Bank Mandiri dan Paramount Enterprise Kolaborasi Dorong Properti Berkelanjutan

Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2025, BI Rate berada di level 5,75% usai pemangkasan 25 basis poin, sementara data OJK mencatat pertumbuhan kredit perbankan sebesar 10,79% year-on-year per...

Aug 12, 2026 - 13:24
0 0
Bank Mandiri dan Paramount Enterprise Kolaborasi Dorong Properti Berkelanjutan

Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2025, BI Rate berada di level 5,75% usai pemangkasan 25 basis poin, sementara data OJK mencatat pertumbuhan kredit perbankan sebesar 10,79% year-on-year per November 2024. Di tengah tren pelonggaran likuiditas yang masih bertahap itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjalin nota kesepahaman dengan Paramount Enterprise guna menghadirkan layanan perbankan terintegrasi yang menopang pengembangan kawasan properti berkonsep berkelanjutan.

Kerja sama tersebut mencakup hampir seluruh rantai nilai bisnis properti, mulai dari pembiayaan korporasi bagi pengembang, dukungan pembiayaan bagi kontraktor dan pemasok, hingga pembiayaan konsumen berupa kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA). Paramount Enterprise dikenal sebagai pengembang kawasan terpadu Gading Serpong di Tangerang, Banten, dengan portofolio yang membentang dari hunian tapak, area komersial, hingga properti hospitality.

Layanan Perbankan Terintegrasi dalam Rantai Nilai Properti

Konsep perbankan terintegrasi berarti bank tidak hanya berperan sebagai pemberi kredit, tetapi juga sebagai mitra transaksi: cash management, rekening bersama (escrow) untuk transaksi jual beli, payroll karyawan, sampai pembayaran digital melalui kanal Livin' by Mandiri bagi penghuni kawasan. Bagi pengembang, pola semacam ini mempercepat perputaran kas dan memperkuat transparansi arus dana proyek. Bagi bank, skema ini memperdalam pangsa pasar ritel sekaligus menjaga kualitas aset, karena bank memiliki visibilitas penuh terhadap kesehatan keuangan proyek yang dibiayai.

Aspek keberlanjutan menjadi poin penting. Pengembangan kawasan berkelanjutan umumnya mengacu pada efisiensi energi, pengelolaan air, ruang terbuka hijau, dan sertifikasi bangunan hijau. Bank Mandiri sebelumnya mencatatkan portofolio pembiayaan berkelanjutan di atas Rp 270 triliun, sehingga kolaborasi ini berpotensi memperbesar porsi kredit hijau perseroan.

Di Satu Sisi: Fundamental Properti Menopang Ekspansi

Di satu sisi, fundamental sektor properti menunjukkan tren membaik. Data BPS mencatat sektor konstruksi tumbuh sekitar 7% year-on-year pada kuartal III-2024, jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,95% pada periode yang sama. Survei Bank Indonesia menunjukkan Indeks Harga Properti Residensial mengalami kenaikan di kisaran 1,7% year-on-year, sinyal bahwa permintaan hunian masih tumbuh meski moderat.

Dari sisi pembiayaan, KPR industri perbankan tumbuh dua digit di kisaran 11% year-on-year, ditopang relaksasi rasio loan to value (LTV) hingga 100% serta insentif PPN yang ditanggung pemerintah untuk rumah tapak dan satuan rumah susun. Likuiditas perbankan juga relatif memadai dengan rasio loan to deposit ratio (LDR) industri sekitar 84%, artinya ruang untuk menyalurkan kredit properti masih terbuka. Sentimen pasar terhadap saham perbankan berkapitalisasi besar pun relatif stabil, dengan valuasi Bank Mandiri berada di sekitar 2 kali price to book value.

Di Sisi Lain: Risiko Suku Bunga, Daya Beli, dan Capital Outflow

Di sisi lain, sejumlah risiko perlu dicermati. Rupiah sempat bergerak di atas Rp 16.200 per dolar AS pada awal 2025, mencerminkan tekanan capital outflow seiring kehati-hatian investor global terhadap arah kebijakan The Fed. Jika tekanan berlanjut, ruang pemangkasan BI Rate bisa menyempit, sehingga bunga KPR berpotensi bertahan tinggi lebih lama dari proyeksi pasar.

Daya beli juga menjadi pekerjaan rumah. Inflasi sepanjang 2024 hanya 1,57% year-on-year, level yang oleh sebagian ekonom dibaca sebagai sinyal lemahnya konsumsi kelas menengah, padahal segmen ini merupakan tulang punggung penjualan rumah komersial. Selain itu, backlog perumahan nasional yang mencapai sekitar 12,7 juta unit lebih banyak tertampung program pemerintah, sementara segmen komersial seperti perkantoran dan ritel di sejumlah kawasan masih menghadapi tantangan okupansi.

Proyeksi: Sinergi Bank dan Pengembang

Ke depan, Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi 2025 tumbuh pada kisaran 4,7% hingga 5,5%, sementara pemerintah mematok 5,2% dalam APBN. Bila proyeksi itu terealisasi, kredit properti diperkirakan tumbuh pada kisaran 9% hingga 11% year-on-year. Sejumlah analis menilai kemitraan bank besar dengan pengembang kawasan merupakan strategi defensif sekaligus ekspansif: defensif karena kualitas debitur lebih terkendali, ekspansif karena membuka ceruk bisnis ritel baru di dalam kawasan.

Dengan demikian, kolaborasi Bank Mandiri dan Paramount Enterprise layak dibaca sebagai bagian dari tren konsolidasi hubungan perbankan dengan sektor properti. Keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh tiga variabel: arah suku bunga, pemulihan daya beli, dan disiplin kedua pihak menjaga prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User