Bank Mega Syariah Bidik Pasar Wisata Halal Lewat Islamic Travel Connect 2026

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2024, aset perbankan syariah nasional tercatat menembus Rp980 triliun dengan pangsa pasar sekitar 7,5 persen terhadap total aset industri perban...

Aug 07, 2026 - 05:51
0 0
Bank Mega Syariah Bidik Pasar Wisata Halal Lewat Islamic Travel Connect 2026

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir 2024, aset perbankan syariah nasional tercatat menembus Rp980 triliun dengan pangsa pasar sekitar 7,5 persen terhadap total aset industri perbankan Indonesia. Di tengah tren pertumbuhan tersebut, Bank Mega Syariah mengambil langkah strategis dengan menjadi mitra perbankan resmi pada ajang Islamic Travel Connect 2026, sebuah gelaran yang mempertemukan pelaku industri wisata halal, agen perjalanan, serta lembaga keuangan syariah dalam satu ekosistem.

Langkah ini mencerminkan arah ekspansi bank syariah yang tidak lagi bertumpu pada produk penghimpunan dana seperti tabungan haji, melainkan merambah layanan pembiayaan perjalanan ibadah, kartu pembayaran berbasis akad, hingga solusi likuiditas bagi biro perjalanan umrah. Sentimen pasar terhadap segmen ini dinilai positif, mengingat Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, yakni sekitar 87 persen dari total penduduk yang melampaui 280 juta jiwa berdasarkan data BPS.

Potensi Ekonomi Wisata Halal yang Kian Menjanjikan

Industri wisata halal global menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten. Laporan State of the Global Islamic Economy memproyeksikan belanja perjalanan Muslim dunia akan menyentuh angka 225 miliar dolar AS pada 2028, naik signifikan dibandingkan masa pra-pandemi. Indonesia sendiri secara konsisten berada di peringkat atas Global Muslim Travel Index, bersaing ketat dengan Malaysia sebagai destinasi favorit wisatawan Muslim dunia.

Dari sisi domestik, kebutuhan pembiayaan perjalanan ibadah terbilang besar. Kuota haji reguler Indonesia untuk 2025 berada di kisaran 221 ribu jamaah, sementara jumlah jamaah umrah diperkirakan menembus 1,4 juta orang per tahun. Nilai transaksi dari kedua segmen ini ditaksir mencapai puluhan triliun rupiah, menjadikannya lahan bisnis dengan fundamental kuat bagi perbankan syariah.

"Kedekatan dengan komunitas dan ekosistem wisata halal menjadi kunci perbankan syariah memperdalam penetrasi pasar, bukan sekadar menambah nasabah tetapi membangun portofolio pembiayaan yang berkelanjutan," ujar seorang pengamat perbankan syariah dari kalangan akademisi.

Di Satu Sisi: Peluang Ekspansi Terbuka Lebar

Di satu sisi, kehadiran Bank Mega Syariah dalam ajang berskala nasional seperti Islamic Travel Connect 2026 membuka akses langsung ke segmen nasabah ritel yang selama ini menjadi tulang punggung perbankan syariah. Rasio penetrasi perbankan syariah yang masih di bawah 8 persen justru menyiratkan ruang tumbuh yang besar, apalagi didukung bonus demografi dan menguatnya kelas menengah Muslim urban.

Dukungan regulasi turut memperkuat prospek. Pemerintah melalui Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menargetkan pangsa pasar keuangan syariah mencapai 10 persen dalam beberapa tahun ke depan. Sinergi antara bank, agen perjalanan, dan penyedia layanan pendukung menciptakan rantai nilai yang menguntungkan semua pihak, mulai dari pembiayaan modal kerja bagi biro travel hingga produk investasi berbasis akad bagi calon jamaah.

Di Sisi Lain: Tantangan Struktural Belum Terselesaikan

Di sisi lain, sejumlah tantangan struktural masih membayangi. Pertama, indeks literasi keuangan syariah berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK masih berada di level sekitar 9 persen, jauh tertinggal dibandingkan literasi keuangan konvensional yang menembus 49 persen. Kesenjangan ini membuat upaya edukasi memerlukan biaya akuisisi yang tidak kecil.

Kedua, persaingan tidak hanya datang dari sesama bank syariah, tetapi juga dari bank konvensional yang menawarkan produk serupa melalui unit usaha syariah mereka. Ketiga, dari sisi makroekonomi, risiko capital outflow dan pelemahan nilai tukar rupiah dapat menekan daya beli masyarakat terhadap paket perjalanan ibadah yang sebagian komponennya berdenominasi dolar AS. Apabila rupiah bergerak melemah melampaui Rp16.000 per dolar AS, biaya umrah berpotensi mengalami kenaikan dan menggerus permintaan.

Proyeksi dan Arah Kebijakan ke Depan

Secara valuasi, segmen wisata halal tetap menarik bagi investor perbankan. Sejumlah analis memperkirakan pertumbuhan pembiayaan syariah pada 2026 berada di kisaran 9 hingga 11 persen year-on-year, melampaui proyeksi pertumbuhan kredit konvensional yang berada di level 8 hingga 10 persen. Fundamental ini ditopang oleh rasio kecukupan modal perbankan syariah yang relatif sehat di atas 20 persen.

Namun, keberhasilan inisiatif seperti kemitraan Bank Mega Syariah dengan Islamic Travel Connect 2026 pada akhirnya akan diukur dari kemampuan mengonversi eksposur menjadi kinerja riil: pertumbuhan dana pihak ketiga, ekspansi pembiayaan berkualitas, serta rasio pembiayaan bermasalah yang terjaga. Bagi pelaku pasar, perkembangan segmen ini layak dicermati sebagai bagian dari dinamika ekonomi syariah nasional, tanpa mengabaikan risiko makroekonomi yang menyertainya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User