di tingkat konsumen seharusnya berkisar Rp13.500-Rp14.000 per kilogram, masih di bawah harga yang ditemukan di pasar. Artinya, terdapat potensi margin ekstra sebesar Rp1.500-Rp2.000 per kilogram yang menjadi perhatian Bapanas.
Di satu sisi, kenaikan harga beras fortifikasi dapat dipahami karena adanya nilai tambah gizi yang dijanjikan, dan konsumen yang sadar kesehatan mungkin bersedia membayar lebih. Di sisi lain, jika selisih harga tidak terkendali, program fortifikasi yang bertujuan meningkatkan akses gizi justru menjadi eksklusif dan tidak menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah. Data BPS per Agustus 2024 menunjukkan bahwa konsumsi beras per kapita mencapai 94,9 kilogram per tahun, dan mayoritas pembeli beras di pasar tradisional adalah kelompok menengah ke bawah. Jika harga beras fortifikasi terus melambung, target pemerintah untuk menurunkan angka stunting melalui fortifikasi bisa terhambat.
Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan
Sentimen pasar terhadap isu ini cenderung fluktuatif. Sejak Bapanas mengumumkan penyelidikan pada pekan lalu, harga beras fortifikasi di beberapa ritel modern sempat turun tipis sebesar 2-3 persen karena pedagang menahan diri menaikkan harga. Namun, di pasar tradisional, harga masih bertahan di level tinggi karena minimnya pengawasan. Analis memperkirakan bahwa jika Bapanas menemukan pelanggaran margin, akan ada koreksi harga hingga 10 persen dalam jangka pendek. Namun, jika tidak ada temuan signifikan, harga berpotensi kembali naik seiring meningkatnya permintaan menjelang akhir tahun.
“Penyelidikan ini penting untuk menjaga kepercayaan konsumen. Jika biaya produksi hanya lebih tinggi 5 persen, maka harga jual seharusnya tidak melonjak 20 persen. Ada indikasi inefisiensi atau bahkan praktik rente di rantai distribusi,” ujar Dr. Ahmad Ma'ruf, ekonom pangan dari Institut Pertanian Bogor, dalam keterangannya kepada media.
Langkah Bapanas dan Dampaknya bagi Industri
Bapanas berencana memanggil asosiasi penggilingan padi dan produsen beras fortifikasi dalam dua pekan ke depan untuk meminta rincian struktur biaya. Mereka juga akan berkoordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memastikan klaim fortifikasi sesuai dengan standar yang ditetapkan. Jika ditemukan pelanggaran, sanksi administratif hingga pencabutan izin edar dapat dijatuhkan. Di sisi lain, produsen beras fortifikasi berharap pemerintah memberikan insentif seperti subsidi premiks atau keringanan pajak agar harga bisa ditekan tanpa mengorbankan kualitas.
Ke depan, proyeksi pasar menunjukkan bahwa harga beras fortifikasi akan stabil di kisaran Rp14.000-Rp14.500 per kilogram jika Bapanas berhasil menertibkan margin. Namun, jika tidak, kesenjangan harga akan terus berlanjut dan berpotensi memicu pergeseran konsumen ke beras non-fortifikasi, yang justru bertentangan dengan tujuan program. Data Kementerian Kesehatan mencatat bahwa konsumsi beras fortifikasi baru mencapai 5 persen dari total konsumsi beras nasional, masih jauh dari target 20 persen pada 2025. Oleh karena itu, keputusan Bapanas dalam penyelidikan ini akan menjadi penentu arah kebijakan pangan ke depan, baik dari sisi keterjangkauan harga maupun peningkatan gizi masyarakat.
Comments (0)