Bank Jakarta Perkuat Talenta Digital Lewat ODP IT Hadapi Transformasi Perbankan

Berdasarkan data Bank Indonesia per kuartal IV 2024, nilai transaksi perbankan digital nasional tercatat mengalami kenaikan 13,1 persen year-on-year hingga menembus kisaran Rp 5.800 triliun per bulan....

Aug 09, 2026 - 15:27
0 0
Bank Jakarta Perkuat Talenta Digital Lewat ODP IT Hadapi Transformasi Perbankan

Berdasarkan data Bank Indonesia per kuartal IV 2024, nilai transaksi perbankan digital nasional tercatat mengalami kenaikan 13,1 persen year-on-year hingga menembus kisaran Rp 5.800 triliun per bulan. Tren ini menegaskan bahwa fundamental industri perbankan Tanah Air semakin bergeser ke kanal digital, sehingga kebutuhan terhadap sumber daya manusia berkompetensi teknologi informasi menjadi krusial. Merespons perubahan lanskap tersebut, Bank Jakarta memperkuat kapasitas talenta teknologinya melalui program Officer Development Program (ODP) Information Technology, jalur rekrutmen dan pengembangan karier yang dirancang khusus untuk mencetak profesional TI perbankan.

Program tersebut menyasar lulusan baru maupun profesional muda dari bidang teknologi informasi, ilmu komputer, dan rekayasa perangkat lunak untuk dibina melalui pelatihan intensif, rotasi penugasan, serta sertifikasi kompetensi. Langkah ini sejalan dengan arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Cetak Biru Transformasi Digital Perbankan yang mendorong bank memperkuat tata kelola teknologi, keamanan siber, dan inovasi layanan kepada nasabah.

Digitalisasi Mengubah Peta Kebutuhan SDM Perbankan

Data Kementerian Komunikasi dan Digital memperkirakan Indonesia membutuhkan tambahan sembilan juta talenta digital hingga 2030, atau rata-rata sekitar 600 ribu orang per tahun. Sektor jasa keuangan termasuk yang paling agresif menyerap tenaga tersebut, seiring meningkatnya adopsi layanan mobile banking, pembayaran digital, dan otomasi proses internal. Rasio kebutuhan terhadap ketersediaan yang timpang membuat kompetisi memperebutkan talenta TI semakin ketat, tidak hanya antarbank, tetapi juga dengan perusahaan teknologi finansial (fintech) dan perusahaan rintisan.

Bagi pembaca awam, Officer Development Program adalah program percepatan karier di mana peserta terpilih menjalani pelatihan terstruktur sebelum ditempatkan pada posisi strategis. Dalam konteks perbankan digital, lulusan program semacam ini diharapkan mengisi posisi seperti pengembang aplikasi, analis data, hingga spesialis keamanan siber yang menjadi tulang punggung layanan digital.

Di Satu Sisi: Investasi Talenta Memperkuat Fundamental

Di satu sisi, investasi pada pengembangan talenta digital dipandang sebagai langkah strategis yang memperkuat fundamental perseroan dalam jangka panjang. Bank dengan kapabilitas teknologi internal yang kuat cenderung lebih efisien karena tidak sepenuhnya bergantung pada vendor eksternal. Efisiensi ini berpotensi menekan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO), indikator yang mengukur seberapa besar biaya yang dikeluarkan bank untuk menghasilkan pendapatan.

"Bank yang berinvestasi pada talenta digital sejak dini akan memiliki daya saing lebih tinggi, karena inovasi produk dan keamanan sistem dikendalikan dari dalam," ujar seorang pengamat perbankan dari lembaga riset di Jakarta.

Sentimen pasar terhadap bank yang aktif bertransformasi digital juga relatif positif. Investor institusional umumnya memasukkan kesiapan teknologi sebagai salah satu variabel penilaian valuasi saham perbankan, di samping rasio kecukupan modal (CAR) dan kualitas aset.

Di Sisi Lain: Biaya Tinggi dan Risiko Eksekusi

Di sisi lain, program pengembangan talenta semacam ini menuntut komitmen anggaran yang tidak kecil. Biaya rekrutmen, pelatihan, sertifikasi, dan retensi talenta TI tergolong tinggi karena standar remunerasi profesi tersebut terus mengalami kenaikan. Terdapat pula risiko kehilangan aset sumber daya, yakni ketika talenta yang telah dilatih justru berpindah ke kompetitor atau perusahaan teknologi global yang menawarkan kompensasi lebih besar.

Selain itu, transformasi digital tidak otomatis menjamin perbaikan kinerja. Jika tidak diikuti tata kelola yang memadai, ekspansi teknologi justru dapat meningkatkan eksposur risiko siber. Data OJK menunjukkan insiden keamanan siber di sektor jasa keuangan masih menjadi perhatian utama regulator, sehingga investasi pada sistem pertahanan berlapis menjadi keharusan, bukan pilihan.

Proyeksi dan Implikasi bagi Industri

Ke depan, tren digitalisasi perbankan diproyeksikan berlanjut seiring penetrasi internet Indonesia yang telah melampaui 79 persen dari total populasi. Bank-bank berkapitalisasi menengah seperti Bank Jakarta berada pada posisi yang menantang: cukup lincah untuk beradaptasi, tetapi harus cermat mengelola likuiditas dan alokasi belanja modal teknologi agar tetap proporsional terhadap skala asetnya.

Bagi industri secara keseluruhan, langkah Bank Jakarta merefleksikan pergeseran paradigma: keunggulan kompetitif perbankan tidak lagi semata ditentukan oleh jumlah kantor cabang, melainkan oleh kualitas portofolio layanan digital dan talenta yang menggerakkannya. Keberhasilan program semacam ODP Information Technology pada akhirnya akan diukur dari kemampuan perseroan mengonversi investasi SDM menjadi inovasi produk, efisiensi biaya, dan kepercayaan nasabah dalam beberapa tahun ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User